Kamis 10 Maret 2022, 16:28 WIB

Iran Tuding AS Perumit Pembicaraan Kesepakatan Nuklir

 Nur Aivanni | Internasional
Iran Tuding AS Perumit Pembicaraan Kesepakatan Nuklir

Ehsan NADRIPOUR / IRNA / AFP
Sekretaris Dewan Tinggi Keamanan Nasional Iran, Ali Shamkhani.

 

IRAN, pada Kamis (10/3), menuduh Amerika Serikat (AS) membuat upaya untuk memulihkan kesepakatan nuklir menjadi lebih rumit, setelah tuntutan baru Rusia yang berasal dari invasinya ke Ukraina menimbulkan kekhawatiran akan penundaan lebih lanjut.

Republik Islam itu terkunci dalam negosiasi dengan kekuatan dunia untuk menghidupkan kembali kesepakatan 2015.

AS di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump, secara sepihak menarik diri pada 2018 dari perjanjian yang dikenal secara resmi sebagai Rencana Aksi Komprehensif Bersama.

Pada Sabtu (5/3), Moskow mengatakan bahwa, sebelum mendukung kesepakatan yang dihidupkan kembali itu, pihaknya menginginkan jaminan tertulis dari Washington bahwa sanksi yang dikenakan padanya atas perang Ukraina tidak akan mempengaruhi kerja sama ekonomi dan militernya dengan Teheran.

"Negosiasi Wina menjadi lebih rumit setiap jam tanpa keputusan politik oleh Amerika Serikat," kata pejabat tinggi keamanan Iran Ali Shamkhani di Twitter, pada Kamis (10/3).

Baca juga: Kota Mariupol Digempur Militer Rusia, Kondisi Kemanusiaan Kian Memburuk

"Pendekatan AS terhadap tuntutan prinsip Iran, ditambah dengan tawarannya yang tidak masuk akal dan tekanan yang tidak dapat dibenarkan untuk segera mencapai kesepakatan, menunjukkan bahwa AS tidak tertarik pada kesepakatan kuat yang akan memuaskan kedua belah pihak," tambahnya.

Negosiasi untuk menghidupkan kembali kesepakatan itu melibatkan Iran serta Prancis, Jerman, Inggris, Rusia dan Tiongkok secara langsung, dan AS secara tidak langsung.

Negosiator baru-baru ini mengisyaratkan bahwa pembicaraan telah berkembang ke fase akhir, tetapi masalah yang tertunda masih belum terselesaikan. Amerika Serikat telah menggambarkan tuntutan baru Rusia tersebut tidak relevan.

"Beberapa orang mencoba menyalahkan kami karena berlarut-larutnya pembicaraan. Saya harus mengatakan bahwa pembicaraan belum selesai, bahkan teks kesepakatan akhir belum selesai," kata kepala perunding Rusia Mikhayil Ulyanov pada Rabu (9/3).

"Seperti anggota lainnya, kami berhak meminta sesuatu, itu hal biasa, yang tidak mengerti bukan profesional," tambahnya.

"Kami memiliki hak untuk melindungi kepentingan kami baik di bidang nuklir, maupun dalam konteks yang lebih luas," katanya.

Dikatakannya pula, dia percaya semua hubungan perdagangan dan ekonomi kami dengan Iran harus dibebaskan dari sanksi UE atau AS saat ini dan di masa depan. (AFP/Nur/OL-09)

Baca Juga

AFP/CHARLY TRIBALLEAU

Kondisi Rushdie Membaik Pascapenusukan

👤Basuki Eka Purnama 🕔Senin 15 Agustus 2022, 11:00 WIB
"Dia telah dilepaskan dari ventilator yang berarti perjalanan menuju sembuh telah dimulai. Perjalanan itu akan panjang karena luka...
AFP/Jalaa Marey.

Serangan Israel di Suriah Tewaskan Tiga Tentara

👤Mediaindonesia.com 🕔Senin 15 Agustus 2022, 10:22 WIB
Serangan udara Israel di Suriah menewaskan tiga tentara dan melukai tiga lainnya pada Jumat (12/8). Ini merupakan insiden terbaru di...
AFP/Khaled DESOUKI

Kebakaran Gereja di Mesir Tewaskan 41 Orang

👤Basuki Eka Purnama, Cahya Mulyana 🕔Senin 15 Agustus 2022, 05:45 WIB
Kebakaran, yang disebut terjadi karena korsleting listrik, terjadi di gereja Abu Sifin di Imbasa, distik Giza di...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya