Headline
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Kumpulan Berita DPR RI
UNTUK pertama kalinya, virus flu burung H5N1 yang mematikan dikonfirmasi menjadi penyebab kematian massal satwa liar di benua Antartika. Virus ini dilaporkan telah merenggut nyawa lebih dari 50 ekor burung Skua selama musim panas 2023-2024. Penemuan ini menandai babak baru yang mengkhawatirkan bagi ekosistem paling terisolasi di Bumi.
Dalam sebuah ekspedisi penelitian yang dipimpin Erasmus MC Belanda dan University of California, Davis, para ilmuwan menemukan pemandangan tragis di lapangan. Burung-burung Skua, predator laut yang kuat, ditemukan menderita gejala neurologis yang parah, mulai dari leher yang terpelintir, terbang berputar-putar tanpa arah, hingga jatuh begitu saja dari langit.
Meski peneliti juga memeriksa pinguin dan anjing laut bulu, burung Skua muncul sebagai korban utama, terutama di Pulau Beak. Sebagai pemakan bangkai dan predator, kebiasaan makan Skua diduga mempercepat risiko penularan virus ini ke seluruh benua.
Meskipun jejak H5N1 sempat terdeteksi pada awal 2024, studi yang diterbitkan dalam jurnal Scientific Reports ini adalah yang pertama membuktikan bahwa virus tersebut adalah penyebab langsung kematian.
"Kami tahu ada hewan yang terinfeksi, tetapi ini adalah studi pertama yang menunjukkan bahwa mereka mati akibat infeksi virus tersebut," ujar Ralph Vanstreels, dokter hewan satwa liar dari UC Davis One Health Institute. "Ini adalah pembeda yang penting pada hari-hari awal terjadinya wabah."
Matteo Iervolino, peneliti dari Erasmus MC, menyaksikan langsung bagaimana virus ini meluluhlantakkan populasi di Pulau Beak. H5N1 menyerang otak, menyebabkan burung-burung berjalan berputar-putar atau menabrak benda-benda di sekitar mereka. Vanstreels menggambarkan situasi ini sebagai "krisis penderitaan hewan."
Virus H5N1 sendiri memiliki sejarah panjang sejak pertama kali diidentifikasi pada tahun 1996 di peternakan angsa di Tiongkok. Setelah menyebar di peternakan, virus ini melompat ke populasi burung liar dan kini telah mencapai hampir seluruh benua di dunia kecuali Oseania.
"Kita membiarkan virus ini lolos dari genggaman saat pertama kali muncul di industri unggas," kata Thijs Kuiken, profesor di Erasmus MC. "Begitu masuk ke populasi burung liar, kita kehilangan kemampuan untuk mengendalikan virus ini."
Kehadiran flu burung menambah beban berat bagi satwa Antartika yang sudah berjuang melawan perubahan iklim, polusi, dan penangkapan ikan berlebih. Salah satu kendala utama dalam memantau dampak ini adalah minimnya data populasi terbaru; sensus terakhir burung Skua di Antartika dilakukan pada tahun 1980-an.
Para peneliti menekankan pentingnya peningkatan pengawasan dan pemantauan untuk menekan risiko penyebaran lebih lanjut. "Semuanya menunjukkan bahwa virus ini akan menyebar lebih jauh. Jika tidak ada yang mengawasi, kita tidak akan tahu apa yang sedang terjadi," pungkas Kuiken. (Science Daily/Z-2)
Peneliti simulasi wabah H5N1 pada manusia. Hasilnya, hanya ada jendela waktu sangat sempit untuk mencegah pandemi sebelum penyebaran tak terkendali.
Selandia Baru bersiap menghadapi ancaman flu burung H5N1 dengan memvaksinasi burung langka seperti kakapo.
Dua orang di Wyoming dan Ohio dirawat di rumah sakit akibat flu burung H5N1, menandai kasus pertama di kedua negara bagian tersebut.
Kembalinya virus flu burung yang sangat patogen (HPAI), khususnya galur H5N1, telah menimbulkan kekhawatiran serius di seluruh dunia.
Seorang warga Louisiana berusia di atas 65 tahun menjadi korban pertama yang meninggal akibat flu burung H5N1 di Amerika Serikat.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved