Headline

Indonesia akan alihkan sebagian impor minyak mentah ke AS.

Dampak Perang AS-Iran Mengancam Ekonomi Indonesia, Lestari Moerdijat Minta Pemerintah Siapkan Kebijakan Antisipatif

mediaindonesia.com
04/3/2026 18:11
Dampak Perang AS-Iran Mengancam Ekonomi Indonesia, Lestari Moerdijat Minta Pemerintah Siapkan Kebijakan Antisipatif
Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat.(Dok. pribadi)

KONFLIK antara Amerika Serikat (AS)-Israel dan Iran dinilai berpotensi menimbulkan dampak luas terhadap stabilitas ekonomi dan keamanan global, termasuk bagi Indonesia. 

Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat menegaskan pemerintah harus segera menyiapkan kebijakan yang tepat untuk mengantisipasi berbagai risiko akibat eskalasi perang di Timur Tengah tersebut.

"Amanat Konstitusi UUD 1945 untuk melindungi segenap bangsa Indonesia dan ikut dalam perdamaian dunia mesti menjadi perhatian para pengambil keputusan dalam menyikapi dampak konflik AS-Israel dan Iran," kata Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat dalam sambutannya pada diskusi daring bertema Nuklir atau Pergantian Rezim? Perang Iran dan Pengaruhnya Bagi Indonesia dan Dunia yang digelar Forum Diskusi Denpasar 12, Rabu (4/3).

Diskusi yang dimoderatori Luthfi Assyaukanie, Ph.D (Tenaga Ahli Wakil Ketua MPR RI) itu menghadirkan Dian Wirengjurit (Duta Besar Republik Indonesia untuk Iran periode 2012–2016), Denni Puspa Purbasari, M.Si, Ph.D (Dosen Ilmu Ekonomi Universitas Gadjah Mada), dan Broto Wardoyo, Ph.D (Ketua Departemen Ilmu Hubungan Internasional Universitas Indonesia) sebagai penanggap. Selain itu hadir pula Dr. Hendra Manurung (Dosen Hubungan Internasional Universitas Pertahanan RI).

Langkah wajar

Menurut Lestari, perhatian khusus terhadap konflik AS-Israel dan Iran merupakan langkah wajar mengingat dampaknya berpotensi luas. Rerie, sapaan akrab Lestari, menilai perang antara AS dan Iran merupakan kelanjutan konflik panjang sejak Revolusi Iran 1979.

Ia menegaskan dampak konflik tersebut tidak hanya dirasakan negara-negara Timur Tengah, tetapi juga dunia internasional, termasuk Indonesia. Karena itu, para pemangku kepentingan didorong melahirkan kebijakan yang mampu mengantisipasi berbagai risiko yang muncul.

Duta Besar RI untuk Iran periode 2012–2016 Dian Wirengjurit berpendapat alasan Amerika Serikat menyerang Iran karena ancaman eksistensial terhadap Israel merupakan alasan yang dicari-cari. Menurutnya, justru eksistensi Iran saat ini terancam oleh tekanan AS dan Israel melalui berbagai cara.

Dian juga menilai upaya pergantian rezim di Iran akan menghadapi hambatan besar karena struktur kepemimpinan negara tersebut sangat kuat. Ia menambahkan bahwa membunuh Pemimpin Iran Ali Khamenei tidak serta-merta membuat AS mampu mengambil alih kendali di Iran.

Sementara itu, Dosen Ilmu Ekonomi Universitas Gadjah Mada Denni Puspa Purbasari menyoroti dampak ekonomi global dari konflik tersebut yang berkaitan erat dengan sektor energi, terutama akibat blokade Selat Hormuz sebagai jalur utama distribusi minyak dunia.

Menurut Denni, kondisi tersebut berpotensi meningkatkan biaya logistik serta menurunkan kepercayaan pasar karena meningkatnya risiko politik dan keamanan global. Ia memperkirakan harga minyak dapat melonjak 8–10 persen pada fase awal perang dan berpotensi naik lebih tinggi jika konflik berlangsung lama.

Dampaknya bagi Indonesia, lanjut Denni, akan terlihat pada inflasi, neraca perdagangan eksternal, nilai tukar rupiah, hingga kondisi fiskal negara. Ia menyarankan pemerintah memprioritaskan alokasi anggaran untuk melindungi kelompok masyarakat rentan dari gejolak ekonomi.

Denni juga menilai kekuatan ekonomi domestik akan menjadi faktor penentu dalam menghadapi guncangan ekonomi global akibat konflik tersebut.

Upaya paksa pergantian rezim

Ketua Departemen Ilmu Hubungan Internasional Universitas Indonesia Broto Wardoyo berpendapat perang AS-Israel dan Iran berkaitan dengan upaya paksa pergantian rezim oleh Amerika Serikat. Ia menyebut AS telah menyerang Iran dua kali, yakni pada Juni 2025 dan Februari 2026.

Serangan Juni 2025 menyasar fasilitas nuklir, serta menewaskan sejumlah ahli nuklir dan komandan militer Iran. Sementara serangan Februari 2026 ditujukan untuk memutus rantai kepemimpinan dan struktur komando militer Iran.

Dosen Hubungan Internasional Universitas Pertahanan RI Hendra Manurung menilai respons Iran terhadap serangan AS-Israel merupakan tindakan yang wajar. Ia juga menyatakan kecil kemungkinan Iran menggunakan nuklir sebagai senjata pemusnah massal karena negara tersebut merupakan penandatangan perjanjian nuklir untuk tujuan damai.

Menurut Hendra, terdapat pergeseran tujuan signifikan dalam serangan yang dilakukan AS terhadap Iran. Ia menilai intervensi AS untuk menumbangkan rezim di sejumlah negara kerap meninggalkan konflik berkepanjangan.

Berikan penjelasan transparan

Dalam diskusi tersebut, wartawan senior Usman Kansong menyoroti kekhawatiran masyarakat Indonesia selama lima hari konflik berlangsung, termasuk pertanyaan apakah perayaan Lebaran dapat berlangsung normal.

Ia mengatakan masyarakat mulai khawatir terhadap ketersediaan bahan bakar untuk perjalanan mudik. Usman menilai presiden perlu memberikan penjelasan transparan terkait dampak ekonomi perang AS-Iran terhadap Indonesia serta menyampaikan langkah mitigasi yang disiapkan pemerintah.

Usman juga berharap Indonesia merespons konflik tersebut melalui langkah nyata, termasuk evaluasi keanggotaan Board of Peace serta realokasi anggaran program Makan Bergizi Gratis untuk memperkuat subsidi bahan bakar minyak. (I-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Irvan Sihombing
Berita Lainnya