Headline

Kapolri minta agar anggota Brimob pelaku insiden Tual dihukum seberat-beratnya.

Lebih Besar dari Grand Canyon, Ilmuwan Ungkap Asal-usul Ngarai Raksasa di Dasar Atlantik

Thalatie K Yani
24/2/2026 12:28
Lebih Besar dari Grand Canyon, Ilmuwan Ungkap Asal-usul Ngarai Raksasa di Dasar Atlantik
Jauh di bawah Samudra Atlantik, terdapat King’s Trough Complex, sistem parit raksasa sepanjang 500 km. Ilmuwan kini temukan penyebab terbentuknya ngarai ini.(AI/Science Daily)

JAUH di bawah permukaan Samudra Atlantik, sekitar 1.000 kilometer di lepas pantai Portugal, terbentang sistem ngarai bawah laut kolosal yang ukurannya melampaui Grand Canyon di daratan. Dikenal sebagai King’s Trough Complex, formasi sepanjang 500 kilometer ini terdiri dari rangkaian parit paralel dan cekungan dalam yang menyimpan misteri geologi jutaan tahun.

Berbeda dengan Grand Canyon yang terkikis oleh aliran sungai selama jutaan tahun, raksasa bawah laut ini terbentuk melalui proses tektonik yang dahsyat. Tim peneliti internasional yang dipimpin GEOMAR Helmholtz Centre for Ocean Research Kiel baru-baru ini berhasil mengungkap teka-teki pembentukannya melalui studi yang diterbitkan dalam jurnal Geochemistry, Geophysics, Geosystems.

Proses "Ritsleting" di Dasar Laut

Penelitian terbaru ini menunjukkan antara 37-24 juta tahun yang lalu, batas lempeng yang memisahkan Eropa dan Afrika sempat melewati wilayah Atlantik Utara ini. Pergeseran lempeng tektonik tersebut menarik dan mematahkan kerak samudra, membukanya secara bertahap dari timur ke barat layaknya ritsleting yang dibuka.

"Para peneliti telah lama menduga proses tektonik, yaitu pergerakan kerak bumi, memainkan peran sentral dalam pembentukan King's Trough," ujar penulis utama Dr. Antje Dürkefälden, ahli geologi laut di GEOMAR. "Hasil penelitian kami sekarang menjelaskan untuk pertama kalinya mengapa struktur luar biasa ini berkembang tepat di lokasi tersebut."

Pengaruh "Mantle Plume" di Bawah Permukaan

Salah satu temuan kunci dari tim ini adalah adanya kondisi kerak yang tidak biasa sebelum patahan terjadi. Jauh sebelum lempeng bergeser, kerak samudra di area tersebut telah menebal dan memanas akibat dorongan material panas dari mantel bumi, atau yang dikenal sebagai mantle plume.

Tim peneliti meyakini panas ini berasal dari cabang awal yang sekarang menjadi Azores mantle plume. Kondisi kerak yang panas dan tebal inilah yang justru membuat wilayah tersebut menjadi lebih lemah secara mekanis.

"Kerak yang menebal dan memanas ini mungkin membuat wilayah tersebut secara mekanis lebih lemah, sehingga batas lempeng lebih memilih bergeser ke sini," jelas rekan penulis Dr. Jörg Geldmacher. "Ketika batas lempeng kemudian bergerak lebih jauh ke selatan menuju Azores modern, pembentukan King's Trough pun terhenti."

Ekspedisi M168 dan Pemetaan Canggih

Kesimpulan ini didasarkan pada data ekspedisi penelitian M168 pada tahun 2020 menggunakan kapal riset METEOR. Ilmuwan menggunakan sonar beresolusi tinggi untuk memetakan dasar laut secara detail dan mengambil sampel batuan vulkanik dari sistem parit tersebut.

Analisis kimia dan penanggalan batuan dilakukan untuk merekonstruksi sejarah geodinamika Atlantik. Temuan ini tidak hanya menjelaskan masa lalu, tetapi juga memberikan wawasan tentang proses serupa yang masih berlangsung saat ini, seperti pembentukan Terceira Rift di dekat Azores. (Science Daily/Z-2)

Studi ini melibatkan kolaborasi luas, mulai dari peneliti di University of Madison (AS), Universitas Kiel, Universitas Martin Luther Halle-Wittenberg, hingga pusat penelitian EMEPC asal Portugal.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya