Headline
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Kumpulan Berita DPR RI
PERNAHKAH Anda merasa semangat memulai diet di awal pekan, namun tiba-tiba merasa kewalahan dan "berantakan" beberapa hari kemudian? Banyak orang menganggap hal ini terjadi karena kurangnya motivasi atau disiplin. Namun, penelitian terbaru mengungkapkan fakta berbeda: masalah utamanya mungkin terletak pada terlalu banyaknya pilihan makanan.
Sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal Health Psychology menunjukkan kunci penurunan berat badan yang stabil bukanlah kesempurnaan menu, melainkan rutinitas yang repetitif. Mengurangi jumlah keputusan harian terkait makanan terbukti membuat proses diet terasa lebih ringan dan otomatis.
Studi yang dipimpin oleh para peneliti dari American Psychological Association memantau 112 orang dewasa selama program 12 minggu. Hasilnya cukup mengejutkan. Peserta yang cenderung mengonsumsi menu yang sama secara berulang berhasil menurunkan berat badan sekitar 5,9%. Sementara itu, mereka yang sering mengganti menu makanan hanya kehilangan sekitar 4,3%.
Ketidakstabilan asupan kalori, meski hanya selisih 100 kalori setiap harinya, ternyata cukup untuk memperlambat progres penurunan berat badan dalam jangka panjang.
Dr. Charlotte Hagerman dari Oregon Research Institute, penulis utama studi ini, menjelaskan menjaga diet sehat di lingkungan saat ini membutuhkan upaya dan pengendalian diri yang konstan.
"Membangun rutinitas seputar makan dapat mengurangi beban tersebut dan membuat pilihan sehat terasa lebih otomatis," ujar Dr. Hagerman.
Di era modern, kita dikepung oleh aplikasi makanan dan restoran dengan pilihan tak terbatas. Setiap kali kita harus memilih menu baru, otak mengalami kelelahan keputusan (decision fatigue). Kondisi mental yang lelah inilah yang sering memicu kita memilih makanan cepat saji atau tinggi gula secara impulsif.
Dengan menerapkan pola makan rutin, misalnya menu sarapan dan makan siang yang tetap, energi otak tidak terkuras habis. Makan sehat pun berubah dari beban pikiran menjadi sebuah kebiasaan yang natural.
Meski variasi makanan penting untuk nutrisi, Dr. Hagerman mencatat bahwa dalam lingkungan pangan modern yang penuh godaan, konsistensi jauh lebih krusial.
"Jika kita hidup di lingkungan makanan yang lebih sehat, kita mungkin akan mendorong orang untuk memiliki variasi diet sebanyak mungkin. Namun, lingkungan makanan modern kita terlalu bermasalah. Alih-alih, orang mungkin akan mendapatkan hasil terbaik dengan diet yang lebih berulang yang membantu mereka secara konsisten membuat pilihan yang lebih sehat," tambahnya.
Temuan menarik lainnya adalah mengenai kebiasaan di akhir pekan. Peserta yang tetap mencatat makanan mereka meski asupan kalorinya meningkat di hari Sabtu atau Minggu, justru meraih hasil keseluruhan yang lebih baik. Hal ini membuktikan bahwa kesadaran (awareness) terhadap apa yang dimakan jauh lebih penting daripada sekadar mencoba makan sedikit namun tidak konsisten.
Singkatnya, penurunan berat badan tidak selalu membutuhkan rencana yang rumit. Dengan menyederhanakan menu dan menjaga rutinitas yang stabil, perjalanan mencapai berat badan ideal akan terasa lebih mudah dikelola tanpa rasa stres yang berlebihan. (Earth/Z-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved