Headline
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Kumpulan Berita DPR RI
PAKAR pandemi covid-19 dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Senin (22/3), mengungkapkan bahwa jumlah kematian global mingguan akibat covid-19 kembali meningkat, sebuah tanda mengkhawatirkan setelah sekitar enam minggu mengalami penurunan.
Kepala Teknis Covid-19 WHO Maria Van Kerkhove mengatakan pertumbuhan itu mengikuti minggu kelima berturut-turut dari kasus yang dikonfirmasi meningkat di seluruh dunia. Jumlah kasus yang dilaporkan meningkat berasal dari empat dari enam wilayah WHO, meskipun ada variasi yang signifikan di setiap wilayah.
"Dalam seminggu terakhir, kasus meningkat 8% persen," kata Van Kerkhove kepada wartawan. “Di Eropa, kasus meningkat 12% dan itu didorong oleh beberapa negara.”
Baca juga: Pembatasan Covid-19 di Jerman akan Diteruskan Hingga April
Dia menuturkan peningkatan tersebut sebagian disebabkan oleh penyebaran varian yang pertama kali muncul di Inggris dan sekarang beredar di banyak tempat lain, termasuk Eropa timur.
Van Kerkhove menjelaskan Asia Tenggara mencatat kenaikan 49% minggu-ke-minggu dalam kasus yang dikonfirmasi, sementara wilayah Pasifik Barat WHO melaporkan kenaikan 29% yang sebagian besar dipicu oleh Filipina.
Wilayah Mediterania timur melihat kasus meningkat 8% persen, sedangkan jumlah kasus yang dilaporkan di Amerika dan Afrika menurun.
"Saya benar-benar ingin menyebutkan bahwa sudah sekitar enam minggu di mana kami melihat penurunan kematian," kata Van Kerkhove.
“Dan dalam seminggu terakhir, kami mulai melihat sedikit peningkatan kematian di seluruh dunia dan hal ini bisa diperkirakan jika kami melihat peningkatan kasus. Tapi ini juga pertanda yang mengkhawatirkan,” tuturnya.
Kepala kedaruratan WHO Michael Ryan mengakui adanya dorongan di antara masyarakat di banyak tempat untuk keluar dari pembatasan pandemi.
Ryan menegaskan pelonggaran apa pun harus bertepatan dengan langkah-langkah seperti pengawasan kasus yang ketat dan vaksinasi tingkat tinggi. Tetapi dia mengatakan bahwa vaksin saja tidak akan cukup.
“Saya khawatir kita semua mencoba memahami melalui sedotan. Kita mencoba menemukan solusi emas, jadi kita hanya mendapatkan cukup vaksin dan memberikan vaksin yang cukup kepada orang-orang dan itu akan membereskannya (pandemi)," katanya.
“Maaf, ternyata tidak begitu,” tandasnya. (The Guardian/OL-1)
DIREKTUR Pascasarjana Universitas YARSI, Prof Tjandra Yoga Aditama, mengatakan untuk penanggulangan kusta perlu diangkat sebagai prioritas nasional.
WHO menyatakan 500 juta perempuan di dunia terkena anemia. Yuk kenali dan ketahui cara mencegahnya.
Indonesia disebut telah mengambil langkah besar melalui pendekatan primary healthcare.
Penerapan konsep UPF secara kaku dan tanpa konteks dikhawatirkan dapat menimbulkan kebingungan konseptual, menstigma produk pangan tradisional yang sejatinya bermanfaat.
Kesehatan mental pelajar semakin memprihatinkan. Data CDC dan WHO menunjukkan tingginya depresi, pikiran bunuh diri, dan kasus bullying pada remaja di sekolah.
WHO akan bekerja sama dengan otoritas Indonesia dan mitra internasional untuk memperkuat layanan kesehatan primer, meningkatkan akses ke layanan berkualitas, termasuk imunisasi.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved