Headline

Pesan Presiden ialah efisiensi dimulai dari level atas.

Jangan Kena Mental! Ini Jurus Netral Hadapi Saudara yang Suka Flexing Menurut Psikolog

 Gana Buana
17/3/2026 19:37
Jangan Kena Mental! Ini Jurus Netral Hadapi Saudara yang Suka Flexing Menurut Psikolog
Jurus Netral Hadapi Saudara yang Suka Flexing.(Freepik)

MOMEN Lebaran yang seharusnya menjadi ajang silaturahmi kerap berubah menjadi panggung pamer pencapaian atau flexing. Menanggapi hal ini, Psikolog Klinis lulusan Universitas Indonesia, Phoebe Ramadina, mengingatkan pentingnya menjaga kesehatan psikologis agar tidak terjebak dalam "perang gengsi" antaranggota keluarga.

Phoebe menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu merasa terbebani untuk mengimbangi apa yang ditampilkan orang lain. Menurutnya, memberikan respon netral adalah kunci utama agar diskusi tidak berlanjut menjadi kompetisi yang melelahkan secara mental.

Haus Validasi dan Fenomena Sewa Barang Mewah

Fenomena flexing di tengah keluarga besar biasanya dipicu oleh kebutuhan mendalam akan validasi.

Phoebe menyoroti adanya dorongan psikologis yang membuat seseorang rela menyewa barang-barang mewah hanya untuk mendapatkan pengakuan atau dianggap berhasil oleh lingkungan sosialnya.

Perilaku ini sering kali merupakan bentuk kompensasi dari rasa tidak aman atau ketakutan dianggap gagal.

"Di era yang sangat menekankan pencitraan, penampilan eksternal sering kali dianggap lebih penting daripada keaslian, sehingga individu rela melakukan berbagai cara untuk memenuhi ekspektasi sosial tersebut," ujar psikolog dari Personal Growth ini dilansir dari Antara Selasa (17/3).

Tips Menjaga Kewarasan di Tengah Keluarga

Agar tidak "kena mental" saat menghadapi kerabat yang hobi pamer, Phoebe menyarankan beberapa langkah taktis untuk tetap menjaga kesehatan mental:

  • Berakar pada Nilai Diri: Jangan biarkan standar kesuksesan orang lain menggoyahkan prinsip dan standar hidup pribadi.
  • Jaga Jarak Emosional: Jika interaksi mulai terasa melelahkan atau toksik, jangan ragu untuk menjaga jarak secara emosional.
  • Kembangkan Empati: Sadari bahwa perilaku pamer sering kali muncul dari harga diri yang belum stabil atau upaya mencari rasa dihargai.
  • Alihkan Topik: Arahkan pembicaraan pada hal-hal yang memperkuat koneksi emosional, seperti berbagi pengalaman hidup atau mengenang memori masa kecil yang hangat.

Phoebe menyarankan agar keluarga lebih fokus pada menanyakan kondisi emosional satu sama lain daripada sekadar pencapaian materi. Dengan demikian, kebersamaan tidak hanya terasa di permukaan, tetapi benar-benar memperkuat relasi kekeluargaan yang lebih suportif. (Ant/Z-10)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Gana Buana
Berita Lainnya