Headline
Kemantapan jalan nasional sudah mencapai 93,5%
Kumpulan Berita DPR RI
Menjalankan ibadah puasa selama sebulan penuh di bulan Ramadan bukan hanya soal menahan lapar dan dahaga, tetapi juga melatih kedisiplinan terhadap waktu. Salah satu momen paling krusial adalah saat matahari terbenam atau waktu Maghrib tiba. Dalam tradisi Islam, menyegerakan berbuka puasa atau ta’jilul fithri adalah tindakan yang sangat ditekankan. Namun, di balik anjuran agama tersebut, tersimpan rahasia medis yang luar biasa bagi stabilitas fungsi tubuh manusia.
Secara teologis, menyegerakan berbuka puasa adalah bentuk ketaatan terhadap sunnah Rasulullah SAW. Beliau menegaskan bahwa umatnya akan selalu berada dalam kebaikan selama mereka tidak menunda-nunda waktu berbuka. Hal ini menjadi pembeda identitas ibadah puasa umat Muslim dengan kaum terdahulu yang seringkali melebih-lebihkan waktu puasa hingga malam hari.
Menyegerakan berbuka juga merupakan manifestasi dari sifat moderat dalam Islam (wasathiyah). Allah SWT tidak menghendaki hamba-Nya terbebani melampaui batas kemampuan fisiknya. Dengan berbuka tepat waktu, seorang mukmin mengakui keterbatasan dirinya sebagai makhluk dan mensyukuri nikmat rezeki yang diberikan oleh Sang Pencipta.
Ketika seseorang berpuasa lebih dari 12 jam, tubuh mengalami berbagai perubahan fisiologis yang signifikan. Berikut adalah manfaat medis utama dari tindakan berbuka puasa secara tepat waktu:
Selama berpuasa, cadangan glikogen di hati dan otot akan terkuras untuk menjaga energi. Jika waktu berbuka ditunda, tubuh akan masuk ke fase stres metabolik yang lebih berat. Menyegerakan berbuka, terutama dengan karbohidrat sederhana seperti kurma, memungkinkan kadar gula darah kembali stabil dalam waktu singkat.
Dehidrasi adalah tantangan terbesar saat berpuasa. Menunda berbuka berarti memperpanjang masa kekurangan cairan pada organ-organ vital seperti ginjal dan jantung. Dengan meminum air tepat saat Maghrib, tubuh segera memulai proses rehidrasi seluler yang mencegah pengentalan darah.
Lambung tetap memproduksi asam meskipun tidak ada makanan. Jika waktu berbuka ditunda, akumulasi asam ini dapat mengiritasi mukosa lambung, yang memicu gejala maag atau GERD. Masuknya makanan secara tepat waktu berfungsi sebagai penetralisir alami.
Banyak orang mengira menunda waktu berbuka dapat mempercepat penurunan berat badan. Secara medis, hal ini justru kontraproduktif. Menunda makan saat tubuh sangat lapar akan memicu hormon ghrelin (hormon lapar) meningkat drastis. Akibatnya, saat akhirnya berbuka, seseorang cenderung melakukan "balas dendam" dengan makan berlebihan (binge eating). Hal inilah yang justru menyebabkan kenaikan berat badan selama Ramadan.
Untuk mendapatkan manfaat maksimal, cara berbuka juga harus diperhatikan. Berikut adalah urutan yang disarankan oleh para ahli gizi:
| Kebutuhan | Tindakan |
|---|---|
| Hidrasi | Minum air putih minimal 2 gelas saat berbuka. |
| Energi | Pilih buah manis alami (kurma/pisang). |
| Pencernaan | Hindari makanan pedas dan asam sebagai menu pertama. |
Apa dampak buruk menunda buka puasa bagi lambung?
Menunda berbuka meningkatkan risiko gastritis karena asam lambung yang diproduksi terus-menerus tidak memiliki objek untuk diolah, sehingga mengikis dinding lambung.
Kenapa harus berbuka dengan yang manis?
Makanan manis alami (bukan gula rafinasi berlebih) memberikan suplai glukosa cepat untuk memulihkan fungsi saraf dan otak setelah seharian berpuasa.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved