Headline
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Kumpulan Berita DPR RI
Dalam sejarah literatur dunia, jarang sekali ditemukan seorang penulis yang hanya menghasilkan satu novel namun namanya tetap abadi selama hampir dua abad. Emily Brontë adalah anomali tersebut. Di tahun 2026, ketika dunia kembali membicarakan karyanya melalui berbagai adaptasi film dan serial, sosok Emily tetap menjadi teka-teki yang menarik untuk dipecahkan. Siapakah sebenarnya wanita di balik karakter Heathcliff yang kelam?
Pada abad ke-19, dunia sastra Inggris sangat didominasi oleh laki-laki. Penulis perempuan sering kali dipandang sebelah mata atau karyanya dianggap terlalu emosional. Untuk memastikan karyanya dinilai secara objektif, Emily bersama saudara perempuannya, Charlotte dan Anne, menggunakan nama samaran laki-laki.
Emily memilih nama Ellis Bell. Penggunaan nama samaran ini bukan hanya karena alasan gender, tetapi juga mencerminkan sifat Emily yang sangat protektif terhadap privasinya. Ia tidak menginginkan ketenaran; ia hanya ingin suaranya didengar melalui tulisan tanpa gangguan dari publik.
Emily menghabiskan sebagian besar hidupnya di Haworth, sebuah desa terpencil di Yorkshire. Ayahnya adalah seorang pendeta, dan mereka tinggal di sebuah pastoran yang berbatasan langsung dengan padang rumput liar (moors).
Lingkungan inilah yang menjadi napas bagi Wuthering Heights. Bagi Emily, alam bukan sekadar latar belakang, melainkan kekuatan yang hidup, liar, dan tak terkendali. Sifatnya yang penyendiri membuatnya lebih suka menghabiskan waktu berjalan kaki di padang rumput daripada bersosialisasi dengan masyarakat setempat.
Banyak kritikus di masa lalu hanya melihat Wuthering Heights sebagai cerita tentang balas dendam. Namun, dari perspektif modern, Emily Brontë sebenarnya sedang melakukan dekonstruksi terhadap peran gender. Melalui karakter Catherine Earnshaw, Emily menunjukkan kemarahan seorang perempuan yang terperangkap dalam ekspektasi sosial Victorian yang kaku.
| Tahun | Peristiwa Penting |
|---|---|
| 1818 | Lahir di Thornton, Yorkshire, Inggris. |
| 1846 | Menerbitkan kumpulan puisi bersama saudara-saudaranya. |
| 1847 | Novel Wuthering Heights diterbitkan dengan nama Ellis Bell. |
| 1848 | Meninggal dunia pada usia 30 tahun karena tuberkulosis. |
Emily Brontë membuktikan bahwa kualitas jauh lebih penting daripada kuantitas. Meskipun ia hanya menulis satu novel, kedalaman emosi dan keberaniannya mengeksplorasi sisi gelap manusia membuat karyanya tetap relevan hingga tahun 2026. Ia tetap menjadi inspirasi bagi penulis yang merasa "berbeda" dan tidak cocok dengan norma masyarakat pada umumnya.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved