Headline

Pemudik diminta manfaatkan kebijakan WFA.

Profil Biruté Mary Galdikas: Sosok Penjaga Orangutan Kelahiran Jerman Peraih Kalpataru

Putri Rosmalia Octaviyani
25/3/2026 14:50
Profil Biruté Mary Galdikas: Sosok Penjaga Orangutan Kelahiran Jerman Peraih Kalpataru
Mendiang Biruté Mary Galdikas.(Dok. Laman Orangutan Foundation International)

DUNIA konservasi internasional diselimuti awan duka. Prof. Biruté Mary Galdikas, pakar primatologi legendaris yang dijuluki sebagai "Bunda Orangutan", dikabarkan meninggal dunia pada Selasa, 24 Maret 2026, pukul 04.30 waktu Los Angeles, Amerika Serikat.

Kabar berpulangnya Presiden Orangutan Foundation International (OFI) ini telah dikonfirmasi oleh pihak yayasan dan Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Barat. Biruté meninggal dunia pada usia 79 tahun setelah mendedikasikan lebih dari 50 tahun hidupnya untuk melindungi orangutan dan habitat hutan hujan di Kalimantan.

Sosok di Balik Camp Leakey

Lahir di Jerman pada 10 Mei 1946, perjalanan Biruté dimulai pada tahun 1971 ketika ia tiba di Tanjung Puting, Kalimantan Tengah. Bersama Jane Goodall dan Dian Fossey, ia terpilih oleh antropolog Louis Leakey untuk mempelajari kera besar di alam liar. Biruté mendirikan Camp Leakey, yang kini menjadi pusat penelitian orangutan paling lama dan paling dihormati di dunia.

Selama puluhan tahun, Biruté tidak hanya mendokumentasikan perilaku orangutan, tetapi juga berjuang melawan deforestasi, industri kayu ilegal, dan ekspansi perkebunan sawit yang mengancam kepunahan satwa endemik tersebut. Ia telah membantu merehabilitasi dan melepasliarkan lebih dari 1.000 orangutan kembali ke hutan.

Prestasi Biruté Mary Galdikas

  • Penerima Penghargaan Kalpataru (1997) dari Pemerintah Indonesia.
  • Presiden dan Pendiri Orangutan Foundation International (OFI).
  • Penulis buku legendaris "Reflections of Eden".
  • Ilmuwan pertama yang mendokumentasikan siklus kelahiran dan pola makan orangutan secara mendetail.

Amanah Terakhir: Dimakamkan di Pangkalan Bun

Meski berkebangsaan Kanada-Lithuania pada awalnya, Biruté telah lama menjadi warga negara Indonesia (WNI). Kedekatannya dengan tanah Kalimantan sangat mendalam, terlebih ia menikah dengan seorang tokoh masyarakat Dayak, mendiang Bohap bin Jalan.

Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni menyatakan bahwa jenazah almarhumah direncanakan akan dibawa kembali ke Indonesia. Sesuai wasiatnya, Prof. Biruté ingin dimakamkan di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, berdampingan dengan makam suaminya di Desa Pasir Panjang.

Kepergiannya meninggalkan lubang besar bagi dunia sains dan konservasi. Namun, warisannya akan terus hidup melalui ribuan hektar hutan yang ia selamatkan dan semangat pelestarian yang ia tanamkan pada generasi muda Indonesia. (H-3)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri Rosmalia
Berita Lainnya