Headline
Buka puasa bersama bukan sekadar rutinitas seremonial.
Buka puasa bersama bukan sekadar rutinitas seremonial.
Kumpulan Berita DPR RI
IRAN, pada Kamis (10/3), menuduh Amerika Serikat (AS) membuat upaya untuk memulihkan kesepakatan nuklir menjadi lebih rumit, setelah tuntutan baru Rusia yang berasal dari invasinya ke Ukraina menimbulkan kekhawatiran akan penundaan lebih lanjut.
Republik Islam itu terkunci dalam negosiasi dengan kekuatan dunia untuk menghidupkan kembali kesepakatan 2015.
AS di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump, secara sepihak menarik diri pada 2018 dari perjanjian yang dikenal secara resmi sebagai Rencana Aksi Komprehensif Bersama.
Pada Sabtu (5/3), Moskow mengatakan bahwa, sebelum mendukung kesepakatan yang dihidupkan kembali itu, pihaknya menginginkan jaminan tertulis dari Washington bahwa sanksi yang dikenakan padanya atas perang Ukraina tidak akan mempengaruhi kerja sama ekonomi dan militernya dengan Teheran.
"Negosiasi Wina menjadi lebih rumit setiap jam tanpa keputusan politik oleh Amerika Serikat," kata pejabat tinggi keamanan Iran Ali Shamkhani di Twitter, pada Kamis (10/3).
Baca juga: Kota Mariupol Digempur Militer Rusia, Kondisi Kemanusiaan Kian Memburuk
"Pendekatan AS terhadap tuntutan prinsip Iran, ditambah dengan tawarannya yang tidak masuk akal dan tekanan yang tidak dapat dibenarkan untuk segera mencapai kesepakatan, menunjukkan bahwa AS tidak tertarik pada kesepakatan kuat yang akan memuaskan kedua belah pihak," tambahnya.
Negosiasi untuk menghidupkan kembali kesepakatan itu melibatkan Iran serta Prancis, Jerman, Inggris, Rusia dan Tiongkok secara langsung, dan AS secara tidak langsung.
Negosiator baru-baru ini mengisyaratkan bahwa pembicaraan telah berkembang ke fase akhir, tetapi masalah yang tertunda masih belum terselesaikan. Amerika Serikat telah menggambarkan tuntutan baru Rusia tersebut tidak relevan.
"Beberapa orang mencoba menyalahkan kami karena berlarut-larutnya pembicaraan. Saya harus mengatakan bahwa pembicaraan belum selesai, bahkan teks kesepakatan akhir belum selesai," kata kepala perunding Rusia Mikhayil Ulyanov pada Rabu (9/3).
"Seperti anggota lainnya, kami berhak meminta sesuatu, itu hal biasa, yang tidak mengerti bukan profesional," tambahnya.
"Kami memiliki hak untuk melindungi kepentingan kami baik di bidang nuklir, maupun dalam konteks yang lebih luas," katanya.
Dikatakannya pula, dia percaya semua hubungan perdagangan dan ekonomi kami dengan Iran harus dibebaskan dari sanksi UE atau AS saat ini dan di masa depan. (AFP/Nur/OL-09)
INDONESIA membuka peluang besar bagi investasi Amerika Serikat di sektor mineral kritis, tetapi pemerintah berupaya menutup ekspor bahan mentah.
PRESIDEN Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan tarif impor baru sebesar 10 persen untuk semua negara setelah Mahkamah Agung (MA) Amerika Serikat membatalkan tarif dagang AS
DIPLOMASI ekonomi yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto membuahkan hasil sebanyak 53 kelompok komoditas pertanian Indonesia dan turunannya resmi dibebaskan dari tarif bea masuk
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan tengah mempertimbangkan opsi serangan militer terbatas guna menekan Iran agar bersedia mencapai kesepakatan dengan Washington.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyebut putusan Mahkamah Agung yang membatalkan kebijakan tarif globalnya sebagai langkah yang sangat mengecewakan.
Mahkamah Agung Amerika Serikat memutuskan untuk membatalkan sebagian kebijakan tarif global yang diterapkan Donald Trump.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan tengah mempertimbangkan opsi serangan militer terbatas guna menekan Iran agar bersedia mencapai kesepakatan dengan Washington.
PEMIMPIN Korea Utara Kim Jong Un memamerkan puluhan peluncur roket berkemampuan nuklir menjelang kongres penting Partai Buruh, menurut media negara.
MENTERI Luar Negeri Iran Abbas Araghchi tiba di Jenewa untuk mengikuti putaran kedua perundingan nuklir dengan Amerika Serikat.
Amerika Serikat dan Rusia sepakat memulihkan komunikasi militer tingkat tinggi guna mencegah eskalasi nuklir. Simak detail kesepakatan di Abu Dhabi ini.
Dalam pertemuan tersebut dijelaskan bahwa Program FIRST bukan proyek pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir.
KETEGANGAN geopolitik di Timur Tengah mencapai titik didih baru pada awal 2026. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengeluarkan ultimatum keras kepada Iran.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved