Headline
Pesan Presiden ialah efisiensi dimulai dari level atas.
Kumpulan Berita DPR RI
MOMEN Lebaran yang seharusnya menjadi ajang silaturahmi kerap berubah menjadi panggung pamer pencapaian atau flexing. Menanggapi hal ini, Psikolog Klinis lulusan Universitas Indonesia, Phoebe Ramadina, mengingatkan pentingnya menjaga kesehatan psikologis agar tidak terjebak dalam "perang gengsi" antaranggota keluarga.
Phoebe menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu merasa terbebani untuk mengimbangi apa yang ditampilkan orang lain. Menurutnya, memberikan respon netral adalah kunci utama agar diskusi tidak berlanjut menjadi kompetisi yang melelahkan secara mental.
Fenomena flexing di tengah keluarga besar biasanya dipicu oleh kebutuhan mendalam akan validasi.
Phoebe menyoroti adanya dorongan psikologis yang membuat seseorang rela menyewa barang-barang mewah hanya untuk mendapatkan pengakuan atau dianggap berhasil oleh lingkungan sosialnya.
Perilaku ini sering kali merupakan bentuk kompensasi dari rasa tidak aman atau ketakutan dianggap gagal.
"Di era yang sangat menekankan pencitraan, penampilan eksternal sering kali dianggap lebih penting daripada keaslian, sehingga individu rela melakukan berbagai cara untuk memenuhi ekspektasi sosial tersebut," ujar psikolog dari Personal Growth ini dilansir dari Antara Selasa (17/3).
Agar tidak "kena mental" saat menghadapi kerabat yang hobi pamer, Phoebe menyarankan beberapa langkah taktis untuk tetap menjaga kesehatan mental:
Phoebe menyarankan agar keluarga lebih fokus pada menanyakan kondisi emosional satu sama lain daripada sekadar pencapaian materi. Dengan demikian, kebersamaan tidak hanya terasa di permukaan, tetapi benar-benar memperkuat relasi kekeluargaan yang lebih suportif. (Ant/Z-10)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved