Headline
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
Kumpulan Berita DPR RI
PEMERINTAH Jerman menyatakan rezim Iran di bawah Ayatollah Ali Khamenei berada di ambang kejatuhan, di tengah meningkatnya tekanan internasional dan ancaman intervensi militer Amerika Serikat (AS) terkait penindakan keras terhadap gelombang protes di Teheran.
Pernyataan keras itu disampaikan Kanselir Jerman Friedrich Merz dalam konferensi pers bersama Perdana Menteri Rumania Ilie Bolojan pada Rabu (28/1) waktu setempat.
"Sebuah rezim yang hanya dapat mempertahankan kekuasaan melalui kekerasan dan teror terhadap penduduknya sendiri, hari-harinya sudah dihitung," kata Merz dikutip AFP, Kamis (29/1).
"Mungkin hanya beberapa minggu lagi, tetapi rezim ini tidak memiliki legitimasi untuk memerintah negara ini," lanjutnya.
Merz juga menyinggung tingginya korban jiwa selama gelombang demonstrasi terbaru.
"Jumlah korban tewas yang dilaporkan mencapai ribuan selama demonstrasi baru-baru ini menunjukkan bahwa rezim ulama tampaknya hanya dapat mempertahankan kekuasaan melalui teror semata," sebutnya.
Sementara itu, kelompok hak asasi manusia Human Rights Activists News Agency (HRANA) yang berbasis di Amerika Serikat melaporkan telah memverifikasi lebih dari 6.200 kematian sejak demonstrasi pecah pada akhir Desember dan mencapai puncaknya pada 8-9 Januari.
Mayoritas korban disebut merupakan demonstran yang tewas akibat tindakan pasukan keamanan.
Para aktivis memperingatkan jumlah korban sebenarnya kemungkinan jauh lebih besar, mengingat pemadaman internet yang masih berlangsung menyulitkan verifikasi informasi mengenai skala kekerasan tersebut.
Dalam kesempatan yang sama, Merz menyatakan dukungannya terhadap inisiatif Italia untuk mendorong Uni Eropa menetapkan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran sebagai organisasi teroris.
"Saya sangat menyesal bahwa masih ada satu atau dua negara di Uni Eropa yang belum siap mendukung langkah tersebut," ujar Merz.
Di Washington, Presiden AS Donald Trump pada hari yang sama kembali melontarkan ancaman keras terhadap Teheran. Trump memperingatkan bahwa Iran dapat menghadapi serangan yang jauh lebih berat dibandingkan serangan terhadap tiga fasilitas nuklirnya pada Juni tahun lalu.
Dalam unggahan di Truth Social, Trump menulis bahwa armada besar tengah bergerak mendekati Iran.
"Mereka siap untuk memenuhi misinya dengan cepat dan keras," tulisnya.
Trump mendesak Iran untuk mencapai kesepakatan terkait masa depan program nuklirnya. "Atau serangan berikutnya akan jauh lebih buruk," lanjutnya.
Iran menolak ancaman tersebut. Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi menegaskan bahwa negaranya tidak akan menahan diri jika diserang lebih dulu.
"Jika Trump menyerang lebih dulu, Iran akan memberikan respons yang tepat, bukan respons yang proporsional," ujarnya kepada wartawan.
Gharibabadi menambahkan bahwa balasan Iran dapat menargetkan pangkalan-pangkalan militer AS di kawasan dan memperingatkan bahwa Israel juga berpotensi mengalami kerugian.
Sikap serupa disampaikan Misi Tetap Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Dalam unggahan di platform X, misi tersebut mengingatkan dampak perang sebelumnya yang dilancarkan AS.
"Terakhir kali AS melakukan kesalahan dengan berperang di Afghanistan dan Irak, mereka menghamburkan lebih dari US$7 triliun dan kehilangan lebih dari 7.000 nyawa warga Amerika," tulis pernyataan tersebut.
"Iran siap untuk dialog berdasarkan rasa saling menghormati dan kepentingan bersama, tetapi jika dipaksa, mereka akan membela diri dan merespons seperti belum pernah terjadi sebelumnya!" lanjut unggahan itu.
Ketegangan semakin meningkat setelah kapal induk USS Abraham Lincoln tiba di Timur Tengah pekan ini, didampingi tiga kapal perusak bersenjata rudal jelajah Tomahawk.
Selain membawa jet tempur F-35C dan F/A-18, Amerika Serikat juga memindahkan jet tempur F-15E Strike Eagle, sistem pertahanan udara Patriot, serta THAAD ke kawasan tersebut dalam beberapa hari terakhir.
Iran sendiri berulang kali memperingatkan Trump agar tidak melakukan kesalahan perhitungan. Pada akhir pekan, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menyatakan pihaknya lebih siap dari sebelumnya, siap menembak demi mempertahankan negara, serta menjanjikan konsekuensi berat atas setiap agresi dari Amerika Serikat atau Israel. (Fer/I-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved