Headline

Pemerintah menyebut suplai minyak dari Amerika akan meningkat.

Sambut Hari Perempuan Internasional, Aktivis Soroti Nasib Perempuan Suku Laut dan Ancaman Tindak Pidana Perdagangan Orang

Rahmatul Fajri
03/3/2026 21:08
Sambut Hari Perempuan Internasional, Aktivis Soroti Nasib Perempuan Suku Laut dan Ancaman Tindak Pidana Perdagangan Orang
Ilustrasi(Dok Istimewa)

MENJELANG peringatan Hari Perempuan Internasional (International Women's Day) yang jatuh pada 8 Maret, aktivis kemanusiaan Nukila Evanty mengingatkan pentingnya solidaritas global untuk menghentikan kemiskinan struktural yang menjerat kaum perempuan, khususnya di wilayah pesisir dan masyarakat adat.

Nukila yang menjabat sebagai Ketua Inisiasi Masyarakat Adat (IMA) dan Direktur Eksekutif Women Working Group (WWG) itu menegaskan bahwa perempuan sering kali menjadi kelompok paling terdampak oleh krisis iklim dan masifnya industri ekstraktif. Ia menyoroti nasib perempuan Suku Laut di Kepulauan Riau yang kini kian terpinggirkan.

"Perempuan Suku Laut bukan hanya pengolah hasil laut, tapi pemegang pengetahuan penting tentang ekosistem. Namun, pengerukan pasir dan proyek pembangunan telah menggerus tempat tinggal mereka, meningkatkan angka kemiskinan, dan membatasi akses pendidikan," ujar Nukila melalui keterangannya, Selasa (3/3/2026).

Sebagai Ketua Koalisi Masyarakat Sipil Lawan Kejahatan Transnasional, Nukila juga memberikan peringatan serius terkait maraknya Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO). Ia menyebut kemiskinan dan rendahnya literasi menjadi celah bagi sindikat kejahatan untuk mengeksploitasi perempuan dan generasi muda.

Menurutnya, modus TPPO kini semakin beragam, mulai dari penipuan daring (online scam), penjualan bayi, hingga perdagangan organ tubuh manusia.

“Perempuan yang hidup dalam kemiskinan sangat rentan terhadap perdagangan manusia. Mereka dieksploitasi oleh sindikat yang memanfaatkan keputusasaan ekonomi. Di beberapa wilayah seperti Pulau Air Mas, Batam, banyak perempuan usia lanjut yang buta huruf, sehingga sangat rentan tertipu kontrak proyek pembangunan,” jelasnya.

Di tengah dunia yang masih didominasi budaya patriarki, Nukila mengajak seluruh perempuan untuk membangun solidaritas yang kuat. Ia menekankan bahwa perempuan yang sudah menduduki posisi strategis harus berani menyuarakan hak-hak kaum marjinal.

"Penting bagi kita untuk memiliki empati. Kemiskinan yang dialami perempuan marjinal bukan karena malas, tapi karena hambatan sistemik dan kebijakan yang tidak adil. Saya percaya, jika perempuan bahagia, maka masyarakat dunia juga akan bahagia," ungkapnya.

Melalui momentum Hari Perempuan Internasional 2026, Nukila berharap tidak ada lagi normalisasi terhadap marginalisasi perempuan dalam pengambilan keputusan. Ia mendorong adanya ruang aman dan akses pendidikan yang merata sebagai kunci kemandirian ekonomi.

"Feminisme adalah tentang hak dan kesempatan yang sama bagi semua gender. Kekuatan utama kita adalah Women support women. Mari bersuara untuk perubahan kehidupan perempuan yang lebih baik," pungkas Nukila. (H-2)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya