Kamis 13 Mei 2021, 08:15 WIB

PM Malaysia: Larangan Kunjungan Saat Idul Fitri Demi Cegah Korona

Atikah Ishmah Winahyu | Internasional
PM Malaysia: Larangan Kunjungan Saat Idul Fitri Demi Cegah Korona

AFP/Mohd RASFAN
Polisi mengecek dokumen perjalanan warga di pos pemeriksaan di East Coast Expressway, Kuala Lumpur, Malaysia

 

PERDANA Menteri Malaysia Muhyiddin Yassin mengatakan keputusan pemerintah melarang kunjungan selama Idul Fitri bukanlah tindakan yang kejam tetapi langkah penting untuk mencegah penyebaran covid-19.

Dalam pidato Hari Raya yang disiarkan televisi, dia mengatakan situasi covid-19 di negara itu telah memburuk dengan rumah sakit kewalahan dan varian virus yang sangat menular telah ditemukan di masyarakat.

“Pemerintah harus melarang perjalanan antarnegara bagian dan antarkabupaten, membatasi kegiatan sosial, dan menutup sektor pendidikan dan olahraga,” ujarnya.

Baca juga: Korban Tewas akibat Covid-19 di India Tembus 250 Ribu

“Kunjungan Hari Raya juga dilarang, sedangkan Salat Idul Fitri di masjid dan surau (mushola) diperbolehkan tetapi dengan kapasitas terbatas.”

“Saya tahu, banyak yang marah kepada saya. Tidak bisa pulang kampung, bahkan tidak bisa mengunjungi keluarga atau teman. Apakah pemerintah itu kejam?”

"Tidak, saya tidak kejam. Saya membuat keputusan ini untuk melindungi nyawa kalian semua," lanjutnya.

Pemerintah Malaysia, mulai Rabu (12/5), memberlakukan Perintah Kontrol Gerakan (MOC) 27 hari secara nasional untuk membendung infeksi covid-19. MCO akan berakhir pada 7 Juni.

Malaysia merayakan Idul Fitri pada Kamis (13/5), di akhir bulan puasa.

Negara itu telah melarang perjalanan antarnegara bagian dan bahkan perjalanan antardistrik. Artinya, seseorang yang tinggal di satu distrik di Selangor tidak dapat menyeberang ke delapan distrik lainnya, kecuali untuk bekerja.

Malaysia, Rabu (12/5), mencatat 39 kematian, rekor tertinggi, hanya tiga hari setelah mencatat rekor 26 kematian dalam satu hari. Negara itu juga melaporkan 4.765 kasus, total harian tertinggi dalam tiga bulan.

Kementerian Kesehatan telah memperingatkan bahwa kasus covid-19 dapat mencapai antara 5.000 dan 7.000 per hari jika pemerintah tidak melakukan apa pun untuk mengekang pergerakan bebas warga dan pertemuan massal.

"Jika saya mengizinkan kunjungan dari rumah ke rumah, bagaimana jika tamu yang datang ke rumah Anda positif covid-19?" tanyanya.

Dia mengatakan banyak pasien tanpa gejala tidak mengetahui bahwa mereka telah terinfeksi dan pada gilirannya dapat menyebarkan covid-19 kepada anggota keluarga di rumah tersebut.

“Jika orang tersebut mengunjungi 10 rumah lain, maka 10 keluarga bisa tertular covid-19,” tuturnya.

“Pada akhir masa Idul Fitri, kasus covid-19 di dalam negeri bahkan bisa melonjak hingga puluhan ribu sehari. Semoga itu tidak pernah terjadi,” kata Tan Sri Muhyiddin.

Dia mengatakan pandemi covid-19 tidak boleh dianggap enteng dan tindakan ketat harus diambil untuk mengatasi situasi tersebut.

"Ini bukan hal yang bisa dianggap enteng. Keputusan yang tidak populer dan sulit harus dibuat, tapi saya pikir itu langkah yang tepat untuk melindungi kehidupan dan masa depan kita," katanya.

Muhyiddin mengatakan penting bagi masyarakat untuk mematuhi protokol kesehatan covid-19 dan untuk berkorban untuk membantu mengalahkan pandemi.

"Ini seperti menghadapi perang. Untuk menyelamatkan hidup kita, kita harus melindungi diri kita sendiri, dan tinggal di rumah adalah tempat terbaik," tandasnya. (Straitstimes/OL-1)

Baca Juga

AFP/ANDREAS SOLARO

Temuan Teranyar Beri Informasi Baru Mengenai Letusan Gunung Vesuvius

👤Basuki Eka Purnama 🕔Sabtu 16 Oktober 2021, 06:00 WIB
Kerangka pria yang diduga berusia antara 40 dan 45 tahun ditemukan di bawah bebatuan vulkanis, di lokasi yang diduga sebagai garis pantai...
AFP/STR

Tiongkok Kirimkan Astronaut ke Stasiun Luar Angkasa Tiangong

👤Basuki Eka Purnama 🕔Sabtu 16 Oktober 2021, 04:24 WIB
Mereka dijadwalkan tinggal di Stasiun Luar Angkasa Tiangong selama 6...
AFP/Javed Tanveer.

Tembakan Awali Bom Bunuh Diri saat Salat Jumat Masjid Syiah Afghanistan

👤Mediaindonesia.com 🕔Jumat 15 Oktober 2021, 23:30 WIB
Serangan itu terjadi hanya seminggu setelah serangan bunuh diri terhadap jemaah Syiah di masjid dalam kota utara Kunduz yang diklaim oleh...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Risma Marah dan Gaya Kepemimpinan Lokal

ika melihat cara Risma marah di Gorontalo, hal itu tidak terlalu pas dengan norma, etika, dan kebiasaan di masyarakat.

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya