Headline

Pemudik diminta manfaatkan kebijakan WFA.

Tokoh Pelestari Orangutan, Prof Birute Mary Galdikas, Meninggal Dunia di AS

Putri Rosmalia Octaviyani
25/3/2026 14:45
Tokoh Pelestari Orangutan, Prof Birute Mary Galdikas, Meninggal Dunia di AS
Mendiang pelestari orangutan, Biruté Mary Galdikas.(Dok. Instagram Kemenhut dan Raja Juli Antoni)

TOKOH pelestari orangutan ternama, Prof. Biruté Mary Galdikas, dikabarkan meninggal dunia pada Selasa, 24 Maret 2026. Ia wafat di Los Angeles Amerika Serikat (AS).

Biruté Mary Galdikas merupakan Presiden Orangutan Foundation International (OFI) yang berkontribusi pada upaya konservasi orangutan di di Kalimantan Tengah khususnya di Kotawaringin Barat. Kepergiannya meninggalkan kehilangan besar bagi dunia konservasi di Tanah Air.

Informasi meninggalnya Biruté Mary Galdikas itu salah satunya datang dari Menteri Kehutanan (Menhut), Raja Juli Antoni. Dalam unggahan di akun Instagramnya, Raja Juli mengatakan mendapatkan kabar tentang kepergian  Biruté Mary Galdikas menjelang tengah malam kemarin, Selasa, (24/3) dari sang anak, Fred.

"Atas nama Kementerian Kehutanan saya mengucapkan bela sungkawa sedalam-dalamnya atas kepergian Bu Birute. Indonesia kehilangan salah seorang putra terbaik yang bekerja keras dalam senyap selama puluhan tahun di pedalam hutan Kalteng untuk konservasi habitat Orangutan," kata Raja Juli.

"Bila hari ini Anda melihat Taman Nasional Tanjung Puting yang indah-terjaga dengan orangutan yang membuat Anda berdecak kagum, tanpa terlihat Anda akan temukan jejak kaki dan tangan seorang perempuan berhati keras, berkomitmen tinggi— selain rumah tua dari kayu yang beliau dirikan diawal tahun 70-an. Selamat jalan Bu Birute. Terima kasih atas jasa dan kerja kerasmu selama ini," tambahnya. 

Ingin Dimakamkan di Indonesia

Raja Juli juga menceritakan tentang wasiat Birute yang disampaikan kepada sang anak. "Saya ingat pecakapan dengan Fred beberapa bulan yang lalu ketika kami sama-sama mengunjungi Taman Nasional Tanjung Puting, Kalteng, setelah mengunjungi kantor Orangutan Foundation International (OFI)," katanya. 

Ia mengatakan, sambil berbisik Fred menyampaikan bahwa ibunya mengidap kanker paru yang membuat beliau tidak bisa terbang lebih dari 4-5 jam. Mustahil terbang ke Indonesia. Padahal beliau sudah rindu sekali menginjakkan kaki kembali di hutan Kalteng. 

"Bahkan Fred menyampaikan wasiat Bu Birute bahwa bila beliau meninggal nanti, beliau ingin dimakamkan di tanah Dayak, di Kalteng, berdekatan dengan pusara suaminya, seorang Dayak yang telah duluan pergi," kata Raja Juli.

Saat ini, pihak keluarga dan yayasan masih menunggu proses administrasi di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Amerika Serikat agar pemulangan jenazah ke Indonesia dapat berjalan lancar.
 

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri Rosmalia
Berita Lainnya