Headline

Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa. 

Ancaman di Balik Manisnya Jambu Biji: Mengapa Hutan Madagaskar Gagal Pulih?

Thalatie K Yani
13/2/2026 14:00
Ancaman di Balik Manisnya Jambu Biji: Mengapa Hutan Madagaskar Gagal Pulih?
Ilustrasi(freepik)

PERNAHKAH Anda membayangkan sebuah hutan yang berhenti tumbuh meskipun tidak ada lagi manusia yang menebang pohon di sana? Di Madagaskar, fenomena ini nyata terjadi. Alam ternyata tidak selalu bisa menyembuhkan dirinya sendiri, terutama ketika ada "penyusup" yang menghalangi jalan.

Di Taman Nasional Ranomafana, sebuah situs Warisan Dunia UNESCO, masa depan hutan sedang terancam oleh tanaman yang sekilas tampak tidak berbahaya: jambu biji strawberry (strawberry guava).

Penjajah dari Masa Kolonial

Meski tumbuh subur di Madagaskar, tanaman ini sebenarnya bukan penduduk asli. Berasal dari Brasil, jambu ini dibawa oleh manusia pada era kolonial tahun 1800-an. Awalnya, tanaman ini dianggap berguna karena batangnya yang kuat dan buah merahnya yang manis. Namun, di balik rasa manisnya, ia adalah ancaman bagi keanekaragaman hayati.

Biolog dari Rice University, Amy Dunham, bersama tim peneliti dari AS dan Malagasi, menemukan tanaman ini menyebar sangat cepat di area yang kanopi hutannya rusak. Begitu sinar matahari menyentuh tanah akibat penggundulan hutan, jambu biji ini langsung menguasai lahan dan membentuk semak yang sangat tebal.

Siklus Regenerasi yang Terhenti

Secara alami, hutan yang rusak akan melewati tahap pemulihan perlahan. Tanaman kecil tumbuh, bibit pohon bertunas, dan perlahan-lahan pohon besar kembali membentuk tajuk hutan. Namun, kehadiran jambu biji strawberry memutus siklus ini.

"Setelah gangguan hutan, kita biasanya mengharapkan proses regenerasi alami yang bertahap," catat Dunham. "Studi kami menunjukkan bahwa ketika jambu biji strawberry mulai tumbuh, proses regenerasi alami itu dapat terhenti, menghambat pemulihan spesies asli pada tahap awal dan mengganggu komunitas tanah, serangga, dan tanaman yang mendukung sisa hutan."

Hasilnya? Hutan menjadi "terjebak" dan tidak bisa kembali ke kondisi aslinya.

Tanah yang Miskin dan Bibit yang "Macet"

Penelitian ini membandingkan lahan yang dipenuhi jambu biji dengan area hutan asli. Perubahannya sangat drastis. Tanah di area jambu biji memiliki kadar nutrisi yang jauh lebih rendah, termasuk karbon dan nitrogen.

Hal yang paling mengejutkan terjadi pada bibit pohon asli. Sebenarnya, bibit pohon asli tetap tumbuh di area jambu biji, namun mereka tidak pernah dewasa.

"Kehadiran bibit pohon non-jambu biji dengan kepadatan dan keragaman yang sama di kedua set plot menunjukkan bahwa pohon asli mampu bertunas," kata rekan penulis studi, Julieanne Montaquila. "Tetapi plot yang diserbu tetap terhenti pada tahap bibit, tidak mampu berlanjut ke langkah berikutnya dalam siklus regenerasi."

Para ilmuwan menduga hal ini terjadi karena jambu biji menghalangi ruang dan cahaya, atau bahkan melepaskan bahan kimia yang menghambat pertumbuhan tanaman lain.

Dilema Bagi Lemur yang Terancam Punah

Masalah ini semakin rumit karena aspek konservasi. Hewan-hewan pemakan buah, terutama lemur yang terancam punah, sangat menyukai buah jambu biji ini.

"Di sini, kita memiliki spesies invasif yang memberi makan lemur sekaligus menghancurkan habitat mereka," ujar rekan penulis Eric Wuesthoff.

Jika jambu biji dimusnahkan, lemur akan kehilangan sumber pangan. Namun jika dibiarkan, hutan hujan asli Madagaskar mungkin tidak akan pernah pulih sepenuhnya. Kasus di Madagaskar ini menjadi pengingat penting bahwa restorasi alam adalah proses yang sangat kompleks dan penuh tantangan tersembunyi.

Studi ini telah dipublikasikan dalam jurnal Biological Conservation.(Earth/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya