Headline

Prabowo kembali gelar rapat terbatas bahas dampak perang di wilayah Timur Tengah.

Saudi, Emirat, Bahrain Cegat Serangan Drone dan Rudal Balistik Iran

Media Indonesia
11/3/2026 16:57
Saudi, Emirat, Bahrain Cegat Serangan Drone dan Rudal Balistik Iran
Ilustrasi.(Al Jazeera)

KETEGANGAN di kawasan Timur Tengah kian membara setelah Arab Saudi, Bahrain, dan Emirat Arab melaporkan keberhasilan sistem pertahanan udara mereka dalam mencegat gelombang serangan drone dan rudal balistik yang diluncurkan dari Iran pada Selasa (10/3/2026).

Serangan ini menandai eskalasi terbaru dalam konflik regional yang dipicu oleh operasi militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari lalu.

Arab Saudi: Pertahanan Ketat di Objek Vital

Kementerian Pertahanan Arab Saudi menyatakan bahwa sistem pertahanan mereka berhasil menghalau ancaman yang mengarah ke infrastruktur strategis. Di wilayah tenggara, dua pesawat tak berawak (UAV) yang menargetkan ladang minyak Shaybah berhasil ditembak jatuh.

Selain itu, melalui platform media sosial X, otoritas Saudi mengonfirmasi pencegatan enam rudal balistik yang diarahkan ke Pangkalan Udara Pangeran Sultan. Di bagian timur negara tersebut, tepatnya di provinsi Hafar al-Batin, satu rudal dan dua drone tambahan juga berhasil dihancurkan sebelum mencapai daratan.

Emirat dan Bahrain dalam Siaga Tinggi

Kementerian Pertahanan Emirat menegaskan kesiapan penuh dalam melindungi wilayah dan warganya. Berdasarkan data resmi, intensitas serangan udara yang dihadapi Emirat sangat tinggi sejak konflik dimulai.

Statistik Pertahanan Udara Emirat (Maret 2026)

  • Total Drone Terdeteksi: 1.475 unit
  • Drone Berhasil Dihancurkan: 1.385 unit
  • Proyektil Jatuh di Wilayah: 90 unit

Sementara itu, Bahrain merespons serangan dengan mengaktifkan sirene peringatan di seluruh wilayah negara. Kementerian Dalam Negeri Bahrain mendesak masyarakat untuk tetap tenang dan segera berlindung di lokasi aman terdekat guna mengantisipasi dampak serangan.

Akar Eskalasi Regional

Peningkatan aktivitas militer ini merupakan buntut dari serangan bersama yang dilancarkan Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran pada 28 Februari 2026. Operasi tersebut mengakibatkan jatuhnya korban jiwa dalam skala besar, dengan laporan lebih dari 1.200 orang tewas dan 10.000 lainnya luka-luka di pihak Iran.

Teheran merespons dengan meluncurkan serangan rudal dan drone yang menargetkan aset militer AS di seluruh kawasan Teluk serta beberapa lokasi di Israel. Pihak Iran menyebut tindakan ini sebagai langkah pertahanan diri atas agresi yang melanggar kedaulatan mereka.

Masyarakat internasional kini mengkhawatirkan terjadinya perang terbuka yang lebih luas jika upaya deeskalasi tidak segera dilakukan oleh pihak-pihak yang bertikai. (Anadolu/Ant/I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya