Headline
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
Kumpulan Berita DPR RI
SELAMA ini, dunia medis cenderung menangani penyakit degeneratif seperti kanker, jantung, dan demensia secara terpisah. Namun, sebuah terobosan besar baru saja dipublikasikan dalam jurnal Science. Alih-alih mengobati penyakit satu per satu, para ilmuwan mulai bertanya, mungkinkah kita memperlambat proses penuaan itu sendiri untuk mencegah berbagai penyakit sekaligus?
Tim peneliti dari The Rockefeller University berhasil menyusun atlas seluler paling detail yang pernah ada, memetakan bagaimana penuaan mengubah tubuh pada 21 organ mamalia. Dengan meneliti hampir 7 juta sel individu, mereka menemukan bahwa penuaan ternyata dimulai lebih awal dari yang kita duga dan berlangsung secara terkoordinasi di seluruh tubuh.
Penelitian ini membedah sel dari tikus pada tiga rentang usia, satu bulan (dewasa muda), lima bulan (paruh baya), dan 21 bulan (lansia). Hasilnya mengejutkan; proses penuaan bukanlah sesuatu yang terjadi mendadak di masa tua.
"Sistem ini jauh lebih dinamis daripada yang kita sadari," ujar Junyue Cao, kepala Laboratory of Single Cell Genomics and Population Dynamics. "Dan beberapa perubahan ini dimulai sangat awal. Pada usia lima bulan, beberapa populasi sel sudah mulai menurun. Ini memberi tahu kita penuaan bukan hanya sesuatu yang terjadi di akhir hayat, ini adalah kelanjutan dari proses perkembangan yang sedang berlangsung."
Data menunjukkan sekitar seperempat dari semua jenis sel mengalami perubahan jumlah seiring waktu. Populasi sel otot dan ginjal menurun drastis, sementara sel imun justru meluas secara signifikan.
Salah satu temuan paling mencolok adalah bahwa sekitar 40% perubahan terkait usia berbeda secara signifikan antara jantan dan betina (pria dan perempuan). Misalnya, subjek betina menunjukkan aktivasi imun yang jauh lebih luas seiring bertambahnya usia.
"Sangat mungkin hal ini menjelaskan prevalensi penyakit autoimun yang lebih tinggi pada perempuan," ungkap Cao.
Melalui metode single-cell ATAC-seq, tim mengidentifikasi 1.000 "titik panas" genetik yang rentan terhadap penuaan di berbagai jenis sel. Temuan ini mematahkan teori lama bahwa penuaan hanyalah kerusakan genetik yang terjadi secara acak. Sebaliknya, ada program biologis bersama yang menggerakkan penuaan di seluruh tubuh, sering kali dipicu oleh molekul pemberi sinyal kekebalan yang disebut sitokin.
"Tujuan kami bukan hanya untuk memahami apa yang berubah seiring penuaan, tetapi mengapa," kata Junyue Cao. "Dengan memetakan perubahan seluler dan molekuler, kita dapat mengidentifikasi apa yang mendorong penuaan. Hal itu membuka pintu bagi intervensi yang menargetkan proses penuaan itu sendiri."
Dengan ditemukannya titik-titik lemah ini, para ilmuwan kini tengah menjajaki kemungkinan penggunaan obat-obatan untuk menyesuaikan kadar sitokin guna memperlambat penuaan seluler secara serentak di berbagai organ. (Science Daily/Z-2)
Studi terbaru mengungkap manfaat suplemen kolagen untuk hidrasi kulit dan nyeri sendi, sekaligus mematahkan mitos tentang kemampuannya menghilangkan kerutan.
Spesialis akupunktur medik Rina Nurbani menjelaskan manfaat akupunktur berbasis uji klinis untuk anti-aging, insomnia, hingga gangguan saraf otonom.
Meski gaya hidup sehat bisa memperlambat penuaan, kulit tetap memerlukan perawatan khusus untuk mengembalikan kekencangan dan vitalitasnya.
Peneliti membuktikan emulsi pterostilbene 0,1% mampu meningkatkan elastisitas, mengurangi kerutan, memperbaiki kolagen, dan mengecilkan pori dalam 28 hari.
Kulit, organ terbesar kita, sering kali menjadi “alarm” pertama yang menunjukkan tanda-tanda penuaan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved