Headline
Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.
Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.
Kumpulan Berita DPR RI
KEDATANGAN Lebaran Idul Fitri menandai momen kegembiraan dan refleksi mendalam bagi umat Muslim di seluruh dunia. Lebaran Idul Fitri, yang juga dikenal sebagai Hari Raya, merupakan salah satu momen paling bersejarah dalam kalender Islam.
Lebaran Idul Fitri tidak sekadar perayaan, tetapi juga penghormatan terhadap nilai-nilai spiritual dan sejarah yang kaya di dalam agama Islam. Namun, bagaimanakah sejarah, keutamaan, dan cara salat Idul Fitri? Simak pemaparan berikut.
Sejarah Hari Raya Idul Fitri tidak bisa lepas dari dua peristiwa, yaitu Perang Badar dan hari raya masyarakat jahiliyah. Awal pelaksanaan Hari Raya Idul Fitri pada tahun ke-2 Hijriah. Saat itu bertepatan dengan kemenangan kaum Muslimin dalam Perang Badar.
Baca juga: Lebaran Berbeda Ini Hukum Salat Id, Puasa, dan Zakat Fitrahnya
Kemenangan itu menjadi sejarah bahwa di balik perayaan Idul Fitri ada histeria dan perjuangan para sahabat untuk meraih kemenangan dan menjayakan Islam. Oleh karenanya, setelah kemenangan diraih umat Islam, secara tidak langsung mereka merayakan dua kemenangan, yaitu kemenangan atas dirinya yang telah berhasil berpuasa selama satu bulan dan kemenangan dalam Perang Badar.
Sebelum Islam datang, kaum Arab jahiliyah punya dua hari raya yang dirayakan dengan sangat meriah. Dalam suatu hadis dijelaskan bahwa asal-usul disyariatkan hari raya ini tidak lepas dari tradisi orang jahiliyah yang punya kebiasaan khusus untuk bermain dalam dua hari. Kemudian dua hari itu oleh Rasulullah SAW ganti menjadi hari yang lebih baik dan perayaan yang lebih baik pula, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha.
Rasulullah SAW bersabda:
Artinya: Dari Anas bin Malik, Rasulullah SAW bersabda, "Kaum jahiliyah dalam setiap tahun memiliki dua hari yang digunakan untuk bermain." Ketika Nabi Muhammad SAW datang ke Madinah, Rasulullah bersabda, "Kalian memiliki dua hari yang biasa digunakan bermain, sesungguhnya Allah telah mengganti dua hari itu dengan hari yang lebih baik, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha (HR Abu Dawud dan an-Nasa’i).
Baca juga: Niat Salat Idul Adha Arab, Latin, dan Artinya
Hadratussyekh Muhammad Hasyim Asy’ari dalam kitabnya Risalah fil Aqaid menjelaskan bahwa dua hari yang setiap tahun digunakan untuk pesta pora oleh kaum jahiliyah itu disebut dengan hari Nairuz dan Marjaan. Dalam setiap tahun, dua hari ini digunakan untuk pesta pora dan diisi dengan mabuk-mabukan dan menari.
Dikatakan bahwa Nairuz dan Marjaan merupakan hari raya orang Persia kuno. Setelah turunnya kewajiban puasa Ramadan, Rasulullah SAW mengganti Nairuz dan Marjaan dengan hari Idul Fitri dan Idul Adha. Tujuannya, agar umat Islam punya tradisi yang lebih baik dan sejalan dengan yang disyariatkan oleh Allah SWT (Risalah fil Aqaid, juz 3, h. 68).
Begitu pun Imam al-Baihaqi dalam kitabnya, as-Sunanul Kubra, menampilkan bunyi hadisnya secara jelas. Rasulullah SAW bersabda:
Artinya: Dari Abdullah bin Umar, Rasulullah SAW bersabda, "Barang siapa membangun negeri kaum ajam (selain Arab), kemudian meramaikan hari-hari Nairuz dan Mihrajan mereka serta meniru mereka hingga ia mati dalam keadaan seperti itu, ia akan dibangkitkan bersama mereka pada hari kiamat (Imam al-Baihaqi, as-Sunanul Kubra, juz 9, h. 234).
Baca juga: Bacaan Salat Idul Fitri dalam Arab, Latin, dan Arti
Berikut beberapa keutamaan Idul Fitri:
1. Turunnya Ampunan dan Rahmat.
Idul Fitri adalah momen Allah mengampuni dosa-dosa hamba-Nya yang berpuasa dengan ikhlas dan melaksanakan salat Id. Kembali suci (fitrah) pada Idul Fitri dimaknai sebagai hari kembali suci atau bersih dari dosa-dosa seperti bayi yang baru lahir.
2. Hari Kemenangan.
Idul Fitri merupakan kemenangan melawan hawa nafsu setelah sebulan berpuasa dan beribadah di bulan Ramadan.
3. Hari Bersyukur.
Hari Raya Idul Fitri dijadikan momen untuk bersyukur atas ketaatan yang telah diberikan kekuatan untuk mengerjakannya.
Baca juga: Seruan Bilal saat Salat Id dan Dalilnya
4. Mempererat Silaturahmi.
Tradisi saling memaafkan (halal bihalal) dan bersilaturahmi dalam Idul Fitri memperkuat tali persaudaraan sesama Muslim.
5. Hari Pembagian Pahala.
Rasulullah SAW menyebutkan Idul Fitri yaitu saat hamba-hamba Allah menerima upah atas amal ibadah mereka. Idul Fitri adalah hari raya yang ditetapkan Allah sebagai pengganti hari permainan kaum jahiliyah untuk diisi dengan zikir dan ketaatan.
Salat Idul Fitri bisa dilaksanakan secara berjemaah ataupun sendiri sebanyak 2 rakaat dengan takbir sebanyak tujuh kali di rakaat pertama dan lima kali pada rakaat kedua. Berikut tata cara salat Idul Fitri.
1. Membaca Niat Salat Idul Fitri.
Arab-Latin: Ushollî sunnatan li 'îdil fithri rok'ataini (imâman/ma'mûman) lillahi ta'ala
Artinya: "Saya niat shalat sunnah Idul Fitri dua rakaat (menjadi makmum/imam) karena Allah ta'ala"
Apabila menjadi imam melafalkan imâman dalam niat dan ma'mûman jika menjadi makmum.
Baca juga: Khutbah Salat Idul Fitri Sembilan Pelajaran dari Madrasah Ramadan
2. Melakukan Takbiratul Ihram.
3. Membaca Doa Iftitah.
4. Takbir Sebanyak 7 kali (Rakaat Pertama).
Setelah takbiratul ihram dan membaca doa iftitah selanjutnya melakukan takbir sebanyak tujuh kali. Di sela-sela setiap takbir dianjurkan untuk membaca:
Arab-Latin: Allaahu akbar kabiraa walhamdulillaahi katsiiraa, wa subhaanallaahi bukratan wa'ashiilaa"
Artinya: "Allah Maha Besar dengan segala kebesaran, segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak, Maha Suci Allah, baik waktu pagi dan petang"
Atau bisa juga membaca tasbih berikut ini:
Arab-Latin: Subhanallah walhamdulillah wala ilaaha illallahu wallahu akbar wala haulawala quwwata illa billahil 'aliyyil 'adzim
Artinya: "Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah, tiada tuhan selain Allah, Allah maha besar."
Baca juga: Bolehkah Zakat Fitrah kepada Saudara Kandung Cek Syarat dan Hukumnya
5. Membaca Al-Fatihah dan Surat Pendek.
Setelah takbir sebanyak tujuh kali, rukun selanjutnya adalah membaca Al-Fatihah dilanjutkan dengan bacaan surat pendek seperti salat fardhu dan sunah seperti biasa.
6. Ruku' hingga Berdiri Lagi.
Rukun selanjutnya setelah selesai membaca surat pendek sama seperti pelaksanaan salat fardhu dan sunah lain. Salat dilanjutkan dengan ruku', sujud, duduk di antara dua sujud, dan seterusnya hingga berdiri untuk rakaat kedua. Untuk bacaannya pun sama seperti bacaan salat biasanya.
7. Takbir Lima Kali (Rakaat Kedua).
Pada rakaat kedua, melakukan takbir sebanyak lima kali. Bacaan yang dilafalkan di sela-sela takbir sama seperti pada rakaat pertama.
Baca juga: Puasa Syawal Harus Berurutan atau Boleh Terpisah dan Hukum Membatalkannya
8. Mengulangi Rukun seperti Rakaat Pertama.
Setelah melakukan takbir sebanyak lima kali, rukun salat Id selanjutnya sama seperti pada rakaat pertama mulai dari membaca al-Fatihah, ruku', sujud, hingga salam.
Berikut amalan sunah yang bisa kamu lakukan sebelum atau sesudah salat Idul Fitri agar ibadahmu semakin afdal.
1. Mandi dan menyucikan diri.
Sebelum melaksanakan salat Idul Fitri, kita dianjurkan untuk mandi dan menyucikan diri atau berwudhu sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Hal ini diriwayatkan hadits dari Ibnu Abbas RA yang berbunyi:
Artinya: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam biasa mandi pada hari raya Idul Fitri dan Idul Adha." (HR. Ibnu Hibban)
2. Memakai pakaian terbaik dan wewangian.
Sebelum melaksanakan salat Id, dianjurkan untuk memakai pakaian terbaik dan menghias diri atau berdandan. Selain itu, dianjurkan memakai wewangian.
Hal ini merupakan salah satu ajaran Rasulullah SAW yang biasa keluar ketika salat Idul Fitri dan Idul Adha dengan pakaian yang terbaik.
Baca juga: Puasa Syawal Dalil Hukum, Beda Pendapat Mazhab, Dua Niat
3. Makan sebelum melaksanakan salat Idul Fitri.
Berbeda dengan salat Idul Adha, sebelum melaksanakan salat Idul Fitri dianjurkan untuk makan terlebih dahulu. Hal ini dianjurkan karena pada hari Raya Idul Fitri umat Islam tidak lagi melaksanakan ibadah puasa seperti saat bulan Ramadan. Hal ini berdasarkan hadits Rasulullah SAW yang berbunyi:
"Rasulullah SAW biasa berangkat salat Ied pada hari Idul Fitri dan beliau makan terlebih dahulu. Sedangkan pada hari Idul Adha, beliau tidak makan lebih dulu kecuali setelah pulang dari salat Ied baru beliau menyantap hasil qurbannya."
4. Mengambil jalan yang berbeda saat pergi dan pulang.
Saat pergi menuju tempat salat Idul Fitri atau pulang dari tempat salat Idul Fitri, kita dianjurkan untuk melewati jalan yang berbeda. Hal ini dimaksudkan agar saat pergi atau pulang kita bertemu dengan lebih banyak orang untuk bersilaturahmi. Selain itu, kita dianjurkan untuk berjalan kaki menuju tempat salat Idul Fitri. Hal ini diriwayatkan oleh ibnu Jabir melalui hadits yang berbunyi:
"Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam ketika salat 'Ied, beliau lewat jalan yang berbeda ketika berangkat dan pulang."
Serta hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar:
"Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam biasa berangkat salat 'Ied dengan berjalan kaki. Begitu pula ketika pulang dengan berjalan kaki."
Demikianlah sejarah, keutamaan, tata cara salat Idul Fitri, dan adabnya. Semoga bermanfaat. (I-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved