Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
DUA temuan astrofisika terbaru telah mengguncang dasar pemahaman kita tentang struktur dan evolusi alam semesta: struktur misterius di luar Bima Sakti serta gelombang kejut raksasa yang merambat di dalam jaring kosmik—jejaring galaksi, gas, dan materi gelap yang menyusun kerangka besar kosmos.
Keduanya tak hanya menantang model kosmologi yang selama ini dipegang teguh, tetapi juga membuka cakrawala baru dalam studi tentang asal-usul dan dinamika semesta.
Penemuan pertama berkaitan dengan struktur tak dikenal yang terdeteksi di luar Bima Sakti. Hasil dari 13 tahun pengamatan intensif menggunakan Fermi Gamma-ray Space Telescope milik NASA, struktur ini memancarkan sinyal sinar gamma yang secara mencolok menyimpang dari pola dipole dalam cosmic microwave background (CMB)—radiasi sisa dari dentuman besar (Big Bang).
Sinyal tersebut tak hanya sepuluh kali lebih kuat dari prediksi teoretis, tetapi juga muncul dari lokasi yang tak sesuai dengan arah gerak tata surya terhadap CMB. Menurut Alexander Kashlinsky, kosmolog dari University of Maryland dan NASA Goddard Space Flight Center, anomali ini bisa jadi merupakan "jejak" dari peristiwa ekstrem yang terjadi kurang dari satu triliun detik setelah alam semesta lahir.
Menariknya, anomali ini juga berkorelasi dengan arah datangnya partikel ultrahigh-energy cosmic rays (UHECRs)—salah satu misteri terbesar dalam astrofisika modern.
Temuan kedua tidak kalah mengejutkan: untuk pertama kalinya, para ilmuwan berhasil mendeteksi gelombang kejut besar yang merambat melalui filamen jaring kosmik. Gelombang ini mempercepat partikel bermuatan listrik saat melintasi medan magnet raksasa yang membentang antar galaksi.
Tim ilmuwan internasional yang dipimpin oleh Tessa Vernstrom dari International Centre for Radio Astronomy Research menganalisis lebih dari 600.000 citra teleskop radio, dan berhasil mengidentifikasi emisi radio terpolarisasi yang menjadi bukti kuat keberadaan gelombang kejut tersebut.
"Ini adalah bukti langsung pertama bahwa filamen kosmik bukan hanya struktur pasif, melainkan juga arena bagi fenomena fisik ekstrem yang dapat membentuk ulang galaksi," ungkap Vernstrom.
Kedua penemuan ini memiliki implikasi luas terhadap teori pembentukan galaksi dan dinamika struktur besar alam semesta. Struktur misterius di luar Bima Sakti berpotensi menjadi kunci untuk menelusuri kembali peristiwa ultraawal di masa kelahiran semesta, sementara gelombang kejut dalam jaring kosmik menyoroti peran medan magnet dalam arsitektur kosmos yang selama ini terabaikan.
Dengan dukungan teknologi observasi mutakhir—mulai dari Fermi Gamma-ray Space Telescope hingga jaringan teleskop radio global—dunia astrofisika kini berada di ambang revolusi pemahaman baru. Penelitian lanjutan akan sangat menentukan dalam menguak tabir terdalam dari sejarah dan masa depan alam semesta. (India Today/Science News/Z-10)
Dengan melatih kecerdasan buatan untuk memahami evolusi ledakan supernova dan menggabungkan wawasan tersebut dengan model fisika besar
Lapisan es di sekitar sebuah bintang muda di galaksi Awan Magellan Besar menyimpan kejutan bagi dunia sains. Molekul-molekul kompleks yang menjadi dasar kehidupan berhasil teridentifikasi
Studi terbaru menggunakan Teleskop James Webb menemukan galaksi-galaksi muda di alam semesta awal bergejolak dan tidak stabil akibat tingginya gas pembentuk bintang.
Studi terbaru mengungkap asal usul 3I/ATLAS mungkin berasal dari perbatasan galaksi Bima Sakti, menjadikannya peninggalan purba.
Astronom ESA menemukan gelombang raksasa di Bima Sakti yang mendorong miliaran bintang.
JWST berhasil memotret awan gas Sagittarius B2. Temuan ini mengungkap keindahan sekaligus misteri mengapa pembentukan bintang di jantung Bima Sakti.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved