Headline

Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.

Pilpres Thailand: People’s Party Pimpin Polling, Akankah Dijegal Lagi?

Thalatie K Yani
06/2/2026 08:00
Pilpres Thailand: People’s Party Pimpin Polling, Akankah Dijegal Lagi?
People’s Party (eks Move Forward) diprediksi menang besar di Pemilu Thailand. Simak profil Macky Pottasak dan tantangan reformasi di tengah bayang-bayang jegalan hukum.(Instagram)

SOSOK Suttasitt "Macky" Pottasak mewakili wajah baru politik Thailand, muda, idealis, dan kreatif. Mantan produser drama TV di Bangkok ini memilih pulang ke Nakhon Ratchasima untuk terjun ke politik, mengenakan topi jerami ala Luffy dari anime One Piece, simbol perlawanan pemuda Asia, dan membuat konten kebijakan yang viral di media sosial.

"Politik adalah sesuatu yang dibuat membosankan oleh generasi masa lalu. Saya ingin membuatnya menyenangkan," ujar Macky. "Kami tidak punya uang untuk membeli suara. Kami hanyalah warga biasa dengan tekad kuat untuk menyelesaikan masalah lama. Saya rasa warga desa bisa melihat itu."

Jelang pemilu hari Minggu besok, People’s Party (Partai Rakyat) memimpin berbagai jajak pendapat. Namun di Thailand, memenangkan suara rakyat seringkali tidak cukup untuk berkuasa.

Siklus Pembubaran dan Harapan Baru 

People’s Party adalah inkarnasi terbaru dari gerakan reformis yang sebelumnya bernama Move Forward dan Future Forward. Pada pemilu terakhir, Move Forward menang mengejutkan, namun dijegal Senat dan Mahkamah Konstitusi karena janji reformasi militer serta revisi undang-undang lese majeste (penghinaan terhadap kerajaan). Partai tersebut dibubarkan, dan para pemimpinnya dilarang berpolitik.

Kini, di bawah bendera baru dan kepemimpinan Natthaphong Ruengpanyawut, 38, mantan insinyur perangkat lunak, energi perubahan kembali membara. Di wilayah pedesaan seperti tempat Macky berkampanye, masalah ekonomi menjadi isu utama. Utang rumah tangga Thailand termasuk yang tertinggi di Asia, dengan pertumbuhan ekonomi yang lambat di bawah 2%.

Adu Strategi: Reformasi vs Populisme 

People’s Party menawarkan transformasi struktural, mulai dari pengurusan birokrasi, modernisasi pendidikan, hingga amandemen konstitusi buatan militer. Sebaliknya, dua rival utama mereka, Bhumjaithai dan Pheu Thai, lebih fokus pada kebijakan populis.

Pheu Thai menjanjikan hadiah uang tunai nasional, sementara Bhumjaithai yang dipimpin PM Anutin Charnvirakul mengedepankan sentimen nasionalisme. "Saya berjanji akan melindungi tanah kita dengan nyawa saya. Jika Anda ingin perdana menteri yang tidak bisa diintimidasi musuh, pilih partai saya," tegas Anutin saat rapat umum di Bangkok.

Namun, banyak ekonom menilai kebijakan bagi-bagi uang hanyalah solusi jangka pendek. "Paket stimulus ini seperti obat pereda nyeri; semakin sering digunakan, semakin tidak efektif," kata Apichat Satitniramai, profesor ekonomi dari Universitas Thammasat.

Ancaman 'Tangan Tak Terlihat' 

Meski People’s Party diprediksi akan meraih kursi terbanyak, bayang-bayang diskualifikasi kembali muncul. Sebanyak 44 tokoh penting partai tengah menghadapi penyelidikan Komisi Anti-Korupsi Nasional terkait dukungan mereka pada revisi UU lese majeste.

Pendiri gerakan ini, Thanathorn Juangroongruangkit, menilai upaya pembubaran partai justru membuat mereka semakin solid. "Mereka takut pada kami. Mereka takut pada perubahan. Mereka pikir membubarkan partai akan membuat kami mengecil. Faktanya, kami justru semakin besar," tegas Thanathorn kepada BBC.

Kondisi ini menegaskan tantangan demokrasi di Thailand, di mana suara pemilih kerap berbenturan dengan kepentingan lembaga-lembaga non-elektoral yang memiliki kekuatan veto terhadap hasil pemilu. (BBC/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya