Headline

Kasus kuota haji diperkirakan merugikan negara Rp622 miliar.

IRGC Klaim USS Abraham Lincoln Rusak Dirudal

Media Indonesia
13/3/2026 14:26
IRGC Klaim USS Abraham Lincoln Rusak Dirudal
USS Abraham Lincoln.(Al Jazeera)

KORPS Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengeklaim telah melancarkan serangan besar menggunakan rudal dan pesawat tak berawak (drone) terhadap kapal induk Amerika Serikat, USS Abraham Lincoln, pada Jumat pagi (13/3/2026).

Dalam pernyataan resminya, IRGC menyebutkan bahwa kapal induk bertenaga nuklir tersebut mengalami kerusakan signifikan setelah menjadi sasaran operasi militer di wilayah perairan regional. Klaim ini muncul di tengah eskalasi konflik yang kian memanas antara Teheran dan Washington di awal tahun 2026.

Klaim Iran: USS Abraham Lincoln Terpaksa Mundur

Pernyataan IRGC yang dikutip oleh media pemerintah Iran menyebutkan bahwa serangan tersebut merupakan bagian dari operasi gabungan yang melibatkan unit rudal dan udara. Mereka mengeklaim kapal induk tersebut mulai menarik diri dari area operasi menuju perairan internasional akibat dampak serangan.

Namun, pihak Iran tidak merinci jumlah korban jiwa maupun detail teknis kerusakan yang dialami oleh kapal kelas Nimitz tersebut. Rekaman video yang beredar di media sosial diklaim menunjukkan momen serangan, meski para analis intelijen sumber terbuka (OSINT) meragukan keaslian video tersebut dan menduganya sebagai hasil rekayasa AI.

Spesifikasi dan Peran Strategis USS Abraham Lincoln

USS Abraham Lincoln (CVN-72) merupakan kapal induk kelas Nimitz bertenaga nuklir yang menjadi tulang punggung kekuatan laut Amerika Serikat. Kapal ini memiliki sejarah panjang penugasan, terutama untuk mendukung kepentingan AS di Timur Tengah dan Indo-Pasifik.

Dengan kapasitas angkut lebih dari 90 pesawat, termasuk jet tempur F-35C dan F/A-18 Super Hornet, keberadaan kapal induk ini di perairan dekat Iran dianggap sebagai pesan pencegahan (deterrence) yang kuat oleh Washington terhadap aktivitas militer Teheran.

Hingga berita ini diturunkan, situasi di kawasan Teluk tetap berada dalam status siaga tinggi. Para pengamat internasional memperingatkan bahwa perang informasi antara kedua negara dapat memicu salah kalkulasi militer yang berujung pada konflik terbuka yang lebih luas. (Anadolu/I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya