Headline

Seorang mahasiswa informatika membuat map Aksi Kamisan di Roblox.

Remaja Palestina Mengaku Disiksa dan Dilecehkan Seksual di Tahanan Israel

Khoerun Nadif Rahmat
30/8/2025 14:16
Remaja Palestina Mengaku Disiksa dan Dilecehkan Seksual di Tahanan Israel
Tentara Israel menangkap anak Palestina.(Al Jazeera)

SEJUMLAH remaja Palestina menuturkan pengalaman traumatis berupa penyiksaan dan pelecehan seksual saat berada dalam tahanan militer Israel. Sami, 16, mengatakan ia ditangkap pada 29 Juni lalu ketika sedang menuju lokasi distribusi bantuan di Rafah

"Mereka menelanjangi saya dan melakukan penggeledahan tubuh, lalu membawa saya ke penjara di Israel," ujarnya dikutip dari ABC. Ia mengaku selama sepekan berada di ruang sel sempit tanpa cahaya matahari dan kerap disiksa dengan pukulan serta setrum listrik.

Mahmoud, 17, menyampaikan pengalaman serupa. "Mereka menghina, memaki, menuduh kami dari Hamas. Kami dibawa ke Kerem Shalom dalam keadaan telanjang. Di sana penyiksaan dimulai," katanya. 

Ia juga menuturkan dipaksa difoto dalam keadaan tanpa busana dan dipermalukan di hadapan perempuan. "Mereka ingin merendahkan kami. Saya merasa ingin mati," ujarnya.

Kedua remaja itu memperkirakan 15 hingga 18 anak ditangkap bersamaan dengan mereka, sebagian besar berusia 13–15 tahun. Dari jumlah itu, delapan anak diyakini masih berada di tahanan Israel.

ABC menyatakan tidak dapat memverifikasi secara independen kesaksian tersebut karena larangan Israel terhadap jurnalis asing masuk ke Gaza. Namun, rekaman video luka di tubuh kedua remaja itu turut ditinjau oleh tim media tersebut.

Kesaksian Sami dan Mahmoud sejalan dengan laporan sejumlah warga Palestina lain yang mengaku disiksa dan dilecehkan secara seksual sejak serangan Hamas ke Israel pada 7 Oktober 2023. Laporan Komisi HAM PBB pada Maret 2025 juga menyimpulkan ada pola penyiksaan, pelecehan seksual, dan pemerkosaan yang meluas terhadap tahanan Palestina.

Seorang dokter asal Gaza, Khaled al Sir, yang sempat ditahan enam bulan pada 2024, mengatakan ia juga menyaksikan praktik serupa. "Saya melihat banyak tahanan diserang secara seksual dengan pentungan. Bahkan ada yang disemprot gas cabai di bagian genital," ujarnya. 

Ia menyebut ada bagian penjara Sde Teiman yang dikenal sebagai neraka karena intensitas penyiksaan di sana.

Menanggapi tuduhan tersebut, militer Israel (IDF) menegaskan segala bentuk pelecehan atau penyiksaan terhadap tahanan bertentangan dengan hukum dan perintah IDF serta dilarang keras. 

IDF menolak klaim ada penyiksaan sistematis, termasuk penggunaan setrum, pemotretan tahanan telanjang, maupun kekerasan seksual. "IDF beroperasi sesuai hukum Israel dan internasional," bunyi pernyataan resmi.

Namun, Komisi HAM PBB menilai pola pelanggaran itu begitu sistematis dan meluas sehingga dapat dikategorikan sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan. 

LSM Israel, B'Tselem, juga mencatat bahwa kekerasan fisik, pelecehan seksual, penghinaan, kelaparan paksa, serta perampasan layanan kesehatan telah menjadi praktik yang mengakar dalam sistem penahanan Israel.

Meski beberapa prajurit Israel telah dijatuhi hukuman penjara karena penganiayaan terhadap tahanan, kasus yang terkait pelecehan seksual hingga kini belum pernah dibawa ke pengadilan.

Bagi Sami dan Mahmoud, luka fisik dan psikologis dari penahanan itu masih terasa. "Ketika dibebaskan, saya mengalami kejatuhan mental. Apa yang saya lihat, tak seorang pun seharusnya mengalaminya," ujar Mahmoud. (I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya