Headline
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Kumpulan Berita DPR RI
GURU Besar Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Yogyakarta, Tri Siswati, dalam seminar awam penggerakan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS), mengemukakan kanker merupakan penyakit tidak menular yang prevalensinya terus meningkat.
Menurut dia, meski memiliki prevalensi yang besar namun sebagian besar faktor risikonya dapat dikendalikan melalui perubahan perilaku. "Gaya hidup yang tidak sehat seperti konsumsi makanan tinggi lemak dan gula, kurang aktivitas fisik, merokok, serta paparan zat karsinogenik menjadi determinan utama meningkatnya risiko kanker," kataya. Karena itu, ujarnya lagi penerapan gaya hidup sehat menjadi strategi fundamentak sebagai upaya pencegahan kanker di masyarakat.
Dalam seminar bertajuk “Bersatu dalam Keunikan, Bergerak untuk Kesadaran Kanker dan Harapan yang Lebih Baik” ini diselenggarakan oleh Persatuan Promotor dan Pendidik Kesehatan Masyarakat Indonesia (PPPKMI) Kabupaten Sleman, dalam rangka HUT ke-38, di Pendhapa Rumah Dinas Bupati Sleman, Rabu, Tri Siswati lebih lanjut mengemukakan pendekatan promotif dan preventif melalui GERMAS harus diperkuat secara sistematis dan berkelanjutan.
“Pencegahan kanker tidak hanya bertumpu pada layanan kuratif di rumah sakit, tetapi dimulai dari rumah tangga, sekolah, dan lingkungan kerja melalui pembiasaan perilaku hidup sehat,” ujarnya.
Dalam penyelenggaraan pola hidup sehat, imbuhnya, pola makan yang seimbang menjadi bagian yang penting untuk jalankan. Pola makan seimbang berbasis gizi, mengonsumsi sayur dan buah yang cukup dan membatasi konsumsi makanan ultra proses, serta melakukan aktivitas fisik minimal 30 menit per hari.Makanan ultra proses adalah makanan dalal pembuatannya melalui serangkaian proses rumit antara lain ekstrusi, hidrogenasi, modifikasi kimia dan lannya.
Pada kesempatan itu, Tri mengingatkan hal lainnya yang penting dilakukan adalah deteksi dini. Deteksi dini seperti skrining kanker serviks, payudara, dan kolorektal, misalnya, cukup efektif dalam menurunkan angka kematian apabila dilakukan secara rutin dan tepat sasaran. Ia mengajak masyarakat untuk tidak menunda pemeriksaan kesehatan sebagai bentuk tanggung jawab terhadap diri sendiri dan keluarga.
Selain langkah tersebut, pencegahan juga harus dilakukan dengan meningkatkan literasi kesehatan agar masyarakat memahami informasi yang benar mengenai kanker.
"Edukasi berbasis bukti ilmiah, harus menjadi rujukan utama dalam pengambilan keputusan kesehatan sehingga tidak terjebak pada mitos atau klaim yang tidak terverifikasi," imbuhnya.
Pencegahan kanker, katanya juga memerlukan kolaborasi lintas sektor. Pemerintah daerah, organisasi profesi, institusi pendidikan, hingga komunitas masyarakat perlu bersinergi dalam membangun ekosistem yang mendukung gaya hidup sehat, termasuk penyediaan ruang terbuka hijau, fasilitas olahraga, dan akses pangan bergizi. (H-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved