Headline
Warga AS menolak kepemimpinan yang kian otoriter.
Kumpulan Berita DPR RI
PEMERINTAH Tiongkok telah menyetujui penggunaan empedu beruang untuk mengobati pasien yang terinfeksi virus korona tipe baru atau Covid-19. Namun kebijakan tersebut telah membuat marah kalangan aktivis lingkungan.
Tidak hanya itu, pengguan empedu beruang sebagai obat untuk pasien Covid-19 akan meningkatkan kekhawatiran. Pasalnya hal tersebut dapat mengganggu upaya untuk menghentikan perdagangan satwa liar secara ilegal serta dikaitkan dengan konsumsi satwa liar yang diduga menjadi pemicu munculnya penyakit baru yang melanda dunia.
Covid-19 yang berasal dari Wuhan, Hubei, Tiongkok diduga terjadi mutasi virus flu karena mengonsumi sup satwa liar kelelawar. Satwa liar atau satwa eksostik banyak diperdagangkan di pasar ikan Hubei untuk dikonsumsi.
Tetapi Komisi Kesehatan Nasional Tiongkok pada bulan Maret 2020 telah mengeluarkan pedoman yang merekomendasikan penggunaan ‘Tan Re Qing’. Tan Re Qing adalah suntikan yang mengandung bubuk empedu beruang, tanduk kambing, dan tiga ramuan obat lainnya untuk mengobati pasien virus korona yang sakit parah.
Baca juga : WNI Jadi Pasien Keempat Covid-19 yang Meninggal di Singapura
Tan Re Qing adalah salah satu dari enam produk obat tradisional Tiongkok yang termasuk dalam anjuran pemerintah.
Presiden Tiongkok Xi Jinping turut tertarik untuk mempromosikan pengobatan tradisional negaranya. Xi menyebut pengobatan tradisionalnya sebagai ‘harta peradaban Tiongkok’. Ia juga mengatakan pengobatan tradisional memiliki bobot yang sama dengan obat jenis lainnya.
Bahan aktif dalam empedu beruang yakni asam ursodeoxycholic telah digunakan untuk melarutkan batu empedu dan mengobati penyakit hati.Obat dari empedu beruang tidak memiliki bukti medis efektif untuk mengobati pasien Covid-19.

FOTO : Beruang yang diambil empedunya untuk tradisional Tiongkok dan obat pasien Covid-19.
Tiongkok telah menggunakan pengobatan tradisional dan medis Barat dalam pertempurannya melawan virus korona baru yang telah membunuh lebih dari 3.000 warganya dan menginfeksi lebih dari 82.000 orang di seluruh wilayah Tiongkok.
Para aktivis lingkungan dan pelindung satwa liar mengatakan pengobatan yang menggunakan produk hewani dinilai ‘tragis dan ironis’. Pasalnya asal mula virus korona tipe yang sangat mematikan terkait dengan perdagangan dan konsumsi satwa liar.
"Kita seharusnya tidak mengandalkan produk-produk obat dari satwa liar seperti empedu beruang sebagai solusi untuk memerangi virus mematikan yang tampaknya berasal dari satwa liar," kata Brian Daly, juru bicara Yayasan Hewan Asia, kepada AFP.
Sejumlah ilmuwan juga menyimpulkan virus korona novel tipe baru yang bermutasi diduga berasal kelelawar. Para peneliti menduga virus dari satwa mamalia liar itu masuk ke tubuh manusia dan bermutasi berubah menjadi virus ganas yang menyebar dari manusia ke manusia.
Pejabat pengontrol penyakit Tiongkok juga sebelumnya mengidentifikasi satwa liar yang dijual di pasar Wuhan, Hubei, sebagai sumber pandemi virus korona. Bahkan polisi Tiongkok menangkap sekitar 700 penjual satwa liar di Wuhan.
Kalangan konservasionis telah mengecam pemerintah Tiongkok yang membiarkan perdagangan satwa liar untuk dikonsumsi atau dijadikan bahan obat tradisional yang khasiatnya tidak teruji secara sains.
Para peneliti juga telah mengatakan bahwa Severe Acute Respiratory System (SARS) yang juga satu famili dengan virus korona mematikan lainnya diduga virusnya berasal dari kelelawar yang menular ke mencapai manusia melalui satwa liar luwak.
"Promosi obat empedu beruang memiliki kecenderungan untuk meningkatkan jumlah yang permintaan, tidak hanya memengaruhi nasib beruang di kandang, tetapi juga beruang liar, yang berpotensi membahayakan spesies yang sudah terancam punah di Asia dan di seluruh dunia," kata Daly.
Kita ada sekitar 20 ribu beruang dikerangkeng dalam kandang-kandang sempit dengan kondisi mengenaskan di seluruh Tiongkok. Kirsty Warren, juru bicara World Animal Protection mengatakan beruang-beruang dipelihara untuk memenuhi permintaan obat tradisional dari empedu beruang.
"Kami memperkirakan seluruh nilai pasar jual-beli obat-obatan empedu beruang lebih dari US$ 1 miliar," tambah Warren. (AFP/OL-09)
Vaksin penguat atau booster Covid-19 masih diperlukan karena virus dapat bertahan selama 50-100 tahun dalam tubuh hewan.
ORGANISASI Kesehatan Dunia (WHO) baru-baru ini mencatatkan jumlah kasus covid-19 secara global mengalami peningkatan 52% dari periode 20 November hingga 17 Desember 2023.
PJ Bupati Majalengka Dedi Supandi meminta masyarakat untuk mewaspadai penyebaran Covid-19. Pengetatan protokol kesehatan (prokes) menjadi keharusan.
PEMERINTAH Palu, Sulawesi Tengah, mengimbau warga tetap waspada dan selalu disiplin menerapkan protokol kesehatan menyusul dua kasus positif covid-19 ditemukan di kota itu.
ORGANISASI Kesehatan Dunia (WHO) mengklasifikasikan jenis virus covid-19 varian JN.1 sebagai VOI atau 'varian yang menarik'.
DINAS Kesehatan (Dinkes) Batam mengonfirmasi bahwa telah terdapat 9 kasus baru terpapar Covid-19 di kota tersebut,
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved