Headline
Tragedi Bantargebang menjadi bukti kegagalan sistemis.
Kumpulan Berita DPR RI
NEGARA anggota Kelompik 20 Ekonomi Utama (G20) menyepakati komitmen untuk melawan perubahan iklim dengan aksi kolektif melalui Circular Carbon Economy (ekonomi karbon sirkular).
Hal tersebut disampaikan di sela-sela Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Riyadh 2020, Minggu (22/11).
Arab Saudi, yang menjabat keketuaan G20 tahun ini, menyatakan pihaknya telah mengadvokasi inisiatif CCE dalam rangka mengurangi emisi karbon dunia dengan 4R yakni reduce, reuse, recycle, remove (mengurangi, menggunakan kembali, mendaur ulang, menghapuskan).
"4R mencakup pendekatan yang holistik, terintegrasi, dan pragmatik--yang menghargai semua pilihan untuk mengelola emisi di semua sektor," kata Pemimpin Arab Saudi Raja Salman bin Abdulaziz Al Saud dalam pidato KTT G20 Riyadh 2020 hari kedua, Minggu (22/11) malam WIB.
Raja Salman juga menyatakan Arab Saudi hendak meluncurkan Program Nasional Ekonomi Karbon Sirkular yang akan mengonsolidasi serta mempercepat aksi dalam mewujudkan perekonomian berkelanjutan.
"Kami meminta negara-negara lain untuk bekerja bersama kami demi membantu mencapai tujuan dari program ini, yakni menanggulangi perubahan iklim seiring dengan terus menciptakan pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan manusia," ujar Raja Salman.
Baca juga: Dampak Perubahan Iklim, Pulau Pari Banjir Rob Dua Kali Setahun
Sejumlah pemimpin negara anggota G20 lainnya juga menyampaikan pidato dalam sesi yang sama mengenai dukungan terhadap CCE yang menyasar cara-cara melawan perubahan iklim, baik yang akan maupun telah dilakukan oleh masing-masing negara.
"Menanggulangi perubahan iklim bukanlah suatu pembatasan terhadap pertumbuhan ekonomi. Justru kita perlu menyesuaikan pola pikir kita dengan peralihan paradigma bahwa transformasi struktur industri juga ekonomi dan masyarakat kita, mengarah pada pertumbuhan ekonomi yang dinamis," ucap Perdana Menteri Jepang Yoshihide Suga.
"Perubahan iklim tidak dapat ditangani secara sendirian, melainkan dalam suatu langkah yang terintegrasi, komprehensif, dan menyeluruh. Ini adalah saat yang tepat untuk lebih meningkatkan penelitian dan inovasi atas teknologi baru dan berkelanjutan. Kita harus melakukannya dengan semangat kerja sama dan kolaborasi," imbuh Perdana Menteri India Narendra Modi.(Ant/OL-5)
Ekspedisi CEFAS mengungkap rahasia laut dalam Karibia. Ditemukan gunung bawah laut, "blue hole" raksasa, hingga terumbu karang purba yang tak tersentuh perubahan iklim.
Penelitian terbaru di jurnal Nature mengungkap fakta mengejutkan. Serangga di wilayah tropis, termasuk Amazon, terancam punah karena tidak mampu beradaptasi dengan kenaikan suhu ekstrem.
Suhu Greenland Maret 2026 menunjukkan tren menghangat yang mengkhawatirkan. Simak update terbaru mengenai "Zona Gelap" dan dampaknya bagi permukaan laut dunia.
Ilmuwan mengungkap penyebab zona gelap di lapisan es Greenland. Debu kaya fosfor memicu pertumbuhan alga yang mempercepat pencairan es akibat perubahan iklim.
Peneliti menemukan bahwa kenaikan kadar CO2 di atmosfer mulai mengubah kimia darah manusia, termasuk kenaikan bikarbonat yang signifikan.
Studi terhadap 5 juta kelahiran di Afrika dan India mengungkap tren mengejutkan, paparan panas saat hamil menurunkan jumlah bayi laki-laki yang lahir.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved