Headline

Indonesia tangguhkan pembahasan soal Dewan Perdamaian.

Antisipasi Perang AS-Israel vs Iran, Pakar Minta Pemerintah Perkuat Mitigasi

Rahmatul Fajri
08/3/2026 14:55
Antisipasi Perang AS-Israel vs Iran, Pakar Minta Pemerintah Perkuat Mitigasi
Ilustrasi(Dok Istimewa)

ESKALASI konflik antara Iran dengan aliansi Amerika Serikat (AS) dan Israel di Timur Tengah mulai memberikan dampak serius bagi stabilitas Indonesia. Direktur Institute for Strategic Transformation (IFORSTRA) sekaligus pengamat terorisme, M. Syauqillah, menyoroti pergeseran bahaya konflik ke ruang digital yang memicu fragmentasi sosial. Menurutnya, narasi radikal seperti ajakan jihad, khilafah, hingga sentimen pro-anti Syiah mulai mengeksploitasi emosi publik di media sosial.

"Memanasnya tensi di media sosial memperbesar risiko munculnya lone actor atau pelaku teror tunggal yang teradikalisasi secara mandiri," ujar Syauqillah, melalui keterangannya, Minggu (8/3/2026).

Ia mendesak pemerintah menyiapkan strategi mitigasi komprehensif mulai dari level moderat hingga ekstrem untuk merespons dampak keamanan dan fragmentasi sosial ini.

Dari sisi ekonomi dan ketahanan energi, Dosen Hubungan Internasional Binus University, Tia Mariatul Kibtiah memaparkan bahwa cadangan minyak nasional Indonesia saat ini hanya tersisa untuk 20 hari di tengah ancaman krisis di Selat Hormuz.

"Tingginya ketergantungan impor minyak Indonesia tidak dibarengi dengan kapasitas mitigasi domestik yang memadai," jelas Tia. Kondisi ini diperparah dengan penetapan status siaga tiga oleh TNI guna mengantisipasi kemungkinan demonstrasi massal akibat kerawanan sosial yang dipicu eskalasi global.

Sementara itu, pengamat Timur Tengah dari Universitas Indonesia, M. Syaroni Rofii, menilai konflik ini sebagai perang asimetris yang melibatkan teknologi nuklir AS-Israel melawan keunggulan drone Iran. Ia memprediksi tekanan pada pasokan BBM nasional akan memukul langsung sektor usaha mikro.

Syaroni menyarankan agar Indonesia mengambil jalur shuttle diplomacy untuk tampil sebagai aktor penengah, terutama setelah Iran sempat mengkritik keputusan Indonesia bergabung dengan blok Board of Peace (BoP).

"Indonesia harus berani mengambil peran strategis di kancah global di tengah sikap China dan Rusia yang memilih memantau dari kejauhan," tambahnya. (H-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya