Headline
Kasus kuota haji diperkirakan merugikan negara Rp622 miliar.
Kumpulan Berita DPR RI
PENGGUNAAN gawai dan akses media sosial yang berlebihan kini menjadi ancaman nyata bagi perkembangan perilaku remaja. Psikolog anak Rose Mini Agoes Salim, mengingatkan bahwa algoritma platform digital berisiko mengurung remaja dalam ketergantungan yang sulit diputus.
Rose Mini menjelaskan, cara kerja algoritma membuat pengguna terus-menerus terpapar konten yang relevan dengan minat mereka. Kondisi ini menciptakan dunia yang sempit bagi remaja.
"Kalau dia senang gim, maka yang muncul terus gim. Kalau belanja, yang muncul terus belanja. Akhirnya dunianya hanya itu-itu saja," ujar Prof. Rose Mini saat dihubungi pada Jumat (13/3).
Paparan konten yang masif tanpa pengawasan juga memicu perilaku impulsif. Salah satu yang paling menonjol adalah kemudahan transaksi digital yang mendorong sifat konsumtif pada remaja yang belum memiliki penghasilan sendiri.
"Mereka tahu cara membelanjakan, tapi tidak tahu bagaimana mencari uangnya. Karena semua terasa mudah dan tidak terlihat," tegasnya.
Ia menambahkan bahwa tanpa edukasi dan kontrol orang tua, remaja akan kehilangan kemampuan menahan diri.
Sementara itu, psikolog anak Alva Paramitha, menyoroti keterkaitan antara sistem kerja otak remaja dengan fitur media sosial seperti TikTok atau Instagram Reels. Video pendek dan fitur scroll tanpa henti dirancang untuk memberikan instant reward.
"Itu memicu keinginan untuk terus melihat konten berikutnya. Selain itu, remaja yang mencari identitas butuh validasi. Saat mendapat banyak likes, muncul rasa diterima," jelas Alva.
Pemerintah saat ini telah memberlakukan pembatasan akses platform digital berisiko tinggi bagi anak di bawah usia 16 tahun untuk melindungi mereka dari dampak buruk ruang siber.
Para ahli sepakat bahwa regulasi pemerintah harus didukung oleh peran aktif orang tua. Rose Mini menekankan bahwa anak perlu diajarkan cara mengatur penggunaan gawai, terutama untuk hal-hal yang produktif dan keperluan sekolah.
Jika remaja menghabiskan sebagian besar waktunya di dunia digital, keterampilan sosial, kemampuan berpikir kritis, serta kreativitas mereka terancam tidak berkembang secara optimal. Orang tua diharapkan tetap mendampingi anak, terutama saat memasuki usia pra-remaja, guna memastikan mereka tetap berpijak pada realitas sosial. (Z-10)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved