Headline
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Kumpulan Berita DPR RI
IMUNISASI DPT (difteri, pertusis, dan tetanus) merupakan bagian penting dari program imunisasi nasional di Indonesia. Program ini bertujuan mencapai herd immunity yakni sebagian besar populasi kebal terhadap penyakit. Kondisi ini melindungi mereka yang rentan, seperti bayi terlalu muda untuk divaksinasi. Atau orang dengan kondisi medis tertentu. Imunisasi adalah intervensi kesehatan paling efektif. Hemat biaya untuk melindungi anak-anak dari penyakit serius.
Dengan memastikan anak-anak mendapatkan imunisasi DPT sesuai jadwal, orangtua dapat melindungi mereka dari penyakit difteri, pertusis, dan tetanus, serta berkontribusi pada kesehatan masyarakat secara keseluruhan.
Sebelum memberikan imunisasi DPT, orangtua perlu mencari informasi terkait jadwal dan efek samping yang wajib diketahui. Pastikan pula usia bayi sudah memenuhi syarat untuk diberikan imunisasi DPT. Pemberian vaksin DPT dapat dilakukan pada anak di bawah usia 7 tahun.
Vaksin DPT dosis rendah untuk difteri dan pertusis dapat diberikan pada remaja. Mulai usia 11 tahun hingga dewasa usia 19 sampai 64 tahun. Ini disebut dosis booster untuk meningkatkan kekebalan.
Imunisasi ini diberikan sebanyak lima kali sejak anak berusia 2 bulan hingga 6 tahun. Tiga dosis pertama diberikan pada usia 2, 3, dan 4 bulan.
Dosis keempat diberikan saat anak berusia 18 bulan. Pemberian terakhir pada usia 5 tahun. Anak-akan menerima satu suntikan pada setiap jadwal imunisasi. Anak dianjurkan mendapatkan booster DPT setiap 10 tahun sekali.
Sebelum imunisasi, perhatikan kondisi anak. Apabila anak sedang sakit parah, tunda imunisasi. Tunggu hingga kondisi kesehatan anak membaik dan sehat total. Jangan pernah berikan imunisasi lanjutan apabila anak mengalami gangguan pada sistem saraf atau otak.
Hindari imunisasi lanjutan jika anak mengalami reaksi alergi berat dalam 7 hari setelah suntikan. Apabila imunisasi lanjutan tetap dilakukan, hal ini dapat mengancam nyawa. Segera periksakan anak ke dokter jika demam di atas 40 derajat Celsius.
Periksakan juga jika anak menangis setidaknya 3 jam tanpa henti. Atau anak kejang dan pingsan setelah imunisasi. Berikut jadwal imunisasi DPT untuk anak:
Imunisasi DPT berpotensi menimbulkan beberapa efek samping. Efek samping setelah vaksin anak umum biasanya ringan dan bersifat sementara. Antara lain demam ringan, muncul bengkak di bekas suntikan, serta kulit di bekas suntikan menjadi merah dan terasa sakit.
Anak juga mungkin terlihat lelah dan menjadi rewel. Efek samping ini umumnya terjadi dalam satu hingga tiga hari setelah imunisasi. Orang tua dapat memberikan paracetamol untuk meredakan demam dan nyeri. Hindari obat mengandung aspirin.
Aspirin dapat menimbulkan gangguan kesehatan mengancam jiwa. Yakni kerusakan hati dan otak. Efek samping yang lebih serius sangat jarang terjadi. Namun, jika anak mengalami reaksi alergi parah, seperti sulit bernapas atau bengkak pada wajah atau tenggorokan, segera cari pertolongan medis.
Vaksin DPT mencegah tiga penyakit mematikan: difteri, pertusis, dan tetanus. Anak-anak rentan terhadap ketiga penyakit ini. Infeksi penyakit ini mudah menular pada anak. Difteri dan pertusis dapat tertular melalui percikan air liur.
Tertular juga saat tidak sengaja menghirup bersin orang yang mengidap penyakit tersebut. Bakteri tetanus dapat masuk melalui luka akibat goresan paku atau gigitan hewan.
Difteri adalah infeksi serius akibat bakteri Corynebacterium diphtheriae. Bakteri ini menghasilkan racun. Infeksi bakteri ini dapat menyebabkan kesulitan bernapas. Juga masalah irama jantung, bahkan kematian.
Pertusis atau batuk rejan dapat menyebabkan penyakit serius. Paling berbahaya bagi bayi. Vaksinasi adalah cara terbaik untuk melindungi anak dari pertusis.
Tetanus adalah penyakit serius pada sistem saraf. Disebabkan oleh bakteri Clostridium tetani. Penyakit ini menyebabkan kontraksi otot, terutama otot rahang dan leher. Tetanus dikenal dengan istilah lockjaw.
Komplikasi tetanus yang parah dapat mengancam jiwa. Tidak ada obat untuk tetanus. Perawatan berfokus pada penanganan gejala dan komplikasi. Selain itu, mengatasi efek racun dari tetanus. (H-4)
Vaksin influenza untuk anak bisa diberikan pada anak berusia lebih dari 3 bulan. Selain anak, vaksin flu juga perlu diberikan untuk kelompok rentan.
IMUNISASI anak wajib diberikan pada bayi baru lahir hingga individu usia 18 tahun. Kementerian Kesehatan mewajibkan vaksinasi pada anak untuk melindungi buah hati
Penyakit menular menjadi ancaman serius di lingkungan dengan interaksi sosial tinggi, seperti sekolah dan asrama.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved