Headline

Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.

6 Negara yang tidak Merayakan Tahun Baru pada 1 Januari

Nike Amelia Sari
01/1/2026 14:34
6 Negara yang tidak Merayakan Tahun Baru pada 1 Januari
6 Negara yang tidak Merayakan Tahun Baru.(Freepik)

PERGANTIAN tahun identik dengan pesta kembang api, bunyi terompet, serta momen berkumpul bersama keluarga dan sahabat. Tanggal 1 Januari pun sering dianggap sebagai awal baru untuk menyusun resolusi dan harapan.

Namun, tidak semua negara di dunia merayakan Tahun Baru pada 1 Januari. Di beberapa wilayah, pergantian tahun ditentukan oleh kalender keagamaan, budaya lokal, atau sistem penanggalan tradisional yang berbeda dari kalender Masehi.

Berikut enam negara yang tidak menjadikan 1 Januari sebagai perayaan Tahun Baru, dirangkum dari situs Go2Tutors.

1. Arab Saudi

Arab Saudi menggunakan kalender Hijriah sebagai sistem penanggalan resmi negara. Tahun baru di Arab Saudi dimulai pada 1 Muharram, bukan 1 Januari.

Bagi masyarakat Muslim konservatif, perayaan Tahun Baru Masehi dianggap tidak sesuai dengan ajaran Islam. Karena itu, tidak ada perayaan resmi maupun perayaan publik saat pergantian tahun Masehi.

2. Brunei Darussalam

Brunei Darussalam juga tidak merayakan Tahun Baru Masehi secara terbuka. Sejak 2014, Sultan Hassanal Bolkiah melarang perayaan Natal dan Tahun Baru di ruang publik demi menjaga nilai-nilai Islam.

Aktivitas seperti memasang dekorasi, mengenakan atribut perayaan, atau mengadakan pesta Tahun Baru dianggap bertentangan dengan prinsip keagamaan yang dianut negara tersebut.

3. Vietnam

Bagi masyarakat Vietnam, perayaan Tahun Baru yang paling penting bukanlah 1 Januari, melainkan Hari Raya Tết, yang bertepatan dengan Tahun Baru Imlek.

Persiapan Tết dilakukan jauh hari, mulai dari membersihkan rumah, membeli pakaian baru, hingga menghias rumah dengan bunga persik dan pohon kumquat. Perayaan berlangsung selama beberapa hari dengan tradisi jamuan keluarga, penghormatan leluhur, dan pemberian angpao kepada anak-anak.

4. China

Di China, perayaan Tahun Baru Masehi memang dikenal, terutama di kalangan generasi muda. Namun secara budaya, masyarakat lebih memprioritaskan Tahun Baru Imlek atau Festival Musim Semi.

Perayaan ini berlangsung hingga 15 hari dan diakhiri dengan Festival Lentera. Tradisi yang dilakukan meliputi mudik besar-besaran, dekorasi serba merah, petasan, jamuan keluarga, serta pembagian amplop merah sebagai simbol keberuntungan.

5. Ethiopia

Ethiopia memiliki sistem kalender sendiri yang berbeda sekitar tujuh hingga delapan tahun dari kalender Gregorian. Tahun Baru Ethiopia, yang disebut Enkutatash, jatuh pada 11 atau 12 September saat tahun kabisat.

Perayaan ini menandai berakhirnya musim hujan dan datangnya musim semi. Tradisi yang dilakukan meliputi pesta keluarga, pertukaran bunga, nyanyian tradisional, serta anak-anak yang berkeliling menawarkan lukisan untuk mendapatkan hadiah kecil. Sementara itu, 31 Desember biasanya berlalu tanpa perayaan khusus.

6. Iran

Iran merayakan Tahun Baru melalui tradisi kuno bernama Nowruz, yang telah berlangsung lebih dari 3.000 tahun. Nowruz dirayakan saat ekuinoks musim semi, biasanya pada bulan Maret.

Keluarga menyiapkan meja Haft-sin, yang berisi tujuh benda simbolis berawalan huruf “S” dalam bahasa Persia. Selain itu, masyarakat melakukan tradisi bersih-bersih rumah sebagai simbol awal baru. Rangkaian perayaan berlangsung selama 13 hari dan ditutup dengan piknik bersama di alam terbuka pada hari Sizdah Bedar. (Z-10)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Gana Buana
Berita Lainnya