Headline
Presiden sebut dampak perang nuklir lintas batas dan jangka panjang.
Presiden sebut dampak perang nuklir lintas batas dan jangka panjang.
Kumpulan Berita DPR RI
NARASI yang dibangun Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS) Amerika Serikat terkait penembakan dua imigran asal Venezuela oleh agen patroli perbatasan di Oregon, Januari lalu, kini mulai runtuh. Bukti-bukti di pengadilan justru mengungkap kontradiksi tajam terhadap pernyataan awal pemerintah.
Pada 8 Januari 2025, DHS mengeklaim agen mereka melakukan penghentian kendaraan yang "ditargetkan" terhadap dua anggota geng kriminal lintas negara, Tren de Aragua. Pemerintah menyebut pengemudi, Luis Niño-Moncada, 33, mencoba menabrak petugas, sementara penumpangnya, Yorlenys Zambrano-Contreras, 32, disebut terlibat dalam aksi penembakan tahun lalu.
Namun, dokumen pengadilan yang diperoleh The Guardian mengungkap fakta sebaliknya. Jaksa Departemen Kehakiman (DoJ) justru menarik kembali tuduhan tersebut di hadapan hakim.
"Kami tidak menyatakan bahwa [Niño-Moncada] adalah anggota geng," ujar Jaksa Thomas Edmonds dalam persidangan.
Klaim DHS bahwa Zambrano-Contreras terlibat dalam penembakan di Portland tahun lalu juga terbantahkan. Berkas FBI justru menunjukkan dalam insiden tersebut, Zambrano-Contreras adalah korban kekerasan seksual dan perampokan, bukan pelaku.
Para ahli hukum menyebut tindakan pemerintah ini sebagai "kampanye hitam" untuk mendehumanisasi imigran guna membenarkan penggunaan kekerasan aparat. Hingga saat ini, baik Niño-Moncada maupun Zambrano-Contreras tidak memiliki catatan kriminal sebelumnya.
Meskipun melibatkan enam agen patroli perbatasan, tidak ada satu pun dari mereka yang mengaktifkan kamera badan (body camera). Rekaman pengawas (CCTV) di lokasi kejadian juga sangat buram dan tidak memperlihatkan momen penembakan secara jelas.
Tanpa bukti video, dakwaan terhadap Niño-Moncada hanya bersandar pada testimoni para agen. Pengacara publik yang membela Niño-Moncada berargumen kliennya dalam kondisi ketakutan luar biasa saat dihentikan mobil-mobil tak bertanda di tengah iklim "teror" terhadap imigran di bawah pemerintahan saat ini.
Skandal di Oregon ini memperpanjang daftar panjang pernyataan palsu pemerintah AS terkait insiden penembakan oleh agen imigrasi. Pola serupa sebelumnya ditemukan dalam kasus kematian Renee Good dan Alex Pretti di Minneapolis, di mana bukti video kemudian membantah klaim awal aparat.
"Pemerintah federal tidak bisa dipercaya. Posisi dasar kita seharusnya adalah skeptisisme dan memahami bahwa mereka sering berbohong," tegas Sameer Kanal, anggota dewan kota Portland.
Saat ini, Niño-Moncada masih ditahan dengan tuduhan penyerangan terhadap petugas, sementara Zambrano-Contreras hanya dikenakan pelanggaran ringan terkait administrasi masuk negara. Pakar hukum menilai kredibilitas agen-agen federal akan menjadi taruhan utama jika kasus ini berlanjut ke persidangan. (The Guardian/Z-2)
Paus Leo menyerukan refleksi mendalam atas perlakuan terhadap imigran di AS di bawah pemerintahan Donald Trump.
CNN dianggap mempromosikan aplikasi IceBlock yang memungkinkan pengguna melacak dan mungkin menghindari agen Imigrasi dan Penegakan Bea Cukai (ICE).
Pembangunan fasilitas penahanan imigran kontroversial di Everglades, Florida—dijuluki "Alligator Alcatraz"—menuai kecaman dari aktivis.
Donald Trump dan Ron DeSantis tampil kompak membuka pusat penahanan imigran yang dijuluki Alligator Alcatraz di Everglades, Florida.
Setelah pencabutan jam malam, ketegangan di Los Angeles mulai mereda meski protes imigrasi masih berlanjut di berbagai kota AS.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved