Headline
Semua hasil kejahatan yang rugikan negara harus dirampas.
Semua hasil kejahatan yang rugikan negara harus dirampas.
Kumpulan Berita DPR RI
DUNIA Islam kembali kehilangan salah satu permata terbaiknya. Prof. Dr. Syeikh Muhammad Hasan Hitou, seorang ulama kharismatik yang dikenal sebagai Syaikhul Ushuliyyin (Guru para ahli metodologi hukum), mengembuskan napas terakhirnya pada Selasa, 24 Februari 2026. Kabar ini membawa duka mendalam bagi ribuan muridnya yang tersebar dari Damaskus, Kuwait, hingga pelosok pesantren di Indonesia.
Beliau bukan sekadar akademisi, melainkan jembatan hidup yang menghubungkan tradisi keilmuan klasik (turats) dengan tantangan dunia modern.
Lahir di Damaskus, Suriah, pada 1943 (1362 H), Muhammad Hasan Hitou tumbuh dalam lingkungan keluarga yang sangat menghargai ilmu. Menariknya, di masa muda, beliau justru sangat menonjol di bidang sains dan matematika. Beliau bahkan sempat berencana melanjutkan studi ke Jerman untuk mempelajari teknologi roket dan satelit.
Baca juga : Siapakah Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani
Namun, jalan hidup membawanya berbelok arah. Beliau memutuskan mendalami ilmu syariah di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir. Meskipun sempat mendapat tentangan dari keluarga yang khawatir akan masa depan ekonomi seorang pengajar agama, tekadnya bulat. Beliau membuktikan kualitasnya dengan meraih gelar Doktor dalam bidang Ushul Fikih dengan predikat Summa Cum Laude.
Nama Syeikh Hasan Hitou sangat harum di telinga para santri dan akademisi di Indonesia. Beliau ialah sosok sentral di balik berdirinya Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Imam Syafii di Cianjur, Jawa Barat. Melalui institusi ini, beliau berupaya mencetak kader ulama yang tidak hanya hafal dalil, tetapi paham metodologi (ushul) dalam berijtihad.
Baca juga : Imam Nawawi Masa Kecil, Pendidikan, Guru, Murid, dan Kitab Karyanya
Selain di Indonesia, kiprah globalnya meliputi:
Baca juga: Mengenal Imam Hanafi Pendiri Mazhab Fikih Pertama
Syeikh Hasan Hitou adalah penulis yang sangat produktif. Salah satu proyek monumentalnya adalah Mausu’ah al-Fiqh al-Syafi’i wa al-Muqaran (Ensiklopedia Fikih Syafi’i dan Perbandingan) yang direncanakan mencapai 160 jilid. Hingga akhir hayatnya, sekitar 60 jilid besar telah terselesaikan dan menjadi rujukan utama akademisi dunia.
Kitabnya yang berjudul Al-Wajiz fi Ushul al-Tasyri' al-Islami menjadi buku wajib di berbagai universitas dan Ma'had Aly di Indonesia karena kemampuannya menyederhanakan logika ushul fikih yang rumit menjadi narasi yang jernih.
Baca juga: Nasihat Imam Syafii tentang Ilmu, Belajar, dan Kemuliaannya
Beliau wafat pada Selasa, 24 Februari 2026, bertepatan dengan waktu adzan Magrib di Kuwait.
Kontribusi terbesarnya adalah pendirian STAI Imam Syafii di Cianjur dan pemberian sanad keilmuan secara langsung kepada banyak dosen serta ulama muda di Indonesia.
Beliau merupakan pakar utama dalam bidang Ushul Fikih (metodologi hukum Islam), Fikih Mazhab Syafi'i, Akidah Asy'ariyyah, dan Ilmu Hadis.
Kepergian beliau meninggalkan lubang besar dalam khazanah keilmuan Islam, namun warisan kitab-kitabnya akan terus menjadi lentera bagi para penuntut ilmu di masa depan.
Baca juga: Urutan 30 Surat Juz Amma Lengkap Arab, Latin, dan Arti
Dalam akunnya di Instagram, Ustaz Muhammad Nuruddin turut menyampaikan dukacita atas meninggalnya Syeikh Hasan Hitou. Berikut tulisannya.
"Kehidupan beliau adalah kehidupan yang sarat dengan keteladanan. Beliau hidup dengan ilmu sepanjang hayat. Dan ketika pulang ia pun mewariskan sesuatu yang telah membawa banyak manfaat. Hidup dengan penuh dedikasi. Pulang di tengah bulan suci. Semoga Allah Swt merahmati Syekh Hasan Hitou sebagaimana Dia merahmati para kekasih-Nya. Kita semua adalah milik Allah. Dan, cepat atau lambat, kita pun pasti akan berpulang kepada-Nya." (I-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved