Headline

Pelaku usaha menagih penyederhanaan regulasi dan kepastian kebijakan dari pemerintah.

Sering Dianggap Batas Akhir Makan, Ini Fakta Imsak dan Subuh yang Benar

Putri Anisa Yuliani
17/2/2026 16:28
Sering Dianggap Batas Akhir Makan, Ini Fakta Imsak dan Subuh yang Benar
Warga antre mendapatkan lauk untuk makan sahur di Posko Sahur Gratis di Palu, Sulawesi Tengah, Jumat (15/3/2024).(Antara)

Memasuki bulan suci Ramadhan tahun 2026, pemahaman mengenai jadwal ibadah menjadi krusial bagi setiap Muslim. Salah satu topik yang paling sering ditanyakan namun kerap memicu perdebatan adalah mengenai perbedaan waktu imsak dan subuh. Banyak orang merasa panik ketika mendengar sirene imsak, seolah-olah pintu kesempatan untuk makan dan minum telah tertutup rapat.

Namun, apakah secara syariat imsak adalah batas akhir sahur? Memahami garis batas antara imsak dan subuh bukan hanya soal teknis waktu, tetapi juga soal ketenangan hati dalam menjalankan ibadah. Artikel ini akan mengupas tuntas perbedaan keduanya dari sudut pandang fikih, dalil, hingga sains astronomi.

Pengertian Imsak dan Subuh dalam Fikih Islam

Secara etimologi, imsak berasal dari kata bahasa Arab amsaka yang berarti menahan. Dalam konteks puasa, imsak secara umum merujuk pada aktivitas menahan diri dari segala hal yang membatalkan puasa. Namun, dalam tradisi masyarakat Indonesia, imsak didefinisikan sebagai waktu peringatan yang muncul sesaat sebelum fajar.

Sementara itu, subuh atau fajar shadiq adalah penanda dimulainya waktu salat subuh sekaligus titik awal di mana kewajiban berpuasa dimulai secara total. Berdasarkan syariat, batas haram untuk makan, minum, dan berhubungan suami istri adalah saat terbitnya fajar shadiq.

Batas Waktu Sahur yang Sesungguhnya Menurut Al-Qur'an

Al-Qur'an memberikan penjelasan yang sangat eksplisit mengenai batas waktu makan sahur. Dalam Surah Al-Baqarah ayat 187, Allah SWT berfirman:

"Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam."

Ayat ini menegaskan bahwa selama fajar belum menyingsing (belum masuk waktu subuh), seseorang masih diperbolehkan untuk makan dan minum. Dengan demikian, secara hukum asal (ashal), makan saat waktu imsak masih diperbolehkan dan tidak membatalkan puasa, selama yakin fajar belum terbit.

Mengapa Ada Waktu Imsak? Mengenal Prinsip Ihtiyat

Jika Al-Qur'an membolehkan makan hingga subuh, mengapa jadwal imsakiyah mencantumkan waktu imsak? Jawabannya terletak pada prinsip Ihtiyat atau sikap kehati-hatian.

Para ulama, khususnya dalam Madzhab Syafi'i, menetapkan waktu imsak sebagai zona penyangga (buffer zone). Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa ketika azan subuh berkumandang, mulut seseorang sudah dalam keadaan bersih dari sisa makanan. Tanpa adanya waktu imsak, dikhawatirkan seseorang masih asyik mengunyah saat fajar telah terbit.

Jarak Waktu Imsak ke Subuh: Berdasarkan Hadis Nabi

Penentuan jarak waktu imsak ke subuh yang biasanya berkisar antara 10 hingga 15 menit didasarkan pada hadis sahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dari Zaid bin Thabit RA.

Zaid menceritakan bahwa beliau pernah makan sahur bersama Rasulullah SAW, kemudian mereka segera berdiri untuk melaksanakan salat subuh. Ketika Anas bin Malik bertanya berapa lama jarak antara keduanya, Zaid menjawab: "Seukuran membaca 50 ayat Al-Qur'an."

Para ahli fikih mengonversi waktu membaca 50 ayat dengan tempo sedang menjadi durasi waktu kurang lebih 10 menit. Inilah yang menjadi standar jadwal imsakiyah di Indonesia.

Perbedaan Fajar Shadiq dan Fajar Kidzib

Dalam ilmu falak, memahami perbedaan imsak dan subuh juga berkaitan dengan jenis fajar yang muncul:

1. Fajar Kidzib (Fajar Semu)

Cahaya putih yang muncul menjulang ke atas (vertikal) di ufuk timur beberapa saat sebelum subuh. Pada saat fajar kidzib muncul, waktu sahur masih diperbolehkan.

2. Fajar Shadiq (Fajar Nyata)

Cahaya putih yang muncul mendatar (horizontal) di sepanjang ufuk timur. Munculnya fajar shadiq menandai masuknya waktu subuh secara resmi dan dimulainya ibadah puasa.

Pertanyaan Seputar Perbedaan Imsak dan Subuh

1. Bolehkah minum saat imsak?

Boleh. Secara syariat, minum saat imsak tidak membatalkan puasa karena belum masuk waktu subuh.

2. Bagaimana jika azan subuh berkumandang saat makanan masih di mulut?

Jika Anda yakin azan tersebut tepat waktu masuk fajar, maka makanan di mulut harus segera dikeluarkan (dilepeh). Jika sengaja ditelan, maka puasa batal.

3. Apakah imsak hanya ada di Indonesia?

Tradisi imsak populer di Asia Tenggara. Di negara Timur Tengah, mereka biasanya langsung merujuk pada azan subuh, namun tetap menganjurkan berhenti makan beberapa saat sebelumnya demi kehati-hatian.

Manajemen Waktu Sahur

Waktu Aktivitas Disarankan
Masuk Waktu Imsak Berhenti makan besar, fokus pada hidrasi (minum air).
5 Menit Sebelum Subuh Sikat gigi, membersihkan sisa makanan, dan membaca niat.
Azan Subuh Berhenti total dari segala aktivitas yang membatalkan puasa.

Kesimpulan

Perbedaan imsak dan subuh terletak pada fungsinya: imsak sebagai peringatan untuk bersiap-siap (ihtiyat), sedangkan subuh sebagai batas hukum dimulainya puasa secara syariat. Dengan memahami perbedaan ini, kita tidak perlu panik berlebihan namun tetap harus disiplin dalam mengatur waktu agar ibadah puasa di tahun 2026 ini menjadi lebih sempurna. (E-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri yuliani
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik