Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
RENCANA pemerintah Indonesia untuk mengevakuasi warga negara Indonesia (WNI) dari Iran dan Israel menghadapi sejumlah tantangan di lapangan. Selain risiko keamanan akibat perang yang terus berlanjut, proses evakuasi terbentur persoalan diplomatik serta kondisi sosial warga di negara konflik.
Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia (UI) Hikmahanto Juwana menjelaskan, salah satu kendala utama adalah tidak ada hubungan diplomatik Indonesia dengan Israel. Hal ini memaksa pemerintah menempuh jalur alternatif dengan memanfaatkan kedutaan besar RI di negara tetangga, seperti Yordania.
"Karena kita tidak punya hubungan diplomatik dengan Israel, titik evakuasi ditentukan di Jordania. Di sanalah WNI diarahkan untuk berkumpul sebelum dievakuasi," ujar Hikmahanto, Kamis (19/6).
Menurut Hikmahanto, tantangan di lapangan bukan hanya soal logistik atau akses keluar masuk negara konflik. Ada pula persoalan warga Indonesia yang telah berkeluarga dengan warga lokal.
Dalam situasi perang, tak semua dari mereka bersedia meninggalkan pasangan atau keluarga mereka. "Kalau WNI menikah dengan warga setempat, belum tentu mereka bersedia dievakuasi. Ini menjadi dilema kemanusiaan sekaligus tantangan teknis," ungkapnya.
Selain itu, ada risiko lain ialah tidak semua WNI mendapatkan informasi evakuasi secara tepat waktu. Keterlambatan mereka menuju titik kumpul bisa membuat proses evakuasi terganggu.
Meski begitu, pemerintah disebut terus berupaya menjangkau seluruh WNI di wilayah terdampak konflik. Hikmahanto pun berharap warga Indonesia di Iran dan Israel untuk aktif berkoordinasi dan mengikuti arahan dari tim evakuasi.
"Keberhasilan evakuasi sangat bergantung pada kerja sama warga negara kita. Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri," pungkasnya. (I-2)
Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei mengakui ribuan orang tewas dalam aksi protes anti-pemerintah. Ia menuding campur tangan AS dan Donald Trump sebagai pemicu kekerasan.
Presiden Iran Pezeshkian mengeklaim AS & Israel adalah dalang kerusuhan.
Otoritas Iran mengeklaim telah menahan 3.000 orang. Di sisi lain, David Barnea (Mossad) bertemu utusan Donald Trump bahas serangan militer.
Situasi di berbagai kota besar Iran dilaporkan sunyi senyap menyusul tindakan keras mematikan dari otoritas keamanan setempat yang berhasil meredam gelombang protes besar.
Gelombang protes yang mengguncang Iran sejak akhir Desember mencatatkan rekor kelam sebagai kerusuhan paling mematikan dalam sejarah pemerintahan negara tersebut.
Reza Pahlavi menyatakan keyakinannya bahwa keruntuhan Republik Islam Iran hanyalah masalah waktu.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved