Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu tidak pernah goyah. Sejak serangan brutal Hamas pada 7 Oktober 2023 yang menewaskan 1.200 orang dan menyandera 251 warga Israel, Netanyahu–sebelum gencatan senjata terjadi Oktober 2025–berulang kali menyatakan satu tujuan utama: Hamas harus dimusnahkan sepenuhnya dari Gaza – baik sayap militer maupun politiknya.
Bulan Oktober 2025 ketika gencatan senjata tercapai, Netanyahu menegaskan bahwa perang di Gaza tidak akan berakhir sampai Hamas melucuti senjatanya.
Bagi Israel, Hamas bukan sekadar kelompok bersenjata biasa. Hamas tercatat dalam piagam pendiriannya ingin menghancurkan negara Israel. Selama 18 tahun berkuasa di Gaza sejak 2007, Hamas telah:
Netanyahu menyebut Hamas sebagai “ISIS versi Gaza”. Menurutnya, membiarkan Hamas tetap eksis sama saja membiarkan bom waktu yang siap meledak kapan saja.
Pemerintah Israel mendefinisikan kemenangan mutlak atas Hamas dengan lima poin utama:
Sejak November 2023, Israel menerapkan strategi bertahap yang sangat sistematis:
Pasukan IDF menguasai Gaza utara (2023–2024), lalu Khan Younis dan Rafah (2024–2025). Ribuan terowongan Hamas dihancurkan, ratusan peluncur roket disita.
Beberapa nama besar yang sudah berhasil dilumpuhkan:
Israel bekerja sama dengan AS dan negara Teluk untuk memutus aliran uang dari Qatar dan Iran ke Hamas.
Netanyahu menolak otoritas Palestina (PA) kembali berkuasa di Gaza. Israel mengusulkan pemerintahan teknokratik lokal yang didukung negara-negara Arab moderat, dengan pengawasan keamanan tetap di tangan Israel untuk beberapa tahun ke depan.
Setiap kali ada usulan gencatan senjata panjang, Netanyahu langsung menolak. Alasannya sederhana:
“Kami sudah belajar dari masa lalu. Gencatan senjata hanya memberi Hamas waktu bernapas,” ujar Netanyahu.
Perang panjang ini memang menimbulkan korban sipil yang sangat besar di Gaza. Menurut data Kementerian Kesehatan Gaza (yang dikuasai Hamas), lebih dari 43.000 orang tewas hingga November 2025. Israel mengatakan sebagian besar adalah anggota atau pendukung Hamas, dan menyalahkan Hamas karena berperang dari dalam pemukiman padat.
Mahkamah Pidana Internasional (ICC) bahkan mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Netanyahu dan menteri pertahanan Yoav Gallant. Namun Israel menolak yurisdiksi ICC dan tetap melanjutkan operasi.
Benjamin Netanyahu sangat yakin bahwa 2025–2026 akan menjadi tahun akhir kekuasaan Hamas di Gaza. Meski perlawanan sporadis mungkin masih ada, kemampuan Hamas untuk melancarkan serangan besar seperti 7 Oktober sudah hampir nol.
Bagi Israel, ini adalah perang untuk kelangsungan hidup negara. Bagi Netanyahu, menghancurkan Hamas juga menjadi warisan politik terbesarnya. Namun, misi Netanyahu tersebut harus berhadapan dengan kenyataan berupa tercapainya kesepakatan gencatan senjata yang diinisiasi Presiden AS Donald Trump serta sejumlah negara di kawasan.
Meski gencatan senjata diberlakukan pada 10 Oktober 2025, Kantor Media Pemerintah Gaza melaporkan pada Sabtu (22/11/2025) bahwa Israel telah melanggar kesepakatan setidaknya 497 kali.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved