Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

Dapatkan Cadangan Emas Bawah Laut, Eksplorasi Mineral Tiongkok Digencarkan

Ferdian Ananda Majni
22/12/2025 12:33
Dapatkan Cadangan Emas Bawah Laut, Eksplorasi Mineral Tiongkok Digencarkan
Lepas pantai Laizhou, wilayah Yantai, Provinsi Shandong, tempat Tiongkok menemukan cadangan emas bawah laut.(Dok. Google Maps)

PEMERINTAH Tiongkok menemukan cadangan emas bawah laut di lepas pantai Laizhou, wilayah Yantai, Provinsi Shandong.Temuan emas bawah laut itu telah mendorong total cadangan emas terbukti Laizhou melampaui 3.900 ton, setara sekitar 26% dari cadangan emas nasional Tiongkok,

Berkat temuan emas bawah laut yang disebut terbesar di Asia itu, wilayah Yantai menjadi kawasan di Tiongkok yang terbesar dalam hal cadangan dan produksi emas. Sejalan dengan itu, Tiongkok terus mempercepat eksplorasi mineral melalui pengembangan teknologi mutakhir.

Para ahli geologi Tiongkok kini memanfaatkan kecerdasan buatan, sistem radar penembus tanah berdaya tinggi serta satelit eksplorasi mineral berpresisi tinggi untuk memperluas pencarian sumber daya.

Upaya tersebut tidak hanya membuahkan hasil di sektor emas. Sebuah mineral baru bernama Jinxiuite baru-baru ini diakui oleh Asosiasi Mineralogi Internasional, sebagaimana dilaporkan kantor berita Xinhua.

Mineral tersebut merupakan sulfida nikel-bismut-antimon-arsenik yang memiliki aplikasi penting di industri kedirgantaraan, kimia, dan manufaktur baterai, serta dinilai signifikan mengingat kekurangan kobalt yang akut di Tiongkok.

Dari sisi pendanaan, Tiongkok menginvestasikan 115,99 miliar yuan (US$16,47 miliar) untuk eksplorasi geologi sepanjang tahun lalu. Sejak dimulainya rencana lima tahun saat ini pada 2021, total belanja eksplorasi mineral hampir mencapai 450 miliar yuan, yang telah menghasilkan penemuan 150 deposit mineral di seluruh negeri, menurut data Kementerian Sumber Daya Alam.

Penemuan emas bawah laut ini terjadi di tengah lonjakan harga emas global, yang dipicu oleh ketidakstabilan mata uang, meningkatnya ketegangan geopolitik, serta pembelian agresif oleh bank sentral, terutama di negara-negara berkembang yang berupaya mendiversifikasi cadangan devisa mereka. (H-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri Rosmalia
Berita Lainnya