Headline
Pemerintah utamakan menjaga kualitas pendidikan.
Kumpulan Berita DPR RI
DIREKTUR Eksekutif Catalyst Policy-Works, Wahyudi Djafar, mempertanyakan kejelasan payung hukum yang digunakan Pemerintah Amerika Serikat dalam memastikan keamanan data pribadi milik Warga Negara Indonesia (WNI). Hal ini berkaitan dengan salah satu poin kesepakatan tarif dagang yakni kesediaan Indonesia mentransfer data WNI ke AS.
"Kalau mengacu pada hukum Indonesia, khususnya Peraturan Pemerintah (PP) No. 71 Tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Sistem dan Transaksi Elektronik, data pribadi yang dikelola oleh pihak swasta sebenarnya memang bisa ditransfer ke negara lain. Namun, syaratnya negara penerima harus memiliki regulasi perlindungan data yang paling tidak setara dengan yang berlaku di Indonesia," ujar Wahyudi kepada Metrotvnews.com, Kamis (24/7).
Wahyudi menyoroti bahwa hingga kini Amerika Serikat belum memiliki undang-undang perlindungan data pribadi yang setara dengan regulasi Indonesia. Hal ini dinilainya menjadi perhatian yang serius.
"Amerika Serikat belum memiliki undang-undang perlindungan data pribadi yang komprehensif di tingkat federal. Ini menjadi pertanyaan besar,bapakah perusahaan AS yang menerima data dari Indonesia akan menerapkan standar perlindungan yang sepadan dengan regulasi kita?" kata dia.
Ia menilai bahwa ketidakjelasan ini bisa membuka celah risiko bagi kebocoran atau penyalahgunaan data pribadi WNI. Terutama jika tidak ada klausul eksplisit dalam perjanjian internasional tersebut yang menjamin perlindungan setara.
"Ini yang belum terbaca dalam perjanjian kerja sama Indonesia-AS saat ini. Harus ada kejelasan mekanisme pengawasan dan akuntabilitas terhadap pengendali data di luar negeri," tegas Wahyudi.
Wahyudi pun mendorong pemerintah untuk lebih transparan dalam menyampaikan isi dan dampak dari kesepakatan bilateral ini. Khususnya apakah data yang akan diserahkan merupakan milik swasta atau publik.
"Belum secara detail bagaimana terkait dengan instrumen atau standar pelindungan data pribadi yang diterapkan dalam konteks perjanjian dagang. Termasuk juga tadi apakah ini mencakup keseluruhan data pribadi baik yang dikelola oleh institusi swasta atau juga termasuk data pribadi yang dikelola oleh institusi publik," tandasnya. (Bob/P-3)
GURU Besar Ilmu Media dan Jurnalisme Fakultas Ilmu Sosial Budaya UII, Masduki, mengajukan judicial review (JR) terkait UU Perlindungan Data Pribadi (UU PDP) pasal 65 ke MK.
KETUA Fraksi Partai Golkar DPR RI Sarmuji mengatakan transfer data pribadi ke Amerika Serikat harus mengutamakan kerangka hukum nasional, terutama UU Perlindungan Data Pribadi
WAKIL Ketua Komisi I DPR Dave Laksono menyebut kesepakatan transfer data pribadi warga negara Indonesia (WNI) ke Amerika Serikat (AS) harus mengikuti aturan UU PDP.
Ketua Parlemen Iran Qalibaf mengancam bakal menyerang infrastruktur vital negara kawasan jika terbukti membantu musuh menduduki salah satu pulau strategis milik Iran.
PRESIDEN Amerika Serikat Donald Trump menyatakan Iran sebenarnya ingin bernegosiasi, meskipun tidak berani mengakuinya secara terbuka
MENTERI Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi menegaskan bahwa Teheran tidak akan maju ke meja perundingan dan memilih melanjutkan perlawanan terhadap Amerika Serikat dan Israel di tengah konflik
Penasihat kebijakan luar negeri Trump menyebut AS tidak berkepentingan memperpanjang konflik dengan Iran lebih dari tiga bulan.
Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, menyampaikan Iran agar segera menerima kesepakatan untuk mengakhiri konflik yang terus memanas di Timur Tengah.
WFH adalah salah satu ‘aksi cepat’ yang dapat menghemat konsumsi BBM untuk sementara waktu.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved