Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

Ancaman Infeksi Jamur Kucing 'Sporothrix brasiliensis' Mulai Meluas ke Uruguay

Thalatie K Yani
28/3/2026 11:00
Ancaman Infeksi Jamur Kucing 'Sporothrix brasiliensis' Mulai Meluas ke Uruguay
Ilustrasi(freepik)

DUNIA kesehatan di Amerika Selatan kini tengah bersiaga. Para peneliti baru saja mendokumentasikan masuknya Sporothrix brasiliensis, sejenis jamur yang menyebabkan infeksi kulit serius, ke wilayah Uruguay. Penemuan ini mengonfirmasi adanya penularan yang terkait dengan kucing pada manusia, hewan peliharaan, dan satwa lokal di departemen Maldonado dan Rocha.

Temuan oleh tim dari Universidad de la Republica (Udelar) yang dipimpin oleh Elisa Cabeza ini mengubah persepsi dari kasus tunggal menjadi bukti nyata bahwa ancaman jamur yang sulit dikendalikan telah mendapatkan pijakan baru di wilayah tersebut.

Mengapa Kucing Menjadi Penyebar yang Efisien?

Luka terbuka pada kucing yang terinfeksi mengandung jamur dalam jumlah besar, terutama di sekitar hidung, wajah, mulut, dan cakar. Ketika kucing mencakar atau menggigit manusia, jamur tersebut langsung berpindah ke jaringan kulit dan mulai tumbuh.

Uniknya, jamur ini memiliki kemampuan "saklar suhu" atau dimorfisme. Di luar tubuh, ia tumbuh seperti benang bercabang, namun panas tubuh mamalia mengubahnya menjadi bentuk ragi yang padat. Bentuk kecil inilah yang memudahkan jamur menetap dan berkembang biak di dalam jaringan hidup.

Gejala yang Perlu Diwaspadai

Pada manusia, infeksi yang disebut sporotrikosis ini biasanya dimulai dengan benjolan merah yang kemudian pecah menjadi luka terbuka. Luka-luka baru sering muncul secara berurutan mengikuti jalur aliran kelenjar getah bening di bawah kulit.

Sementara itu, kucing yang terinfeksi biasanya menunjukkan luka yang sulit sembuh, kerak, dan kerontokan rambut, terutama di bagian kepala. Dalam beberapa kasus, mata kucing juga terlihat memerah dan mengeluarkan cairan.

Tantangan Diagnosis dan Kelompok Berisiko

Sering kali, luka akibat jamur ini disalahartikan sebagai infeksi bakteri biasa, sehingga pasien diberikan antibiotik yang tidak efektif. Diagnosis yang tepat harus dilakukan melalui pemeriksaan mikroskop atau pembiakan jamur di laboratorium.

"Infeksi ini dapat disembuhkan," kata Dr. Cabeza. Meski obat antijamur tersedia, pengobatan bisa memakan waktu berminggu-minggu hingga berbulan-bulan. Risiko komplikasi jauh lebih tinggi pada anak-anak di bawah usia dua tahun, lansia, dan orang dengan sistem kekebalan tubuh lemah. Dalam kasus langka, infeksi dapat menyebar ke sendi, paru-paru, hingga selaput otak.

Pola Penyebaran Baru

Sebelum peringatan ini muncul, kasus sporotrikosis di Uruguay biasanya dikaitkan dengan kontak tanah, tanaman, atau hewan armadillo. Namun, munculnya jalur penularan melalui kucing domestik dan kucing jalanan menandakan perubahan pola penyebaran yang lebih berbahaya.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat bahwa wabah ini telah berkembang pesat di Brasil dan negara-negara tetangganya dengan lebih dari 11.000 kasus manusia dilaporkan dalam satu dekade terakhir. Pergerakan kucing lintas batas, baik secara legal maupun informal, menjadi faktor kunci penyebaran strain jamur yang agresif ini.

Pengendalian kini menjadi lebih sulit karena kucing jalanan sering kali tidak terdiagnosa dan terus berkeliaran sambil membawa luka aktif. Penanganan terpadu antara kesehatan hewan, layanan medis, dan pelaporan masyarakat menjadi harga mati untuk memutus rantai penularan ini. (Earth/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya