Headline

Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa. 

Reinventing Indonesian Identity Wujud Penguatan Indonesia sebagai Episentrum Peradaban Dunia

Indrastuti
12/2/2026 20:38
Reinventing Indonesian Identity Wujud Penguatan Indonesia sebagai Episentrum Peradaban Dunia
Ilustrasi(Dok Istimewa)

UPAYA reinventing Indonesian identity dinilai penting sebagai fondasi penguatan peradaban bangsa di tengah dinamika global. Terlebih, berbagai temuan dan jejak arkeologis menunjukkan Nusantara telah memainkan peran vital dalam evolusi dan perjalanan panjang peradaban umat manusia.

“Upaya reinventing Indonesian identity merupakan wujud nyata penguatan kembali posisi Indonesia sebagai episentrum peradaban dunia. Berbagai temuan dan jejak arkeologis membuktikan Nusantara merupakan panggung vital dalam evolusi dan peradaban umat manusia,” kata Menteri Kebudayaan Fadli Zon saat dikukuhkan sebagai Profesor Kehormatan (Prof Hon) dalam Sidang Terbuka Senat Akademik di Universitas Nasional (Unas), Jakarta, Rabu (11/2/2026). 

Lebih lanjut, ia menekankan Indonesia tidak dapat dipahami semata sebagai negara bangsa modern, melainkan sebagai peradaban-bangsa (civilizational-state) yang berdiri di atas fondasi megadiversity. Menurutnya, keberagaman etnis, bahasa, adat, dan tradisi yang terbentuk melalui proses sejarah panjang justru menjadi kekuatan strategis bangsa dalam memainkan peran penting politik kebudayaan dunia.

Fadli Zon juga menegaskan kebudayaan harus ditempatkan sebagai fondasi utama dalam pembangunan nasional. Menurutnya, budaya tidak hanya berfungsi sebagai kompas moral dan identitas bangsa, tetapi juga sebagai jalan tengah yang mampu menghadirkan solusi di tengah kompleksitas persoalan sosial, politik, dan ekonomi global.

“Budaya ialah sebuah ruang solusi yang melampaui dikotomi kekuasaan dan kepentingan. The Power of Culture menjadi fondasi dalam konstruksi identitas bangsa serta memastikan pembangunan ekonomi, sosial, dan politik berjalan seimbang, berkelanjutan, dan berakar pada jati diri bangsa,” ucapnya.

Rektor Unas El Amry Bermawi Putera menyampaikan pengukuhan Profesor Kehormatan kepada Menteri Kebudayaan Fadli Zon bukan sekadar seremoni akademik, melainkan bentuk penghormatan tertinggi terhadap dedikasi, integritas, dan kontribusi intelektual yang diberikan bagi bangsa dan peradaban.

“Pengukuhan ini kami maknai sebagai pengakuan akademik atas kerja panjang, ketekunan intelektual, serta konsistensi Dr Fadli Zon dalam memperjuangkan kebudayaan, sejarah, dan jati diri bangsa. Ini bukan sekadar penghargaan personal, tetapi juga pesan moral bahwa kebudayaan harus ditempatkan sebagai fondasi pembangunan peradaban Indonesia,” ujar El Amry.

Ia menambahkan kiprah Menteri Fadli Zon dalam pelestarian sejarah, penguatan literasi budaya, serta diplomasi kebudayaan nasional dan internasional menunjukkan keselarasan yang kuat dengan nilai-nilai Unas yang diwariskan Sutan Takdir Alisjahbana, salah satu pendiri Unas. Menurutnya, kontribusi itu melampaui batas sektoral dan administratif, menjangkau dimensi akademik, sosial, hingga peradaban global.

Lebih lanjut, El Amry berharap penganugerahan Profesor Kehormatan ini dapat memperkuat komitmen bersama antara dunia akademik, negara, dan para pemikir bangsa dalam membangun ekosistem kebudayaan yang inklusif, progresif, dan berkelanjutan.

Turut hadir pada pengukuhan tersebut, antara lain Ketua MPR RI Ahmad Muzadi, Menko Bidang Pangan Zulkifli Hasan, Menko Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan Yusril Ihza Mahendra, Kepala Staf Kepresidenan Muhammad Qodari, Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha, Kepala BRIN Arif Satria, jajaran Anggota DPR RI, guru besar dan sivitas akademika Unas, serta para duta besar negara sahabat. (H-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya