Headline
Gara-gara Yaqut, Noel ikut ajukan jadi tahanan rumah.
Gara-gara Yaqut, Noel ikut ajukan jadi tahanan rumah.
Kumpulan Berita DPR RI
MENTERI Agama Nasaruddin Umar menegaskan pentingnya penyelarasan antara nilai-nilai spiritual dengan perkembangan sains dan teknologi dalam dunia pendidikan tinggi. Hal tersebut disampaikan Menag saat peresmian Fakultas Sains dan Teknologi di Universitas Hindu Negeri (UHN) I Gusti Bagus Sugriwa, Senin (23/3).
Menag mengingatkan bahwa kemajuan teknologi harus tetap memiliki arah yang jelas dan tidak terlepas dari nilai-nilai keagamaan. Ia menekankan bahwa dimensi spiritual perlu menjadi landasan utama agar perkembangan ilmu pengetahuan memberi manfaat bagi kehidupan manusia.
"Jangan sampai kita maju secara teknologi, tetapi kehilangan arah secara spiritual. Teknologi harus dipandu oleh nilai-nilai agama agar tetap memanusiakan manusia," kata Menag, dikutip Selasa (24/3).
Lebih lanjut, ia menyoroti pentingnya penguatan pendidikan berbasis sains dan teknologi yang sejalan dengan nilai-nilai keagamaan. Perguruan tinggi, menurutnya, memiliki peran strategis dalam mencetak generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki kedalaman spiritual.
"Ilmu tanpa agama kehilangan arah, sementara agama tanpa ilmu kehilangan relevansi. Keduanya harus berjalan beriringan," ungkapnya.
Selain itu, Menag juga menekankan bahwa upaya memperkuat kerukunan umat beragama tidak cukup hanya melalui kegiatan seremonial. Ia mendorong agar dialog lintas agama menjadi ruang yang produktif dan mampu melahirkan pemahaman yang mendalam.
"Kita harus menghadirkan dialog yang berdampak, bukan sekadar pertemuan formal. Dialog harus melahirkan hikmah yang berakar pada nilai lokal dan berwawasan global," tegasnya.
Dalam konteks kehidupan beragama di Indonesia, Menag menilai moderasi beragama sebagai kunci utama dalam menjaga persatuan di tengah keberagaman. Ia menjelaskan bahwa moderasi bukanlah upaya mengurangi ajaran agama, melainkan cara mengelola praktik beragama agar tetap seimbang.
"Agama itu sudah sempurna. Yang perlu dimoderasi adalah cara kita beragama. Moderasi adalah upaya menjaga keseimbangan, menghargai perbedaan tanpa memaksakan keseragaman," jelasnya.
Ia juga mengingatkan agar masyarakat menghindari dua sikap ekstrem dalam beragama, yakni pemaksaan keseragaman yang dapat memicu radikalisme, serta kebebasan tanpa batas yang berpotensi melahirkan sikap liberal berlebihan.
"Indonesia tidak dibangun di atas ekstremitas. Kita menjaga keseimbangan melalui nilai toleransi, komitmen kebangsaan, anti-kekerasan, dan penghormatan terhadap tradisi," ujarnya.
Menag pun berpesan kepada para mahasiswa agar terus mengembangkan potensi diri tanpa meninggalkan nilai moral dan integritas.
"Kalian adalah pemimpin masa depan. Kuasai ilmu pengetahuan, berinovasilah, tetapi tetap pegang teguh nilai-nilai spiritual," tuturnya.
Melalui momentum tersebut, Kementerian Agama berharap terbangun sinergi antara penguatan kerukunan umat beragama dan kemajuan ilmu pengetahuan, guna mendukung pembangunan bangsa yang inklusif dan berkelanjutan. (Fik/I-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved