Senin 09 Desember 2019, 04:00 WIB

Unjuk Rasa Besar Ultimatum Carrie Lam

AFP/Hym/I-1 | Internasional
Unjuk Rasa Besar Ultimatum Carrie Lam

NICOLAS ASFOURI / AFP
Seorang wanita memegang gambar yang menggambarkan Presiden Cina Xi Jinping (kiri) mencium Kepala Eksekutif Hong Kong Carrie Lam (kanan).

 

PARA pemrotes demokrasi Hong Kong dijadwalkan akan turun dengan massa yang sangat besar, Minggu (8/12). Aksi unjuk rasa itu mereka sebut sebagai ‘kesempatan terakhir’ bagi para pemimpin kota pro-Beijing dalam ujian besar bagi gerakan enam bulan itu.

Pawai dilakukan dua minggu setelah partai-partai prokemapan­an mengalami kekalahan dalam pemilihan lokal, menghancurkan klaim pemerintah bahwa ‘mayoritas yang diam’ menentang protes.

Namun, para aktivis mengatakan kemarahan publik meningkat sekali lagi setelah pemimpin eksekutif Hong Kong, Carrie Lam, dan Beijing menyampingkan konsesi lebih lanjut meskipun kalah dalam pemilihan lokal.

“Tidak peduli bagaimana kami mengekspresikan pandangan kami melalui aksi damai, melalui pemilihan yang beradab, pemerin­tah tidak akan mendengarkan,” kata seorang pemrotes berusia 50 tahun, bermarga Wong.

“Mereka hanya mengikuti perintah dari Partai Komunis Tiongkok,” tambahnya.

Polisi mengambil langkah yang tidak biasa dengan mengizinkan Civil Human Rights Front mengadakan pawai menyusuri pulau utama, Minggu (8/12), pertama kalinya kelompok tersebut diberi izin sejak pertengahan Agustus.

Penyelenggara protes meminta Lam untuk memenuhi tuntutan me­reka yang meliputi penyelidik­an independen terhadap tindakan polisi dalam menangani protes, amnesti bagi mereka yang ditangkap, dan pemilu yang sepenuhnya bebas.

“Ini ialah kesempatan terakhir yang diberikan oleh rakyat kepada Carrie Lam,” kata pemimpin CHRF, Jimmy Sham, Jumat.

Beberapa jam sebelum pawai dijadwalkan akan dimulai, polisi merilis barang bukti senjata, termasuk pistol dan pisau, yang mereka sebut telah ditemukan selama operasi keamanan yang membuat sebelas orang ditangkap.

Aksi unjuk rasa Minggu sore akan mengambil rute di pulau uta­ma dari Victoria Park ke jantung kawasan komersial. Pawai datang sehari sebelum kota menandai per­ingatan enam bulan gerakan protes yang berujung pada pe­nang­kapan sekitar 6.000 orang dan ratusan lainnya cedera, terma­suk polisi. (AFP/Hym/I-1)

Baca Juga

AFP

Lockdown di Auckland Segera Dicabut

👤Nur Aivanni 🕔Jumat 05 Maret 2021, 16:12 WIB
Pemerintah Selandia Baru mencabut status lockdown di wilayah Auckland pada 7 Maret waktu setempat. Sebelumnya, keputusan lockdown menyusul...
AFP

Pakar PBB Desak Embargo Senjata kepada Militer Myanmar

👤Nur Aivanni 🕔Jumat 05 Maret 2021, 15:32 WIB
PBB dan komunitas internasional juga harus menyangkal pengakuan junta militer sebagai pemerintah yang sah di...
OSHIKAZU TSUNO / POOL / AFP

Tokyo Perpanjang Keadaan Darurat Covid-19 Hingga 21 Maret

👤mediaindonesia.com 🕔Jumat 05 Maret 2021, 10:51 WIB
Dalam keadaan darurat, pemerintah telah meminta restoran dan bar tutup pada pukul 8 malam serta berhenti menyajikan alkohol satu jam lebih...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya