Headline

Kapolri minta agar anggota Brimob pelaku insiden Tual dihukum seberat-beratnya.

Orang Biasa Jadi Tentara: Perang Ubah Jalan Hidup Warga Ukraina

Dhika Kusuma Winata
24/2/2026 18:59
Orang Biasa Jadi Tentara: Perang Ubah Jalan Hidup Warga Ukraina
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky (tengah-kiri) dan Menteri Pertahanan Jerman Boris Pistorius (tengah-kanan).((Foto arsip/Royanews))

EMPAT tahun perang telah mengubah wajah warga sipil Ukraina. Bom-bom Rusia yang mulai menggempur sejak 24 Februari 2022 silam membuat puluhan ribu orang yang sebelumnya tak pernah memegang senjata beralih menjadi prajurit. Orang-orang biasa kini marak menjadi tentara.

Seiring perang berkepanjangan dan euforia patriotik mereda, gelombang wajib militer terus berlangsung. Pria usia 25-65 tahun dapat dipanggil tanpa batas waktu dinas, sedangkan kalangan perempuan bisa bergabung melalui kontrak.

Salah satunya ialah Olena, 26, yang tidak menyangka akan menjadi serdadu. Dia sebelumnya bekerja sebagai administrator klub malam di Praha. Namun, perang mengubah pilihannya.

Pada Desember 2024, ia pulang ke Ukraina, bergabung dengan militer. Tanpa ikut membela negaranya, dia menilai tak akan ada masa depan.

“Dulu hidup saya penuh kejar-kejaran, dengan waktu, berprestasi, membangun, menghasilkan uang, membuktikan diri. Sekarang, yang penting saudara seperjuangan saya tetap hidup setelah serangan musuh," tutur Olena kepada BBC.

Cerita lain dituturkan Oleh, 37. Mantan pekerja LSM itu tidak pernah bercita-cita menjadi tentara. Ia ragu warga biasa mampu menghadapi militer Rusia. Namun sebulan kemudian ia mendaftar.

Perang pun turut mengubah pandangannya. Ia menyadari pendekatan idealistis tidak cukup menghadapi agresi bersenjata. Baginya, perlawanan merupakan tindakan konkret, bukan sekadar gagasan.

"Dulu penting bagi saya membantu orang lain menemukan jalan mereka. Sekarang saya paham, berpikir positif semata tidak menyelamatkan Anda," ungkapnya.

Anastasia yang baru berusia 19 tahun kini juga menjadi tentara. Dia hanya punya pengalaman bekerja sebagai barista setelah lulus sekolah. Ketertarikannya pada drone membawanya masuk militer pada Maret 2025. Kini, ia menjadi operator drone FPV.

Dia mengakui menjadi perempuan di militer menuntut pembuktian terus-menerus. Pengalaman hampir setahun bertugas membuatnya memahami nilai hidup secara lebih tegas yaitu rasa aman menjadi hal utama.

“Sebelumnya saya belum punya konsep nilai hidup yang jelas karena usia saya. Sekarang saya merasa benar-benar berbeda," tuturnya.

Seorang bioinsinyur bernama Roman, 42, juga akhirnya terjun menjadi prajurit.  Setelah invasi besar-besaran Rusia, ia menjadi relawan medis. Kini ia bertugas di utara Ukraina sebagai paramedis tempur di batalion sistem nirawak.

Roman merupakan salah satu bioinsinyur terkemuka Ukraina dan ahli membuat model 3D untuk rekonstruksi. Dia juga mengaku tak menyangka akhirnya masuk ke militer demi membela negaranya.

“Jika perang tak terjadi, mungkin saya pindah ke Kopenhagen. Saya sering bekerja di sana dengan ahli bedah terbaik,” katanya. (Dhk/P-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Cahya Mulyana
Berita Lainnya