Headline

Penghapusan tunggakan iuran perlu direalisasikan lebih dahulu sambil menimbang kondisi ekonomi.

10 Tips Mendaki Gunung saat Puasa agar tidak Cepat Haus dan Capek

Reynaldi Andrian Pamungkas
26/2/2026 22:50
10 Tips Mendaki Gunung saat Puasa agar tidak Cepat Haus dan Capek
Sejumlah pengunjung bersiap melakukan pendaftaran sebelum mendaki Gunung Rinjani di Resort Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) di Sembalun, Lombok Timur, NTB.(ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi)

MENDAKI gunung saat menjalankan ibadah puasa di tahun 2026 bukan lagi halangan bagi para pecinta alam. Dengan perencanaan yang matang, aktivitas luar ruang ini justru bisa menjadi sarana "self-healing" sekaligus meningkatkan kualitas ibadah. Namun, tantangan dehidrasi dan penurunan stamina di ketinggian memerlukan penanganan khusus yang berbeda dari pendakian di bulan biasa.

Strategi Mendaki Gunung saat Puasa agar Tetap Bugar

Agar perjalanan Anda tetap aman dan nyaman, berikut adalah 10 tips mendaki gunung saat puasa yang telah dirangkum untuk menjaga energi Anda tetap stabil:

1. Pilih Gunung dengan Jalur Ramah

Disarankan memilih gunung dengan ketinggian di bawah 2.500 MDPL atau yang memiliki durasi pendakian singkat (2-4 jam). Gunung seperti Andong, Prau, atau Papandayan adalah pilihan ideal untuk pendakian "tektok" saat Ramadan.

2. Manajemen Waktu: Sore atau Malam Hari

Waktu terbaik adalah memulai pendakian pada pukul 15.30 atau 16.00 WIB. Dengan begitu, Anda hanya merasakan terik matahari sebentar dan bisa menikmati momen berbuka puasa di jalur pendakian atau di area perkemahan.

3. Nutrisi Sahur yang Tepat

Kunci utama tidak cepat capek adalah sahur. Konsumsilah karbohidrat kompleks (oatmeal, nasi merah) dan protein tinggi. Tambahkan buah-buahan yang mengandung banyak air seperti semangka atau melon.

4. Hindari Pemicu Haus

Kurangi konsumsi kafein (kopi/teh) dan makanan tinggi garam saat sahur. Kafein bersifat diuretik yang membuat Anda lebih sering buang air kecil, sehingga risiko dehidrasi meningkat.

5. Atur Ritme Langkah (Pacing)

Jangan mengejar waktu. Gunakan ritme jalan yang santai namun konsisten. Langkah kaki yang terlalu lebar akan menguras glikogen otot lebih cepat.

6. Teknik Napas yang Benar

Gunakan pernapasan lewat hidung secara dalam untuk menjaga pasokan oksigen tetap maksimal ke otot dan otak, mencegah rasa pusing atau mual.

7. Gunakan Pakaian yang Menyerap Keringat

Pilih material "base layer" yang cepat kering (quick-dry) agar tubuh tidak terbebani oleh keringat yang mengendap pada pakaian.

8. Pantau Kondisi Tubuh Secara Berkala

Jika muncul gejala pusing hebat, mata berkunang-kunang, atau kram ekstrem, segera batalkan pendakian. Mendaki saat puasa adalah tentang manajemen risiko, bukan ego.

9. Bawa Logistik Berbuka yang Ringan

Siapkan kurma, madu, atau minuman isotonik dalam wadah yang mudah dijangkau (hydration bladder) agar saat waktu Magrib tiba, Anda bisa langsung memulihkan energi.

10. Istirahat Berkala (Micro-Rest)

Lakukan istirahat pendek selama 1 menit setiap 20 menit berjalan untuk menetralisir asam laktat di kaki tanpa membuat suhu tubuh turun drastis.

Persiapan dan Perlengkapan yang Wajib Dibawa

Persiapan mendaki gunung saat puasa harus lebih detail dibandingkan pendakian biasa. Berikut daftar perlengkapan yang wajib masuk dalam daftar Anda:

  • Daypack Ringan: Gunakan tas ukuran 20-30 liter agar beban tidak memberatkan punggung.
  • Hydration Bladder: Memudahkan minum saat berbuka tanpa harus bongkar tas.
  • Pakaian Hangat: Jaket windbreaker dan thermal layer karena suhu gunung seringkali ekstrem.
  • Alat Ibadah: Sajadah travel ringan dan kompas untuk menentukan arah kiblat.
  • First Aid Kit (P3K): Pastikan membawa obat pribadi dan balsem otot.
  • Emergency Blanket: Sangat penting untuk menjaga suhu tubuh jika terjadi cuaca buruk. (Z-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Reynaldi
Berita Lainnya