Headline

Polisi harus usut tuntas hingga ke aktor intelektualnya.

Lestari Moerdijat Soroti Rendahnya IPLM Indonesia, Tantangan bagi Generasi Emas

mediaindonesia.com
16/3/2026 14:48
Lestari Moerdijat Soroti Rendahnya IPLM Indonesia, Tantangan bagi Generasi Emas
Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat.(Facebook.)

RENDAHNYA Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) Indonesia menjadi sorotan Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat karena berpotensi menghambat kemajuan generasi muda dan daya saing bangsa di kancah global. 

Data terbaru Perpustakaan Nasional (Perpusnas) menunjukkan IPLM Nasional berada pada angka 40,6, masuk kategori rendah.

"Bangsa dengan aspek literasi rendah akan tertatih-tatih dalam bersaing di kancah global," tegas Lestari Moerdijat dalam keterangan tertulisnya.

Skala penilaian IPLM menggunakan kategori: Sangat Rendah (0–29,9), Rendah (30–49,9), Sedang (50–79,9), Tinggi (80–89,9), dan Sangat Tinggi (90–100). Indeks ini digunakan Perpusnas untuk menilai upaya pemerintah daerah dalam membina perpustakaan dan meningkatkan budaya literasi masyarakat.

IPLM mengukur sejumlah unsur utama, termasuk sebaran layanan, koleksi, tenaga perpustakaan, jumlah kunjungan, serta keterlibatan masyarakat sebagai acuan menuju Indonesia Emas 2045.

Lestari Moerdijat, yang akrab disapa Rerie, menilai program literasi tidak boleh berjalan sendiri-sendiri. Sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan pegiat literasi wajib diperkuat melalui aksi konkret, bukan sekadar seremoni.

Rerie yang juga anggota Komisi X DPR RI mendorong agar layanan perpustakaan tersebar hingga desa-desa dan menjadi pusat kegiatan masyarakat, bukan sekadar gudang buku. Selain itu, dinas pendidikan diharapkan segera mengintegrasikan literasi ke dalam kurikulum dan kegiatan ekstrakurikuler.

Terpenting, ujar Anggota Majelis Tinggi Partai NasDem itu, pemerintah daerah wajib mengawal langkah-langkah tersebut dalam upaya meningkatkan literasi masyarakat.

"Saat ini momentum untuk bergerak. Bangsa ini butuh generasi yang cerdas dan berkarakter, dan itu dimulai dari literasi. Tidak ada kata instan, yang ada adalah kolaborasi yang berkelanjutan," pungkas Rerie.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Irvan Sihombing
Berita Lainnya