Headline
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Kumpulan Berita DPR RI
SEBUAH fenomena ekologi yang mengkhawatirkan sedang berlangsung di kedalaman hutan Amerika Utara dan Eropa. Jamur Tiram Emas (Pleurotus citrinopileatus), spesies eksotis asal Asia, kini menyebar tak terkendali setelah lepas dari budidaya manusia. Kehadirannya yang masif dilaporkan mulai memusnahkan populasi jamur lokal dan mengubah tatanan ekosistem hutan secara permanen.
Jamur ini dikenal karena penampilannya yang mencolok dengan tudung berwarna kuning neon. Meski populer bagi para pembudidaya karena hasil panennya yang melimpah, di alam liar, jamur ini adalah predator yang sangat agresif. Selain mampu melepaskan miliaran spora ke udara, tiram emas juga bersifat karnivora dengan memangsa cacing nematoda di dalam kayu.
Aishwarya Veerabahu, ahli mikologi dari University of Wisconsin-Madison, mengungkapkan dampak mengerikan dari invasi ini. Berdasarkan penelitiannya, pohon yang didominasi oleh jamur tiram emas hanya memiliki setengah dari tingkat keanekaragaman hayati jamur dibandingkan pohon normal.
"Hal itu menjadi indikator kuat bahwa mereka kemungkinan besar mengalahkan jamur asli yang ada di sana," jelas Veerabahu. Ia menambahkan bahwa perubahan susunan jamur dalam hutan dapat memicu efek domino yang tak terduga, termasuk mempercepat pembusukan kayu yang berdampak pada peningkatan emisi karbon.
Saat ini, jamur tiram emas telah menyebar di 25 negara bagian AS dan mulai menginvasi Eropa, mulai dari Italia, Hongaria, hingga wilayah selatan Inggris.
Di tengah ancaman "si kuning" ini, muncul gerakan perlawanan dari para pencinta jamur. Di berbagai festival mikologi, seperti All Things Fungi Festival di Inggris, jamur tiram emas telah dilarang sepenuhnya. Sebagai gantinya, para ahli dan sukarelawan kini berfokus pada teknik kloning jamur asli, seperti Tiram Abu-abu (Pleurotus ostreatus).
Andy Knott, seorang mantan insinyur yang kini mengelola kebun jamur di Dorset, menjadi salah satu pelopor pelestarian genetika lokal. "Banyak orang menanam spesies non-asli dari Tiongkok, Amerika, dan tempat lain, tapi mengapa tidak ada yang melestarikan genetika asli kita?" ungkapnya.
Melalui kloning warga (citizen science), sukarelawan mengambil sampel jaringan steril dari jamur asli untuk dikembangkan kembali. Tujuannya adalah memastikan bahwa spesies lokal tetap memiliki tempat di hutan mereka sendiri, meski ditekan oleh spesies invasif.
Upaya konservasi jamur kini mulai disejajarkan dengan perlindungan hewan dan tumbuhan. Pada Maret 2026, Uni Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN) menambahkan lebih dari 400 spesies jamur ke dalam Daftar Merah spesies yang terancam punah.
Matthew Wainhouse, spesialis jamur dari Natural England, menegaskan bahwa fungi adalah fondasi ekosistem. "Tanpa jamur, tidak ada tumbuhan. Mereka juga pencipta habitat; sekitar 1.800 spesies burung bergantung pada lubang pohon yang dibuat oleh jamur," jelasnya.
Meskipun jamur sering kali dianggap kurang "karismatik" dibandingkan hewan untuk mendapatkan dana konservasi, gerakan kloning dan pelaporan temuan spesies invasif oleh masyarakat menjadi titik terang bagi masa depan kerajaan fungi. (BBC/Z-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved