Headline

Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.

Krisis Air Memburuk, Iran Terancam Pemutusan Pasokan

Ferdian Ananda Majni
09/11/2025 22:14
Krisis Air Memburuk, Iran Terancam Pemutusan Pasokan
Bendera Iran.(Al Jazeera)

KETINGGIAN air di waduk utama yang memasok Kota Mashhad, Iran bagian timur laut, anjlok di bawah tiga persen, menandai titik kritis dalam krisis air yang semakin parah di negara itu. Media setempat pada Minggu (9/11) melaporkan bahwa kondisi ini mengancam pasokan air bagi jutaan warga di kota suci tersebut.

Kepala Eksekutif Perusahaan Air Mashhad, Hossein Esmaeilian, mengatakan kepada kantor berita ISNA bahwa penyimpanan air di bendungan Mashhad kini telah turun menjadi kurang dari tiga persen.

Dia menegaskan bahwa situasi saat ini menunjukkan bahwa pengelolaan penggunaan air bukan lagi sekadar rekomendasi, melainkan telah menjadi keharusan.

Mashhad, yang berpenduduk sekitar empat juta orang, sangat bergantung pada empat bendungan utama untuk memenuhi kebutuhan air. Menurut Esmaeilian, konsumsi air di kota itu kini mencapai 8.000 liter per detik, sementara hanya 1.000 hingga 1.500 liter per detik yang dapat dipasok dari bendungan.

Krisis ini terjadi di tengah peringatan serupa dari otoritas di Teheran. Lima bendungan utama yang memasok ibu kota juga berada dalam kondisi kritis. 

Satu bendungan dilaporkan telah kering sepenuhnya. Bendungan lain hanya menyimpan air kurang dari delapan persen kapasitasnya.

"Jika masyarakat dapat mengurangi konsumsi hingga 20 persen, tampaknya mungkin untuk mengelola situasi tanpa menjatah atau memutus pasokan air," kata Esmaeilian dikutip AFP, Minggu (9/11).

Namun, ia memperingatkan bahwa rumah tangga dengan tingkat konsumsi tertinggi bisa menjadi yang pertama menghadapi pemutusan pasokan.

Di tingkat nasional, 19 bendungan besar dilaporkan mengering, menurut Abbasali Keykhaei dari Perusahaan Manajemen Sumber Daya Air Iran, dikutip kantor berita Mehr pada akhir Oktober.

Presiden Masoud Pezeshkian memperingatkan bahwa tanpa hujan sebelum musim dingin, bahkan Teheran bisa menghadapi evakuasi, meski ia tidak menjelaskan lebih lanjut. Iran saat ini mengalami kekeringan selama berbulan-bulan yang memperburuk krisis air di berbagai wilayah.

Pada musim panas lalu, pemerintah sempat menetapkan hari libur umum di Teheran untuk menekan konsumsi air dan energi, setelah ibu kota mengalami pemadaman listrik hampir setiap hari selama gelombang panas ekstrem.

Sementara itu, sejumlah surat kabar lokal mengkritik keras kebijakan pemerintah yang dinilai memperparah krisis. Harian reformis Etemad menuding penunjukan pejabat-pejabat tidak kompeten di lembaga lingkungan sebagai penyebab utama kelumpuhan pengelolaan air. 

Surat kabar Shargh menambahkan bahwa iklim telah dikorbankan demi politik. Kondisi ini menyoroti kurangnya prioritas pemerintah terhadap kebijakan lingkungan yang berkelanjutan. (I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya