Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
NASA dan National Snow and Ice Data Center (NSIDC) melaporkan bahwa luas es laut di Antarktika (kutub selatan) menunjukkan tren penurunan meskipun wilayah ini biasanya lebih stabil dibandingkan Arktik (kutub utara). Es laut di Arktik mencapai titik terendahnya pada 10 September 2025, dengan luas 1,78 juta mil persegi atau sekitar 4,6 juta kilometer persegi.
Angka ini sama dengan rekor tahun 2008, menjadikannya yang terendah ke-10 sepanjang sejarah pengamatan.
Namun, berdasarkan pantauan NASA, data tahun 2025 menunjukkan bahwa cakupan es di sekitar Antartika lebih rendah dari rata-rata, berbeda dengan tren sebelum 2015 yang sempat menunjukkan peningkatan. Kondisi ini menimbulkan perhatian para ilmuwan karena es laut berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem dan iklim global.
Menurut Nathan Kurtz, kepala Laboratorium Ilmu Kriosfer NASA, sistem es di Antarktika sangat kompleks sehingga sulit untuk memprediksi perubahan es secara tepat. Faktor-faktor seperti arus laut, suhu atmosfer, dan pola cuaca berperan penting dalam fluktuasi es di wilayah ini.
“Ini membuat prediksi dan pemahaman mengenai perubahan es di kawasan ini menjadi lebih sulit dibandingkan dengan Arktik,” ujarnya dilansir dari laman NASA.
Walt Meier dari NSIDC menambahkan bahwa belum jelas apakah rendahnya cakupan es saat ini merupakan fenomena sementara atau jangka panjang. Oleh karena itu, pemantauan berkelanjutan tetap dilakukan untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas mengenai perubahan yang terjadi.
Sejak tahun 1978, NASA dan NOAA telah memanfaatkan berbagai satelit untuk memantau es laut di kutub secara terus-menerus. Mulai dari satelit Nimbus-7, Advanced Microwave Scanning Radiometer, hingga ICESat-2, data yang dikumpulkan tidak hanya mencatat luas permukaan es, tetapi juga ketebalannya.
ICESat-2 menggunakan laser untuk mengukur tinggi es dengan mencatat waktu yang dibutuhkan sinar laser untuk memantul dari permukaan es kembali ke satelit. Menurut Angela Bliss, asisten kepala Laboratorium Ilmu Kriosfer NASA, catatan ini termasuk salah satu yang terpanjang dan paling konsisten di dunia, memungkinkan ilmuwan melihat kondisi es setiap hari di Arktik dan Antarktika selama 47 tahun terakhir.
Menurut NASA Penurunan es di Antarktika tidak lagi hanya menjadi indikator perubahan iklim global, tetapi juga memiliki dampak langsung terhadap lingkungan sekitar. Berkurangnya es laut dapat mempengaruhi arus laut, suhu air, dan keseimbangan ekosistem yang menjadi habitat berbagai hewan laut, seperti penguin, anjing laut, dan spesies lain yang bergantung pada es sebagai tempat hidup atau berburu. (NASA/Z-10)
Di Antarktika, rata-rata presipitasi di pedalaman hanya sekitar 50 mm per tahun, sebagian besar berupa salju atau kristal es. Bahkan, di Lembah Kering McMurdo di benua Antartika
Aurora merupakan salah satu fenomena alam paling memukau yang terjadi di langit bumi.
Explorer's Grand Slam adalah gelar prestisius bagi pendaki yang berhasil menaklukkan Seven Summits dan mencapai Kutub Utara serta Kutub Selatan.
BUMI merupakan magnet raksasa. Sebagai magnet raksasa, Bumi memiliki kutub magnet, yaitu kutub utara magnet dan kutub selatan magnet.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved