Headline

Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.

Bank Sentral Iran Gunakan Mata Uang Kripto Stablecoin Tether

Wisnu Arto Subari
21/1/2026 20:00
Bank Sentral Iran Gunakan Mata Uang Kripto Stablecoin Tether
Ilustrasi.(Freepik)

BANK sentral Iran tampaknya menggunakan sejumlah besar mata uang kripto yang didukung oleh politikus Inggris, Nigel Farage, yaitu stablecoin Tether. Ini menurut laporan baru yang dilansir The Guardian, Rabu (21/1).

Perusahaan analitik kripto, Elliptic, mengatakan melacak setidaknya US$507 juta mata uang kripto yang diterbitkan oleh Tether sebagai perusahaan yang dipuji oleh pemimpin Reform UK. Alirannya melewati rekening yang tampaknya dikendalikan oleh bank sentral Iran.

Laporan Elliptic melacak akumulasi sistematis stablecoin Tether oleh bank sentral Iran, jenis kripto yang dipatok ke dolar AS sehingga dapat dengan mudah ditukar dengan mata uang yang stabil.

Hal ini menunjukkan strategi canggih untuk melewati sistem perbankan global. Ini mungkin untuk berdagang atau menopang rial, mata uang Iran.

Dengan ribuan orang yang dipastikan tewas dalam penindasan brutal terhadap protes, penggunaan stablecoin Tether oleh rezim Iran menimbulkan pertanyaan bagi Farage tentang dukungannya terhadap mata uang kripto tersebut.

Pada September, Farage mengungkapkan rencananya untuk meningkatkan nilai Tether selama pertemuan dengan gubernur Bank of England, Andrew Bailey.

"Saya akan pergi besok untuk mengatakan ini," kata Farage kepada radio LBC. "Anda tahu, Tether adalah stablecoin. Stablecoin adalah cara uang berpindah dari mata uang konvensional ke mata uang kripto dan kembali lagi. Tether akan segera dinilai sebagai perusahaan senilai US$500 miliar."

Farage mengkritik Bailey karena memberlakukan pembatasan pada kripto dan mendesak Inggris untuk mengejar ketertinggalan dengan AS. Donald Trump, yang memilih Howard Lutnick, bankir Tether, sebagai menteri perdagangannya, membalikkan upaya mengawasi mata uang digital.

"Anda tahu, stablecoin, kripto, dunia ini sangat besar, dan saya telah mendesak selama bertahun-tahun agar London merangkulnya. Kita harus menjadi pusat perdagangan global untuk hal-hal ini, di bawah regulasi yang tepat."

Salah satu pemegang saham utama Tether, investor teknologi Christopher Harborne, ialah donor terbesar Reform. Pengacara Harborne mengatakan bahwa Harborne, yang tidak memegang jabatan eksekutif di Tether, tidak bertanggung jawab atas aktivitas ilegal yang dilakukan oleh para penggunanya. 

Tuduhan bahwa Harborne mendapat keuntungan dari penggunaan stablecoin Tether oleh Iran ialah, "Omong kosong tanpa dasar," kata para pengacara. 

Seorang juru bicara Reform UK mengatakan bahwa banyak perusahaan dan organisasi di seluruh dunia menggunakan Tether. "Semua donasi kepada Reform UK mematuhi hukum dan peraturan pemilu. Kami secara ketat memeriksa setiap donasi. Kami terus aktif mendukung rakyat Iran dalam perjuangan mereka untuk kebebasan."

Permintaan yang meningkat pesat untuk stablecoin Tether--yang dikenal sebagai USDT--menghasilkan keuntungan besar dari cadangan mata uang riil yang dipegang perusahaan untuk mempertahankan patokannya terhadap dolar. Keuntungan tahunan Tether sebesar US$13 miliar setara dengan satu setengah kali lipat keuntungan McDonald's.

Sebagian dari permintaan tersebut berasal dari sumber ilegal. Menghadapi sanksi AS, PBB, dan sanksi lain yang mempersulit perdagangan, pembelian mata uang asing, dan kepemilikan rekening di sebagian besar bank, tampaknya warga Iran dan penguasa mereka beralih ke stablecoin Tether.

Tahun lalu, Israel mengungkapkan puluhan akun kripto yang digunakan oleh Garda Revolusi Iran (IRGC). Hal itu mendorong seorang pengusaha Iran terkemuka untuk mengeluh di X tentang kegagalan rezim untuk merahasiakan transaksi mereka. Unggahannya berisi dua nomor akun kripto yang menurut pengusaha tersebut digunakan oleh bank sentral Iran.

Melalui pengungkapan yang tampaknya tidak disengaja itu, para peneliti Elliptic menemukan hubungan antara 50 akun. Mereka menyimpulkan dengan tingkat kepercayaan yang tinggi bahwa akun-akun tersebut dikendalikan oleh bank sentral Iran.

Seorang perwakilan Tether tidak menjawab pertanyaan tentang penggunaan stablecoin mereka oleh bank sentral Iran. "Tether mempertahankan kebijakan tanpa toleransi terhadap penggunaan produk keuangan kami secara kriminal," kilahnya.

Perwakilan tersebut mengatakan Tether mengikuti pedoman sanksi AS. "Kami bekerja sama erat dengan penegak hukum di seluruh dunia untuk mengidentifikasi dan segera, atas permintaan, membekukan aset untuk mencegah pergerakan lebih lanjut setiap kali aset tersebut diidentifikasi terkait dengan aktivitas ilegal atau pelaku kejahatan."

Mereka menambahkan bahwa Tether berkolaborasi dengan lebih dari 310 lembaga penegak hukum di 62 negara dan membekukan lebih dari US$3,4 miliar aset yang terkait dengan aktivitas kriminal.

Tether membekukan rekening Garda Revolusi yang dicurigai yang diidentifikasi oleh Israel tahun lalu. Akan tetapi sebagian besar rekening yang tampaknya digunakan oleh bank sentral Iran tampaknya masih aktif. (I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya