Headline
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Kumpulan Berita DPR RI
RUSIA meradang dengan uji rudal jelajah yang dilakukan Amerika Serikat. Rusia menilai hal itu bisa memicu keteganggan militer kedua negara. Namun, Rusia tidak akan merespons hal itu sebagai perlombaan senjata.
"Semua ini jelas menimbulkan kekecewaan. AS sudah mengambil jalan yang meningkatkan ketegangan militer. Namun, kami tidak akan menyerah pada provokasi. Kami tidak akan membiarkan diri kami masuk dalam perlombaan senjata mahal," ujar Wakil Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Ryabkov.
Kementerian Pertahanan AS menyatakan telah melakukan uji coba rudal jelajah, yang dikonfigurasi secara konvensional. Senjata itu bisa mencapai target, setelah penerbangan lebih dari 500 kilometer. Uji coba tersebut menjadi yang pertama sejak gugurnya pakta nuklir era Perang Dingin pada bulan ini.
Seperti diketahui, AS resmi menarik diri dari Perjanjian Pasukan Bersenjata Nuklir Jangka Menengah (INF) dengan Rusia pada 2 Agustus 2019. Washington menuding Moskow telah melanggar pakta tersebut. Namun, Rusia menepis tuduhan itu.
Uji coba rudal yang dilakukan AS seharusnya dilarang dalam perjanjian. Perjanjian INF melarang rudal darat dengan jangkauan 500-5.500 km. Tujuannya mengurangi kemampuan kedua negara untuk meluncurkan serangan nuklir dalam waktu singkat.
Baca juga: Belasan Turis Tiongkok Tewas dalam Kecelakaan Bus di Laos
Ryabkov menegaskan bahwa Rusia tidak berencana mengerahkan rudal baru jenis apapun kecuali AS melakukannya terlebih dulu.
Di sisi lain, Tiongkok menyatakan kekhawatiran atas ketegangan AS-Rusia. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok Geng Shuang, menilai uji coba AS berpotensi memicu perlombaan dan konfrontasi senjata baru. Situasi yang berdampak negatif pada keamanan regional dan global.
"Kami menyarankan pihak AS untuk meninggalkan gagasan usang terkait Perang Dingin. Serta, menahan diri dalam pengembangan senjata," tukas Geng dalam konferensi pers rutin.(Channelnewsasia/OL-8)
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan bahwa Washington tengah menjajaki kerangka kesepakatan baru terkait Greenland dan wilayah Arktik.
SETELAH dua pekan ketegangan diplomatik yang dipicu retorika keras Presiden AS Donald Trump soal Greenland, situasi mulai mereda menyusul peran NATO yang mendorong dialog.
PIDATO Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump di Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum/WEF) di Davos, Swiss, memicu gelombang diskusi global. Ini fakta-faktanya.
Donald Trump kembali memicu polemik global dengan rencana negosiasi pengambilalihan Greenland. Mengapa pulau Arktik ini begitu penting bagi AS?
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan pada Rabu (21/1) bahwa beberapa wilayah di Eropa tidak lagi dapat dikenali. Benua itu disebutnya tidak menuju ke jalan yang benar.
PERDANA Menteri Qatar Mohammed bin Abdulrahman Al-Thani mengatakan di Forum Ekonomi Dunia (WEF) di Davos bahwa Dewan Perdamaian Gaza menawarkan jalan keluar.
Rusia menegaskan tidak memiliki rencana merebut Greenland. Menlu Sergei Lavrov menyatakan AS memahami Moskow dan Beijing tak mengancam wilayah tersebut.
Menlu Rusia Sergei Lavrov menyebut Greenland bukan bagian alami dari Denmark. Pernyataan ini muncul di tengah ketegangan AS dan Eropa terkait rencana Donald Trump.
Di balik ketegangan NATO, media pemerintah Rusia justru memuji rencana Donald Trump mencaplok Greenland. Apakah ini taktik pecah belah Barat?
PENGAMAT militer Khairul Fahmi, mencurigai adanya jalur klandestin atau perantara yang memfasilitasi rekrutmen eks personel Brimob Bripda Rio menjadi tentara bayaran Rusia
Pengamat kepolisian Bambang Rukminto menyoroti kasus Bripda Muhammad Rio, mantan personel Satuan Brimob Polda Aceh, yang diketahui bergabung dengan pasukan tentara bayaran di Rusia
Seorang anggota dapat dijatuhi PTDH jika meninggalkan tugasnya secara tidak sah (desersi) dalam waktu lebih dari 30 hari kerja secara berturut-turut.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved