Headline

SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.

Gandeng Lembaga Internasional, UI Luncurkan Kapal Nirawak Penjaga Terumbu Karang Karimunjawa

Rahmatul Fajri
02/3/2026 12:53
Gandeng Lembaga Internasional, UI Luncurkan Kapal Nirawak Penjaga Terumbu Karang Karimunjawa
Ilustrasi(Dok Istimewa)

DISASTER Risk Reduction Center Universitas Indonesia (DRRC UI) memulai proyek ambisius pelestarian laut melalui inovasi "Seabug", sebuah kapal nirawak berbasis Internet of Things (IoT). Proyek yang didukung hibah internasional dari Coral Research & Development Accelerator Platform (CORDAP) ini disiapkan untuk memantau dan menjaga kualitas air ekosistem terumbu karang di Kepulauan Karimunjawa, Jawa Tengah.

Sebagai langkah awal, tim pakar DRRC UI telah merampungkan survei lapangan dan pemetaan lokasi pada 4 hingga 8 Februari 2026. Teknologi ini hadir sebagai jawaban atas degradasi ekosistem laut yang dipicu oleh sedimentasi dan aktivitas pariwisata yang tidak terkendali.

Project Manager DRRC UI, Adonis Muzanni, menjelaskan bahwa "Seabug" akan berfungsi sebagai penjaga digital yang mengirimkan data kualitas air secara real-time.

"Kami memastikan penempatan infrastruktur ini tidak akan mengganggu estetika alam maupun jalur navigasi lokal, melainkan menjadi 'penjaga digital' bagi ekosistem bawah laut," ujar Adonis melalui keterangannya, Senin (2/3/2026).

Tim UI menggunakan teknologi *Remotely Operated Vehicle* (ROV) atau drone bawah air untuk memetakan kondisi visual terumbu karang. Berdasarkan pertimbangan teknis keamanan perangkat dan arus air, tim merekomendasikan dua titik penempatan unit Seabug, yakni di sekitar perairan Naraya Resort dan Floating Paradise.

Setelah pengolahan data laboratorium selesai, proses instalasi unit Seabug dan floating deck secara menyeluruh direncanakan akan dilaksanakan pada April 2026, atau tepat setelah perayaan Idul Fitri 1447 H.

Perwakilan BTN Karimunjawa Agus Roma Purnomo mengungkapkan bahwa tantangan terbesar saat ini adalah aktivitas wisata snorkeling oleh wisatawan yang kurang terampil, yang kerap merusak struktur karang secara tidak sengaja.

“Data penelitian lima tahun terakhir menunjukkan degradasi signifikan. Kehadiran teknologi IoT ini diharapkan membantu kami memantau parameter fisik air seperti pH dan salinitas secara lebih akurat,” ungkap Agus.

Lurah Karimunjawa, Aris Setiawan, menambahkan bahwa data dari teknologi ini akan sangat membantu pemerintah desa dalam mengambil kebijakan perlindungan kawasan, terutama saat menghadapi fenomena pemutihan karang akibat suhu ekstrem.

Kolaborasi antara akademisi, pemerintah, dan pendanaan global ini diharapkan menjadi model percontohan bagi restorasi terumbu karang berbasis teknologi di wilayah pesisir lain di Indonesia guna menghadapi ancaman perubahan iklim. (H-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya