Headline

Prabowo kembali gelar rapat terbatas bahas dampak perang di wilayah Timur Tengah.

Siapa Abu Janda? Berikut Profil, Pendidikan dan Deretan Kontroversinya

Reynaldi Andrian Pamungkas
11/3/2026 19:48
Siapa Abu Janda? Berikut Profil, Pendidikan dan Deretan Kontroversinya
Permadi Arya(Doc Instagram Permadi Arya)

NAMA Permadi Arya, atau yang lebih populer dengan sapaan Abu Janda, seolah tidak pernah absen dari pusaran pembicaraan publik di Indonesia. Sebagai salah satu pegiat media sosial paling berpengaruh sekaligus kontroversial, setiap gerak-geriknya selalu memicu reaksi pro dan kontra yang tajam.

Terbaru, pada Maret 2026, sosoknya kembali viral setelah terlibat perdebatan sengit dalam sebuah program bincang-bincang televisi nasional yang berujung pada pengusirannya dari studio. Lantas, siapa sebenarnya Abu Janda? Bagaimana latar belakang pendidikan dan apa saja deretan kontroversi yang pernah menjeratnya?

Profil Singkat Permadi Arya alias Abu Janda

Abu Janda lahir dengan nama asli Heddy Setya Permadi di Cianjur, Jawa Barat, pada 14 Desember 1973. Sebelum dikenal sebagai influencer politik, ia adalah seorang profesional yang bekerja di berbagai sektor industri selama belasan tahun.

Ia tercatat pernah berkarier di perusahaan sekuritas, perbankan swasta, hingga industri pertambangan batu bara dalam rentang tahun 1999 hingga 2015. Namanya mulai mencuat ke permukaan sejak Pilpres 2019 saat ia secara terbuka menjadi pendukung fanatik Joko Widodo dan aktif di media sosial untuk menangkal narasi radikalisme.

Latar Belakang Pendidikan Luar Negeri

Banyak yang tidak menyangka bahwa di balik gaya bicaranya yang ceplas-ceplos, Abu Janda memiliki latar belakang pendidikan internasional yang cukup mentereng. Berikut adalah riwayat akademisnya:

  • Diploma Ilmu Komputer: Informatics IT School, Singapura (Lulus tahun 1997).
  • Sarjana Business & Finance: University of Wolverhampton, Inggris (Lulus tahun 1999).

Pendidikan di bidang bisnis dan keuangan ini yang semula membawanya berkarier di dunia korporat sebelum akhirnya memutuskan untuk terjun sepenuhnya menjadi aktivis digital pada tahun 2015.

Pada pertengahan 2025, Abu Janda sempat dikabarkan diangkat sebagai Komisaris di salah satu anak usaha BUMN jalan tol. Meskipun kabar ini menuai kritik keras dari netizen terkait kompetensi, ia menanggapi isu tersebut dengan meminta doa agar dapat mengemban amanah dengan baik.

Deretan Kontroversi Abu Janda

Sepanjang kiprahnya di dunia digital, Abu Janda telah berkali-kali berurusan dengan hukum akibat pernyataan-pernyataannya yang dinilai menyinggung kelompok tertentu. Berikut adalah beberapa kasus yang paling menyita perhatian:

1. Kasus "Islam Arogan"

Pada awal 2021, Abu Janda mencuitkan pernyataan bahwa "Islam adalah agama arogan" karena dianggap menginjak-injak kearifan lokal. Pernyataan ini memicu gelombang kemarahan dari berbagai organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam dan membuatnya harus menjalani pemeriksaan di Bareskrim Polri.

2. Ujaran Rasisme terhadap Natalius Pigai

Ia juga pernah dilaporkan oleh DPP KNPI atas dugaan ujaran rasisme terhadap eks Komisioner Komnas HAM, Natalius Pigai. Cuitannya yang menyinggung aspek fisik Pigai dianggap telah melampaui batas kebebasan berpendapat dan masuk ke ranah kebencian berbasis ras.

3. Perseteruan dengan Tokoh Agama

Abu Janda dikenal sering terlibat "perang urat syaraf" dengan tokoh-tokoh seperti (Alm) Ustaz Tengku Zulkarnain, Felix Siauw, hingga Ustaz Maaher At-Thuwailibi. Ia sering memposisikan diri sebagai pembela keberagaman (pluralisme), namun caranya sering dianggap provokatif oleh lawan bicaranya.

4. Insiden Pengusiran di Televisi (Maret 2026)

Kontroversi terbaru terjadi dalam acara "Rakyat Bersuara" di salah satu stasiun TV swasta. Abu Janda dinilai tidak mampu menahan emosi dan mengeluarkan kata-kata makian kepada pakar hukum dan akademisi senior saat berdebat mengenai konflik geopolitik Timur Tengah. Ketidaktertiban ini membuat moderator meminta Abu Janda keluar dari studio saat acara masih berlangsung secara live.

Abu Janda adalah sosok yang kompleks. Di satu sisi, ia memiliki latar belakang pendidikan Inggris yang kuat dan pengalaman profesional yang mapan. Namun di sisi lain, gaya komunikasinya yang konfrontatif di media sosial menjadikannya salah satu figur paling polaris di Indonesia. Apakah ia seorang pejuang pluralisme atau sekadar pencari perhatian (attention seeker)? Penilaian tersebut kembali kepada persepsi publik masing-masing. (Z-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Reynaldi
Berita Lainnya